“Tenget”-nya Pura Petitenget

Salah satu Pura Dhang Kahyangan yang berada di Kabupaten Badung adalah Pura Petitenget. Pura ini terletak di Banjar Batu Belig, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Badung.
 
Pura yang ada hubungannya dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra ini di-empon oleh 50 banjar adat se-Desa Adat Kerobokan, Badung. Kenapa disebut Pura Petitenget?

Pura Petitenget berlokasi di tempat strategis, tak jauh dari pinggir Pantai Petitenget, pantai yang berpasir putih. Di jaba sisi terdapat tempat parkir yang cukup luas. Memasuki areal pura, pemedek melewati jalan di sebelah selatan pura dan keluar melalui jalan utara pura. Di halaman terluar pura berdiri wantilan yang cukup besar.
 
Memasuki madya mandala pura, pemedek melewati apit surang dengan beberapa anak tangga. Pura Petitenget berdampingan dengan Pura Masceti-Ulun Tanjung, berdiri dalam sebuah areal. Pura Petitenget berada di sebelah utara, sedangkan Pura Masceti berdiri di selatan. Untuk bisa sampai ke utama mandala, pemedek mesti melewati apit surang. Masing-masing pura memiliki apit surang menghadap ke barat. Sedangkan menuju utama mandala, pemedek melewati kori agung. Kedua pura ini tampak asri dan bersih, di depannya ditumbuhi pohon yang cukup rimbun.

Bendesa Adat Kerobokan A.A. Kompyang Suteja mengatakan pura ini dibangun atas petunjuk Dhang Hyang Dwijendra sekitar tahun 1549. Berdasarkan cerita, katanya, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pura Uluwatu, Dhang Hyang Dwijendra sempat bercengkrama dengan Ida Batara Masceti di sekitar lokasi Pura Petitenget, membicarakan tentang banyak hal, seperti indik pamargin jagat, kediatmikan, upacara-upakara, bhisama dan sebagainya. Namun pembicaraan keduanya itu sempat diintip oleh makhluk gaib yang disebut Bhuta Ijo dari balik semak-semak. Ketahuan mengintip, Bhuta Ijo langsung diberi mandat untuk menjaga peti pecanangan Dhang Hyang Dwijendra. Bhuta Ijo pun diberi kadiatmikan agar mampu nengetang peti tersebut. Dari sinilah cikal-bakal lahirnya nama Pura Petitenget.
Ketika itulah sesungguhnya sudah ada bhisama tentang di mana lokasi yang tepat membangun parahyangan, pawongan dan palemahan yang kini dikenal dengan konsep Tri Hita Karana (THK).

Singkat cerita, Dhang Hyang Dwijendra melanjutkan perjalanan menuju Uluwatu. Sepeninggal Dhang Hyang Dwijendra ke wilayah perbukitan kapur di Bali Selatan, Bhuta Ijo dengan setia menjaga wilayah tersebut. Tetapi, masyarakat rupanya ada yang tidak mengetahui bahwa wilayah yang dijaga makhluk gaib itu tenget. Suatu ketika ada anggota masyarakat yang datang ke sana dengan tujuan mencari kayu bakar, memetik dedaunan dan sebagainya. Tetapi aneh, setelah datang dari sana orang tersebut langsung jatuh sakit.

Kasus seperti itu berulang terjadi. Berita tersebut tersiar luas. Akhirnya, Klian Kerobokan bersama tokoh masyarakat tangkil menemui Dhang Hyang Dwijendra di Uluwatu mohon petunjuk. Di sana Klian Kerobokan diberi tahu bahwa wilayah itu ditempati oleh Bhuta Ijo yang diberi mandat menjaga peti pecanangan-nya. Agar makhluk gaib itu tidak lagi mengganggu atau mengusik ketenangan masyarakat, disarankan untuk melakukan persembahan berupa lelaban setiap Tilem Kawulu, masarana sampi selem batu, lengkap dengan ajeng-ajengan cacahan. Sedangkan pada Purnama Kesanga diaturkan upakara lelaban penangluk merana, supaya palemahan (tanaman pertanian) tidak diserang hama penyakit. Lelaban dalam upacara nangluk merana itu maserana sampi biyang, belang kebangsapi yang sudah beranak, ada tompel di balik paha atau lengannya.

Mulai saat itulah akhirnya dibangun Pura Petitenget, yang sampai saat ini sudah mengalami renovasi beberapa kali. Piodalan di Pura Petitenget setiap Buda Wage Merakih, yang kali ini jatuh pada Rabu (26/1) ini. Kata A.A. Kompyang Suteja, piodalan kali ini menggunakan tingkatan upakara pregembal. Rangkaian upacara pada puncak piodalan akan berlangsung sampai malam. Ida Batara akan nyejer sampai tanggal 29 Januari.

Di Pura Petitenget terdapat pelinggih Gedong stana Dhang Hyang Dwijendra, Meru Tumpang Lima linggih Ida Luhuring Dalem Solo, Majapahit dan Mekah. Di situ juga terdapat pelinggih Catu Meres, Catu Mujung, pelinggih Padma Campah, Naga Gombang dan Padmasana. Pura Petitenget merupakan salah satu parahyangan tempat nunas kerahayuan, kesejahteraan dan keteduhan jagat.

Sumber: Koran Balipost Minggu, 23 Januari 2011