Siwa Sebagai Pemberi Anugerah: Memaknai Perayaan Sivaratri

Bilamana dibaca beberapa sumber suci agama Hindu, di antaranya Veda, Itihasa, Upanisad, Purana, dan sumber suci lainnya, maka dengan jelas dijarkan bahwa Sang Hyang Siva adalah nama Tuhan dalam agama Hindu yang juga bergelar Brahman. Namun demikian bagi umat Hindu sering juga memberi nama atau gelar yakni Prabhu, Bhagavan, dan kalau di Indonesia maka Beliau digelari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya kalau dibaca lagi secara lebih seksama, misalnya dalam pustaka suci Purana atau Mahapurana, maka ada banyak diajarkan tentang teologi Hindu (Brahma Widya) terutama mengenai Deva Siwa.

Demikian halnya bahwa pada perayaan Sivaratri yang dirayakan oleh umat Hindu di seluruh dunia, termasuk juga dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia pada setiap Purvani Tilem Sasih Kapitu, maka Deva Siva diyakini oleh umat Hindu sebagai pemberi anugerah. Bagaimana wujud anugerah Beliau kepada pemuja-Nya, sekilas mari simak paparan kecil ini.

Dalam Vayu Purana ada diajarkan bagaimana keagungan Deva Siva ketika bersama ketiga Deva yang lainnya dalam tri murti yakni Deva Brahma, Deva Visnu, dan Deva Siva sendiri. Dalam sumber ini dijelaskan bahwa bermula dari keingintahuan dari Deva Visnu tentang apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh Deva Brahma. Dari rasa ingin tahu tersebut, maka akhirnya Deva Visnu secara perlahan-lahan untuk memasuki perut Deva Brahma, begitu sebaliknya Deva Brahma pun akhirnya bergantian untuk memasuki perut Deva Visnu untuk membuktikan tentang keindahan alam yang ada di tengah perutnya masing-masing.

Dalam perutnya itu dijumpai pohon teratai (padma) yang indah dan mengagumkan. Namun apa yang terjadi akhirnya Deva Brahma tidak bisa keluar sama sekali dari perut Deva Visnu. Akhirnya Deva Brahma punya akal yang jitu dengan mengecilkan badannya dengan cara menduduki bunga teratai yang ada di tengah perut Deva Visnu, yang akhirnya bisa keluar melalui pusar-Nya dengan selamat, saat itulah akhirnya Deva Brahma dinamai Padmayoni. Setelah perbincangan antara Deva Siva di antara perbicangan kedua Deva itu. Saat itu baik Deva Visnu dan Deva Brahma akhirnya menyembah Deva Siva serta dengan keagunyan-Nya akhirnya memberikan anugerah berupa kerahayuan serta telah memaafkan kehilafan yang dilakukan oleh Deva Visnu dan Deva Brahma yang selanjutnya telah berjanji untuk berbhakti dan hormat kepada Deva Siva.

Kemudian dalam pustaka suci Brahmavaivarta Purana, juga ada diajarkan bahwa kemurahan Deva Siva untuk memberikan anugerah kepada seorang pertapa (tapasya) yang tiada lain adalah seorang asura yang bernama Vrka. Memang Deva Siva adalah Deva yang maha pemurah dan dapat memberikan anugerah kepada para pemuja-Nya tanpa syarat yang berat dan menyulitkan. Demikian juga dalam pustaka ini dijelaskan bahwa asura itu telah diberikan anugerah berupa kekuatan yang maha dahsyat yakni tatkala tangan dari asura itu bilamana diletakkan di atas kepala seseorang, maka orang itu akan hancur menjadi abu.

