Saatnya Kaum Moderat Bergerak

Depok - Untuk meredam perkembangan radikalisme di media sosial, kaum berpandangan moderat harus bergerak untuk mempromosikan toleransi. Semakin banyak materi yang baik di internet, semakin menyokong kehidupan yang damai dan saling menghargai.

Pesan ini disampaikan Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid dalam Kuliah Hikmah Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia (AWC-UI) bertajuk "Teknologi dan Kreativitas :Memopulerkan Islam Damai untuk Indonesia" di Universitas Indonesia (UI), Depok Jawa Barat, Kamis (3/9). Hadir juga pembicara lain, penulis biografi KH Abdurrahman Wahid dari Monash University, Australia, Greg Barton; pendiri Yayasan Fahmina Husein Muhammad; dan pendiri Radical Middle Way di Inggris, Abdul Rehman Malik.

"Simpatisan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), misalnya mereka bangun pagi langsung memikirkan paham radikal mana yang bisa disebar. Dengan telepon pintar, secara masif mereka menyebarkan paham tersebut melalui media sosial," kata Yenny. Mereka aktif memanfaatkan internet untuk memendarkan kekerasan.

Saat bersamaan, kaum Muslim moderat kurang serius menyebarkan hal yang baik di media sosial. "Bisa saja kelompok mayoritas di dunia nyata akan dikalahkan kelompok minoritas yang aktif menyebarkan informasi di dunia maya," katanya.

Dalam situasi ini, lanjut Yenny, kaum moderat dituntut lebih aktif bergerak menyuarakan pesan perdamaian. Masyarakat perlu diberi informasi yang memadai dan berimbang. Menurut Abdul Rehman Malik, saat ini senjata tajam bagi kelompok radikal bukanlah pisau atau pistol, melainkan telepon pintar yang dapat menyebarkan konten kebencian. Pemikiran intoleran dan ekstrem menjadi ciri khas mereka.

Masalah ketidakadilan

Secara terpisah, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin mengungkapkan, semua bangsa di dunia sekarang menghadapi ketidakadilan, kekerasan, dan kemiskinan. Masalah ini dapat diatasi, antara lain melalui dialog antarkelompok beragama sehingga semua kelompok bisa hidup berdampingan secara damai. "Dialog ditujukan agar kita bisa hidup berdampingan. Dialog membawa semangat kebersamaan untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan.," katanya dalam Dialog Perdamaian Aliansi Agama Dunia bertajuk "Bring the Unity of Religions" di Jakarta.

Dialog tersebut diprakarsai Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light, organisasi perdamaian Korea Selatan. Acara ini menghadirkan perwakilan agama-agama di Indonesia, yakni KH Muhyddin Junaidi (Islam), Uung Sendana (Confusian), Suprih Suhartono (Aliran Kepercayaan), Yanto Jaya (Hindu), Rusli Tan (Buddha), dan Joseph Jeong (Kristen).

Sumber: Koran Kompas, Jumat 4 September 2015