Pakraman = Pasraman

Konsep Desa Pakraman sebagai teritori yang dikenal juga dengan nama Desa Adat, merupakan gagasan Mpu Kuturan yang sejatinya mengonstruk model sistem pendidikan Pasraman. Mpu Kuturan (nama lain Mpu Rajakertha), sebenarnya seorang pemeluk Buddha Mahayana, yang datang dan tiba di Bali tahun 1001 M (Saka 923) pada zaman pemerintahan Raja Udayana dari dinasti Warmadewa. Pada masa itu Mpu Kuturan diposisikan selaku guru besar agama Siva dan Buddha, sekaligus diangkat sebagai Senapati merangkap Ketua Majelis Pekirakiran Ijro Makabehan (Dewan Penasehat) yang beranggotakan seluruh senapati, para Pandita Dangacarya dan Dangupadhyaya (Siva dan Buddha).

Gagasan monumental Mpu Kuturan yang berpengaruh besar dalam perkembangan Hindu di Bali adalah konsep pemujaan Tri Murti, yang nantinya direalisasikan di setiap Desa Pakraman dengan mendirikan Tri Kahyangan (Pura Desa tempat memuja Dewa Brahma, Pura Puseh tempat memuja Dewa Wisnu, dan Pura Dalem tempat memuja Dewa Siwa). Turunan konsep pemujaan di tingkat Desa Pakraman itu, kemudian mengejawantah juga di tingkat keluarga (rumah tangga) yang dikenal dengan nama Sanggah/Mrajan, selain berfungsi sebagai tempat suci pemujaan leluhur (Bhatara-Bhatari), juga untuk "pengayatan" Dewa Tri Murti.

Selanjutnya, untuk membangun kehidupan di Desa Pakraman agar ajeg harmonis, Mpu Kuturan juga melengkapi tatanan aturan yang belakangan populer disebut Awig-Awig, termasuk mengenalkan Subak, hingga menjadi satu kesatuan kehidupan masyarakat Bali yang berkarakter sosialistis-agraris-religius. Inilah cikal bakal bangunan Desa Pakraman yang oleh Mpu Kuturan sekaligus dikonstruksi sebagai Desa Pasraman, suatu wilayah atau mandala yang tidak sekedar bersifat fisikal-material sebagai sebuah kawasan geografis dan demografis, tetapi sekaligus sebagai lingkungan pedagogis-religis (pendidikan kerohanian/ keagamaan).

Paparan di atas, hendak menegaskan, apa yang disebut dengan Desa Pakraman sesung-guhnya adalah Desa Pasraman-Pasraman itu sendiri. Artinya, Desa Pakraman yang jumlahnya ribuan di Bali, sejak awal memang dikonsepsikan sebagai kawasan edukasi (pendidikan), suatu wilayah (wewidangan) dimana kegiatan krama (umat Hindunya) sepenuhnya berada pada ruang dan waktu berbasis sosialistis-agraris (komunal-kolegial-agrikultural) serta berorientasi religis-spiritualistis (kerohanian-keagamaan), sebagai manifestasi sraddha-bhakti umat, dengan parikrama (aktivitas) kehidupan sehari-hari.

Boleh jadi karena kurangnya pengetahuan tentang konsep Desa Pakraman sebagai Desa Pasraman, menjadikan wajah dan tampilannya kini tak lebih sebagai wilayah pemukiman dengan penduduknya yang berlatar belakang beragam, tetapi dengan basis kepentingan individual-sosial serta berorientasi material finansial. Jangan heran, segala aktivitas berkehidupan di Desa Pakraman sekarang, bertolak belakang dengan konsep Pasraman, bahkan semakin jauh dari sentuhan pedagogis-religis-spiritualistis. Keberadaan Tri Kahyangan di setiap Desa Pakraman sebagai penciri aspek pedagogis-religis, cenderung super sibuk dengan urusan parahyangan, dalam bentuk aktivitas ritual (di Pura dengan upacara dan upakara), dibandingkan dengan melakukan pembinaan krama/umat lewat pembelajaran agama Hindu, sebagaimana menjadi kegiatan inti Pasraman.

Begitupun di ranah pawongan, yang semestinya terbangun relasi antar krama/umat dalam situasi sinergis dan harmonis, berdasar ajaran tat twam asi, kini cenderung lebih fokus pada urusan "wang" (uang) bukan "wong" (memanusiakan manusia). Apalagi untuk ranah palemahan, yang tampak meng-gejala dan telah banyak terbukti adalah praktik-praktik "pelemahan" potensi alam lingkungan dalam bentuk tindakan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya hayati tanpa kendali.

Jika belakangan muncul wacana pendirian atau pember-dayaan Pasraman, sebenarnya dapat dikatakan "kepupungan" atau kelimpungan. Konsep Pasraman yang sejak dahulu sudah ada dan menjadi jiwa Desa Pakraman, tetapi karena kurangnya pengetahuan apalagi pemahaman, menjadikan eksistensi Desa Pakraman tak ada bedanya dengan desa-desa pada umumnya di luar Bali, hanya sebatas sebagai wilayah pemukiman penduduk dengan segala akti vitas fisikal-material-finasial, jauh dari sentuhan spiritual. Harapan agar Desa Pakraman lebih tampil sebagai Pasraman dengan fokus pada kegiatan pembelajaran agama Hindu lewat model aguron-guron, sepertinya hanya menjadi "ah gurau-gurauan" semata. Tetap menjadi wacana, gagasan atau konsep tanpa realisasi dalam konteks kehidupan kekinian yang ke depannya memerlukan lebih banyak upaya membangun jiwa, dibandingkan membangun badan.

Hal ini sejalan dengan tujuan Pendidikan Nasional yang hendak menjadikan manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan itu hanya bisa tercapai, bila proses pembelajaran atau pendidikan, termasuk di Pasraman menyasar pada pencapaian kemampuan, baik dalam aspek spiritual, sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hanya dengan begitu akan terbangun krama/ umat yang berkarakter Suputra, terpadu dan menjadi satu kesatuan dalam diri, baik aspek Intelegency Quotient (IQ), Emotion Quotient (EQ) maupun unsur Spiritual Quotient (SQ). Perpaduan unsur IQ + EQ + SQ inilah yang akan melahirkan generasi Hindu berkualitas tinggi (HQ = Hight Quality) hingga kualitas terbaik (BQ = Best Quality).

Desa Pakraman berbasis Pasraman inilah yang saat ini amat perlu bahkan penting dihidupkan, sebelum dinamika perkembangan masyarakat kon-temporer semakin menyeret dan menjauhkan karakter Desa Pakraman sebagai Desa Pasraman, dan kemudian merubahnya menjadi kawasan pemukiman sekuler dengan tampilan wajah yang kian "seram" mengkhawatirkan sekaligus menakutkan lantaran telah bermetamorfosa menjadi semacam keranjang sampah, sebagai wadah segala keburukan atau kebusukan perilaku manusianya, dari sikap anti sosial, tuna susila, amoral, hingga tindak kriminal. Mari kita kembali ke Pasraman melalui Desa Pakraman, agar hidup kita bertambah aman, nyaman, dan berkecukupan hingga dapat menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan, lahir bathin, sakala-niskala.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Majalah Wartam/Edisi 23/Januari 2017