Di balik itu, Deva Siva tidak mengetahui bahwa asura tersebut memiliki niat jahat kepada Deva Siva. Kesaktian yang diterima sebagai anugerah dari Deva Siva, maka asura Vrka ingin mengujinya kepada Deva Siva sendiri. Saat itulah Deva Siva merasa kewalahan yang lari terbirit-birit untuk mohon perlindungan kepada Deva Visnu dan bersyukur berkat kearifan dan kemurahan hati Beliau, akhirnya Deva Siva diselamatkan oleh Deva Visnu. Asura Vrka itu dibohongi oleh Deva Visnu bahwa anugerah yang telah diberikan oleh Deva Siva tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Deva Visnu menyuruh Asura Vrka untuk mencobanya menaruh tangannya di kepalanya sendiri. Hal itu dilakukan oleh Asura Vrka, maka saat itulah Asura Vrka menjadi hancur terbakar menjadi abu. Begitulah perilakunya yang jahat yang diterima sendiri pahalanya yang tidak mensyukuri anugerah yang telah diberikan oleh Deva Siva.

Sedangkan dalam pustaka suci Skanda Purana, ada diajarkan bahwa ada tiga sifat dasar yang tidak dipisahkan yakni sattwa (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kegelapan). Semua ciptaan (krti atau prakrti) di dunia memiliki ketiga sifat tersebut. Dari tiga sifat itu, maka Tuhan Yang Maha Esa (Deva Siva) memberikan kekuatan (sakti) kepada setiap ciptaan itu. Pada saat peleburan (pralina) oleh Deva Siva itu, maka ketiga sifat dasar (triguna) dan kekuatan (sakti) menjadi satu kekuatan yang maha dahsyat yakni paramatman.

Terjadinya proses penyatuan dan pemisahan dari semua ciptaan ini berada di nyasa. Beliau yakni Linga yang tidak memiliki sifat apa-apa yang dinamai nirguna. Oleh karena Linga itu merupakan perwujudan yang tertinggi, maka nyasa itu sebagai tempat suci dan dimuliakan maupun sebagai nyasa pemujaan kepada Deva Siva dalam bentuk Linga yang maha agung. Jadi dalam sumber ini dinyatakan bahwa Linga tersebut nyasa Deva Siva yang maha agung. Selain beliau memiliki kekuatan yang maha agung, juga sebagai maha pengasih, maha penyayang, maha pelindung, maha pemberi anugerah, serta Deva Siva merupakan mewujudkan diri-Nya dalam bentuk Linga yang tanpa berpribadi. Itulah sebabnya Beliau dihormati dan dipuja di tempat-tempat suci dalam bentuk Linga sebagaimana halnya pada saat hari suci Sivaratri puja.

Sedangkan pada pustaka suci Vamana Purana ada diajarkan bahwa Deva Siva melakukan tapasya untuk melepaskan segala dosanya. Tempat-tempat suci yang dipilih adalah sungai Yamuna, sunga Sarasvati, dan sungai Gangga. Pada tempat suci itulah Beliau melakukan penyucian. Selanjutnya Beliau bertemu Deva Visnu dan memberikan petunjuk agar Deva Siva segera datang ke daerah Varanasi yang juga dinamai kota Kashi atau kota Siva. Bertempat di kota Varanasi itulah akhirnya melepaskan semua dosanya, tepatnya di campuhan (sanggam) sungai Vara dan sungai Asi.

Kota ini adalah salah satu kota suci Hindu di Bharatiya atau di Jambhu Dvipa. Oleh karena getaran kesuciannya itu, dikisahkan bahwa Deva Siva berhasil melepaskan segala kekotorannya (dosa) terutama dosanya pada brahmana yang telah dibunuhnya (brahmanahatya). Adapun nama air suci (tirtha) yang dipakai untuk penyucian itu adalah bernama tirtha dasasvamedha. Air suci tersebut diletakkan atau disiratkan di kepalanya, yang akhirnya segala dosanya menjadi terlepas, maka air suci tersebut dinamai Tirtha Kapala-Mocana. Demikian Deva Siva melakukan pemujaan dan penyucian diri di kota Varanasi yang saat kini lebih dikenal sebagai kota Siva oleh umat Hindu di Bharatiya.

