WHDI Kabupaten Gianyar Gelar Seminar Pranikah dan "Pap Smear"


(Foto: koran Balipost, Pemeriksaan dini potensi kanker leher rahim melalui pap smear sebagai rangkaian HUT ke-28 WHDI)

Gianyar - Menikah tidak sama dengan membeli baju yang begitu dicoba, cocok, langsung dibeli. Menikah harus penuh dengan pertimbangan dan persiapan yang matang baik secara fisik, mental, maupun finansial. Hal ini ditegaskan Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Gianyar Ny. Ambari Gaga Adi Saputra pada seminar Pranikah yang digelar terkait peringatan HUT ke-28 WHDI di Balai Budaya Gianyar, Selasa (23/2) kemarin.

Dikatakan, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang nomor 1 tahun 1974, menikah merupakan ikatan lahir batin antara suami dan istri yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Namun, menurut Ny. Ambari, mempertahankan kebahagiaan dan hubungan kekal inilah yang sangat sulit. Kadang pernikahan di usia mapan pun ada yang diguncang prahara, apalagi yang menikah di usia muda dan tanpa persiapan.

"Seminar ini kami gelar agar para remaja dapat mengetahui bagaimana peliknya sebuah pernikahan, bukan hanya muara cinta sesaat saja. Pernikahan itu sebuah amanah yang harus dipersiapkan dengan matang baik secara fisik maupun psikologis," tegas Ny. Ambari.

Selain seminar pranikah, peringatan HUT WHDI di Kabupaten Gianyar juga diisi kegiatan pemeriksaan pap smear/IVA bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar. Menurut Ny. Ambari Gaga, menjadi seorang perempuan itu harus tanggap dengan kesehatan diri. Kadangkala dengan kesibukan yang demikian padat, perempuan sering tidak peduli dengan kondisi tubuhnya.

Ketua WHDI Provinsi Bali Ny. Bintang Puspayoga yang hadir pada kesempatan itu juga sempat memberikan semangat pada ibu-ibu yang ikut pap smear. Menurut Ny. Bintang Puspayoga, perempuan harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Sebab, pemeriksaan yang sekitar 5 menit ini dapat menolong perempuan dari intaian bahaya kanker leher rahim.

Sementara itu, LA. Alit Maharani, narasumber dari Yayasan Sarwa Sukhinah Bhawantu Denpasar, yang membawakan materi tentang pernikahan dalam seminar, memaparkan, sebuah pernikahan itu bukan hanya bermodalkan cinta, namun harus dipersiapkan secara matang. Dalam kehidupan ada tahap-tahapan yang harus dilewati oleh setiap manusia. Kalau bisa setiap tahapan itu harus semua terlewati, jangan mandek di satu tahapan saja.

Misalnya pada tahapan brahmacari atau masa menuntut ilmu, manfaatkanlah tahapan ini untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Jangan pada tahapan menuntut ilmu, seseorang justru sudah masuk ke tahapan menikah.

Menurutnya, ada lima hal yang harus dipenuhi sebelum memasuki masa berumah tangga, yaitu agama, sehat reproduksi/fisik, persiapan secara psikologis karena akan memasuki sebuah peran baru, kesiapan secara finansial dan pemenuhan hak dan kewajiban secara hukum. Dan yang tak kalah penting, menurut Alit Maharani, ia menyarankan para remaja agar bisa memilih orang yang tepat untuk dicintai, agar tidak menyesal di kemudian hari.

Menurut salah satu peserta seminar Ni Wayan Eprilia Kartini Asih yang merupakan kader Pusat Informasi dan Konseling-Remaja (PIK-R) SMPN 3 Tegallalang, seminar tentang pranikah ini sangat perlu mengingat pergaulan remaja kini sudah kian mengkhawatirkan. Jika sudah diberikan gambaran tentang sebuah pernikahan dan semua permasalahannya, tentu mereka berpikir untuk menikah dini.

Selain seminar pranikah, peringatan HUT WHDI juga diisi dengan seminar etika berpakaian adat ke pura yang dibawakan I Made Sueca dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar. Seminar diikuti anggota WHDI Kabupaten/Kecamatan, DWP, FAD dan PIK-R jalur sekolah dan jalur masyarakat.

Sumber: Koran Bali Post, Rabu Wage, 24 Februari 2016