Prakrti

Ketika sperma (Sansekerta : sukra, Bali: sukla) dan telur (Sansekerta: sonita, Bali : swanita) bersatu di dalam alat kandungan membentuk janin (embrio, zygote), dosa menentukan keadaan jasmani atau konstitusi fisik (prakrti) dari janin. Prakrti adalah keadaan jasmani, atau konstitusi dari tubuh manusia.

Pada prinsipnya ada empat faktor utama yang berpengaruh terhadap prakrti seseorang yakni:

1. faktor bapak (purusha)
2. faktor ibu (pradana)
3. faktor keadaan alat kandungan ibu dan musim (kundha kacupumanik dan rtu)
4. faktor makanan ibu selama hamil (ahara)

Tipe tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh bapak dan ibunya. Bila bapak dan ibunya fisiknya tinggi besar dan kulitnya putih, maka kemungkinan besar tubuh anaknya akan tinggi besar dan kulitnya berwarna putih. Demikian pula mentalnya. Bapak dan ibu yang temperamental anaknya juga akan sama sifatnya. Seorang ibu yang mengandung pada waktu musim hujan (varsa) dibandingkan dengan mengandung pada musim panas (grisma) akan melahirkan bayi yang lain sifatnya. Semua kejadian ini akibat terganggunya keseimbangan unsur tri dosha yang ada di dalam tubuh janin maupun ibunya.

Jika keseimbangan antara ketiga unsur tri dosha sangat terganggu, keadaan ini amat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin, yang masih berada di dalam kandungan. Bahkan dapat menyebabkan terjadi bentuk yang salah atau cacad dari janin.

Bila hanya terjadi gangguan pada satu atau dua unsur dosa yang sifatnya hanya sedang, akan mempengaruhi jasmani atau konstitusi fisik (prakrti) dari janin. Kondisi ini akan tetap berada dalam diri seseorang selama hidupnya. Tidak akan berubah selama ia hidup di dunia ini. Dalam keadaan ini ada tujuh tipe dasar keadaan jasmani, kondisi fisik atau prakrti tubuh:

1. Vata atau Vayu-Prakrti
2. Pitta-Prakrti
3. Kapha-Prakrti
4. Vata-Pitta-Prakrti
5. Pitta-Kapha-Prakrti
6. Kapha-Vata-Prakrti
7. Sama-Prakrti (seimbang). Inilah keadaan jasmani yang terbaik, tetapi jarang ada.

Seseorang yang memiliki Vata-Prakrti bila terkena penyakit tipe vata (vayu) keadaan akan lebih parah serta sulit disembuhkan, dibandingkan dengan terkena penyakit akibat gangguan pada kedua unsur dosa lainnya yang lebih mudah untuk disembuhkan. Oleh sebab itu bagi mereka yang memiliki keadaan jasmani tipe tersebut agar berusaha untuk menghindari faktor yang menyebabkan kenaikan vayu atau vata.

Seseorang dengan kondisi fisik Pitta-Prakrti lebih mudah terkena gangguan akibat penyakit tipe pitta, dan kondisi tubuh tipe Kapha-Prakrti harus lebih berhati-hati terhadap gangguan penyakit tipe kapha.

Berdasarkan hal ini pengobatan melalui Ayurveda selalu diberikan menurut keadaan jasmani atau konstitusi tubuh si sakit. Obat kinine misalnya, akan lebih aman bila diberikan kepada mereka yang bertipe tubuh Kapha-Prakrti. Kurang cocok diberikan kepada mereka yang bertipe tubuh Vata-Prakrti, dan malahan akan memperparah kalau diberikan kepada mereka yang bertipe tubuh Pitta-Prakrti.

Komposisi Janin

Jiwa atau jivatman dari kehidupan masa lalu memasuki unit persatuan sperma dengan telur agar bernyawa. Inilah yang disebut embrio.

sperma + telur
    ll             ll
Bapak         ibu

Jiwa amat berperanan dalam hal ini, karena memberikan vitalitas atau kehidupan kepada embrio. Sperma dan telur berasal dari bapak dan ibu, masing-masing memiliki komposisi mahabhuta yang spesifik atau khusus. Panca mahabhuta ini terdiri atas unsur akasa (hampa), teja (sinar, panas), vayu (udara, angin, gas), apah (air, cairan) dan perthivi (bumi, zat padat).

Nutrisi atau makanan bagi janin selama berada di dalam kandungan, disediakan oleh ibu melalui tali pusat. Makanan ini disesuaikan dengan komposisi mahabhuta yang ada pada janin.

Jiwa atau jivatman, pikiran (manas), inetelek (buddhi) dan empat mahabhuta (prthivi, jala, teja dan vayu) tetap tertahan belum dapat masuk ke dalam sel janin. Setelah waktunya tepat barulah kemudian masuk ke dalam sel. Aktivitas dari jiwa, pikiran, budhi dan keempat unsur mahabhuta dimulai setelah umur janin 4 bulan. Semasih akasa-mahabhuta berada di mana-mana di dalam tubuh janin takkan terjadi perpindahan dari unsur-unsur tersebut.

Source: Ngurah Nala l Warta Hindu Dharma NO. 493 Januari 2008