Dalam pustaka suci Kurma Purana dijelaskan mengenai perbincangan antara Deva Brahma, Deva Visnu, dan Deva Siva. Pada saat perbincangan itu adalah membicarakan tentang penciptaan di dunia ini. Deva Visnu menyatakan bahwa Deva Brahma terlahir dari perut-Nya melalui pusarnya dengan sarana teratai. Perbincangan Deva Brahma dengan Deva Visnu berlangsung dengan damai. Keduanya menyatakan diri sebagai Hyang Maha Kuasa dan sama-sama memiliki kekuatan sebagai Brahman. Untuk itu Deva Visnu mengingatkan kepada Deva Brahma agar tidak lupa memuliakan dan memuja Deva Siva. Di balik itu akhirnya muncullah Deva Siva di antara Deva Brahma dan Deva Visnu.

Deva Siva dengan kekuatan mata ketiganya yang maha suci dan maha cahya yang terletak di bagian tengah dahinya dengan membawa senjata trisula dan saat itu Deva Siva mendekati Deva Brahma yang akhirnya dengan kemuliaan Deva Brahma, maka akhirnya Deva Siva memberikan anugerah kepada Deva Brahma berupa mata ketiga juga, sehingga kesaktian Deva Brahma tidak menyalahi kesaktian dari pada Deva Siva. Demikianlah makna pemujaan suci kepada Deva Siva yang sesungguhnya Beliau adalah sebagai Tuhan Yang Maha Pemberi Anugerah kepada setiap pemujanya.

Sedangkan dalam pustaka suci Brahmanda Purana diajarkan pula mengenai kemurahan dan keagungan Deva Siva. Bagaimana keagungan Beliau itu? Dalam sumber ini dijelaskan bahwa tenggorokan Deva Siwa berwarna biru. Mengapa hal ini sampai terjadi. Devi Parvati mengisahkan bahwa para dewa dan raksasa suatu waktu bersama-sama mengaduk lautan susu untuk mencari tirtha amrtha, minuman surgawi pemberi kehidupan, yang hanya dapat diperoleh dengan mengaduk lautan susu itu (samudra manthana). Dalam proses pengadukan lautan susu untuk mencari tirtha amrtha tersebut, maka pada awalnya yang keluar adalah racun yakni racun kalakuta. Saat pengadukan lautan itulah akhirnya Deva Brahma memuja Deva Siva untuk memohon agar racun tidak membahayakan para dewa dan raksasa.

Saat itu akhirnya Deva Siva meminum racun yang ada di lautan itu. Oleh karena Deva Siva meminum racun itu, maka menjadi birulah tenggorokan Deva Siva. Apa yang menjadi keagungan dari Deva Siva sesuai sumber ini adalah Beliau dengan tulus memberikan anugerah untuk menyelamatkan para dewa dan asura untuk mencari tirtha amrtha dengan anugerah suci bagi keselamatan bagi semuanya.

Bila dibaca dalam pustaka suci Arjuna Vivaha, maka dalam sumber tersebut diajarkan bahwa Sang Arjuna yang melakukan tapasya di gunung Indrakila, berkat dengan ketekunan, keuletan, kesucian, serta kesungguhan hatinya, maka Deva Siva dapat hadir untuk memberikan anugerah panah pasupati kepada Sang Arjuna, sehingga segala musuh dan prilaku durhaka, lobha, prilaku keras, sadis, angkuh, jagat, suka mengacau, dan sejenisnya dapat ditundukkan dan dikalahkan oleh Sang Arjuna.

Kemudian dalam sumber suci Sivaratrikalpa juga diajarkan bahwa Si Lubdhaka yang memiliki profesi sebagai juru boros (pemburu), berkat ketekunan dan kesucian hatinya untuk memuja Deva Siva pada saat purvani tilem sasih kapitu yakni pada saat hari suci Sivaratri, maka akhirnya semua kesalahannya (dosa-dosanya) dapat diampuni serta dia dapat diterima di sorga. Begitulah anugerah suci Deva Siva kepada Si Lubdaka. Demikianlah bahwa Deva Siva sebagai pemberi anugerah kepada para pemuja-Nya.

Source: I Ketut Subagastia l Warta Hindu Dharma NO. 493 Januari 2008