Umat Hindu Tengger Rayakan Hari Raya Yadnya Kasada

Probolinggo - Umat hindu suku tengger di Probolinggo, pada Sabtu 1 Agustus 2015 merayakan hari raya yadnya kasada, atau hari dimana warga wajib memberi sesembahan berupa hasil alam, dan ternak yang sudah disembelih kepada kawah gunung bromo. Seperti pesan dari legenda rakyat roro anteng dan joko seger, yang merupakan mayoritas masyarakatnya sebagai petani. Pada saat ritual di sekitar kawasan bromo terjadi kabut tebal dan suhu udara kisaran 2 hingga derajat selsius.

Persiapan warga suku hindu tengger yang bermukim di lereng gunung bromo, Probolinggo, merayakan hari raya yadnya kasada, dengan membawa sesaji berupa hasil bumi. Dan hewan ternak yang sudah disembelih, pada Sabtu itu, dengan berjalan kaki hanya menggunakan penerangan obor saja.

Sesaji-sesaji hasil bumi, yang biasa disebut ongkek ini, di kumpulkan di pura poten luhur, yang berada tepat di bawah kawah gunung bromo. Perayaan hari raya yadnya kasada sendiri di ikuti, warga hindu tengger dari 4 kabupaten, Pasuruan, Lumajang, Malang, serta Probolinggo sendiri. Sesaji-sesaji tersebut berupa, sayur-mayur serta buah-buahan, sebelum di korbankan, sesaji-sesaji tersebut terlebih dulu didoakan oleh masing-masing dukun pandita , dari desa masing-masing.

Hari raya yadnya kasada, berawal dari cerita rakyat suku tengger, yang mengkisahkan Roro Anteng dan Joko Seger, keduanya pasangan suami istri. Joko seger merupakan anak manusia yang berwibawa dan berbudi luhur, sedangkan Roro Anteng merupakan titisan Dewi. Pasangan suami istri tersebut lama tak mempunyai keturunan.

Akhirnya, Pasutri ini, bertapa dan berjanji pada sang Hyang Widi, jika mempunyai anak banyak, maka anak yang terkahir akan di korbankan ke kawah gunung bromo. Saat itulah anak terkahir pasutri tersebut, hilang di gunung bromo.

Sebagai bentuk kehormatan, warga tengger mengorbankan hasil bumi ke kawah gunung bromo, pada bulan kasada kalender suku tengger, agar warga tentram, damai dan hasil pertanian bisa melimpah. Sebagai rangkaian upacara tersebut, juga di kukuhkan dukun untuk memimpin hari raya kasada untuk tahun berikutnya.

Meski pada saat jalannya ritual cuaca esktrim terjadi di wilayah bromo khususnya di sekitar pura yang tertutup kabut tebal, namun tak mengurangi kekhidmatan ritual. Di kawasan pura poten luhur, suhu udara kisaran 2 hingga 5 derajat selsius, dengan jarak pandang tidak sampai 10 meter. Paula, wisatawan dari meksiko mengaku sangat kagum kultur warga suku tengger dan ia baru pertama kalinya melihat gunung bromo dari dekat.

Akhirnya tepat pukul 5 pagi pada hari Minggu 2 Agustus 2015, atau sebelum matahari terbit, sesaji-sesaji hasil bumi dibawa ke kawah gunung bromo, dan selanjutnya di larung. Masyarakat, suku Tengger mempercayai, jika tidak memberi sesembahan, maka kawah gunung bromo akan murka dan menghancurkan warga suku tengger.

Sumber: http://birojember.com