"Nedunang" Sang Hyang Jaran di Pura Penataran Sasih


(Foto: koran balipost, Prosesi nedunang Sang Hyang Jaran di Pura Penataran Sasih)

Gianyar - Prosesi nedunang Sang Hyang Jaran serangkaian Karya Panca Wali Krama dilaksanakan di Pura Penataran Sasih Pejeng, Senin (22/2) malam. Pada prosesi yang dilaksanakan setelah 50 tahun vakum ini, sembilan warga mengalami trance sembari menarikan tarian Sang Hyang Jaran yang diisi dengan saling lempar bara api.

Pantauan di Pura Penataran Sasih Pejeng, Senin malam sekitar pukul 20.00 wita, ribuan pamedek yang sudah memenuhi halaman jeroan pura, tampak hening dan khusyuk menanti prosesi 'nyanjan' yang dilaksanakan sejumlah pemangku di hadapan palinggih Ratu Sanghyang. Pukul 20.45 wita, prosesi pun dimulai dengan pengucapan mantra-mantra permohonan oleh para pemangku. Prosesi ini bertujuan untuk memohon agar Ratu Sang Hyang Jaran bersedia untuk tedun. Mendadak kilatan petir pun mengejutkan ribuan warga, ditambah embusan angin sepoi menjadi tanda alam tedun-nya. Ratu Sang Hyang Jaran.

Beberapa menit kemudian, seorang pamedek mengalami trance. Para pangayah selanjutnya membawa pamedek ini ke areal palinggih Ratu Sang Hyang yang di depannya sudah disiapkan bara api dari batok kelapa. Kuda-kuda kayu langsung diberikan kepada pamedek yang mengalami trance. Selanjutnya dia menari dan mengaduk bara api dengan kaki telanjang.

Prosesi yang berlangsung sekitar 1,5 jam ini, total sembilan warga yang delapan di antaranya perempuan kemasukan roh Sang Hyang Jaran. Mereka pun menari bak kuda dan saling lempar bara api yang sedang menyala. Bahkan dengan kaki telanjang, mereka pun tampak menendang api hingga membuat warga sedikit demi sedikit menjauhi lokasi.

Nyanyian gerong dan cak kian menambah suasana mencekam. Sementara tarian Sang Hyang Jaran yang semakin mengganas, menari seperti kuda liar, para penari sama sekali tak mengalami luka ataupun terbakar meskipun menginjak api dalam kondisi kaki telanjang. Bahkan, pakaiannya pun sama sekali tak terbakar sedikit pun. Rangkaian terakhir prosesi ini, seluruh penari langsung disadarkan dan kemudian menuju Pura Taman untuk melakukan panglukatan.

Bendesa Pakraman Jero Kuta Pejeng Cok Gde Putra Pemayun mengatakan, pementasan tarian sakral ini kembali dilakukan setelah 50 tahun. "Sebelumnya kami sudah menggelar rapat dengan pemuka desa terkait rencana nedunang Sang Hyang Jaran ini, termasuk mempersiapkan gerong dan tarian cak," ujarnya.

Hingga akhirnya disepakati untuk kembali nedunang Sang Hyang Jaran setelah dipastikan syair lagu yang akan dinyanyikan gerong sesuai dengan yang sebelumnya. Pihaknya pun mengharapkan tarian sakral ini bisa diwarisi para generasi muda Pejeng untuk tetap dilestarikan. "Tarian sang Hyang Jaran ini merupakan tari sakral sehingga wajib untuk dilestraikan generasi penerus," ujarnya.

Sementara itu, budayawan Dr. A.A. Gde Raka, M.Si. mengatakan, prosesi nedunang Sang Hyang Jaran merupakan ritual yang patut diteruskan kepada generasi selanjutnya. Ia pun berharap bila prosesi ini bisa dilaksanakan maksimal dua tahun sekali. "Ini kan baru dilaksanakan 50 tahun lalu, sehingga rentang waktunya panjang sekali. Alangkah baiknya jika ini menjadi tradisi yang rutin dilaksanakan setiap dua atau lima tahun sekali agar bisa disaksikan dan diteruskan oleh anak kita, tentunya dengan terlebih dahulu matur piuning memohon petunjuk di palinggih Ratu Sanghyang," kata dosen Universitas Warmadewa ini.

Sumber : Koran Balipost, Rabu Wage 24 Februari 2016