Menimbang Bumi Sebutir Debu, Misteri Pengalaman Pribadi Sesama

Berapa berat sebutir debu? Entahlah. Tapi kalau planet bumi ini disebut ”sebutir debu” ciptaan-Nya, alangkah beratnya sebutir debu bernama bumi ini. Sudah tentu berat menurut ukuran manusia. Bukan berat bagi ruang kosong tanpa tepi yang menyangganya.

Istilah ”bumi sebutir debu” ciptaan-Nya berasal dari wacana agama, khususnya dari ”teori” penciptaan semesta. Bagi kita yang beragama dengan cara berpikir, ucapan ”bumi sebutir debu” itu kita pahami sebagai wacana untuk mengagung-agungkan penciptanya. Jadi, sama sekali bukan untuk mengecilkan arti bumi.

Apa atau siapa yang menciptakan bumi? Tuhan. Begitulah jawaban agama sedari dulu sampai sekarang. Beribu tahun lamanya sejarah manusia diarahkan oleh sebuah kata Tuhan yang ditunjukkan oleh masing-masing agama. Lalu apa atau siapa Tuhan?

Begini jawaban filosofisnya: “kenalilah ciptaan-Nya, maka akan tahu Penciptanya seperti apa gerangan”. Yang namanya filsafat itu sesungguhnya sederhana dan bersifat keseharian. Kenali watak anaknya, maka akan tahu macan apa gerangan orangtuanya. Kenali lukisannya maka akan tahu macan apa gerangan pelukisnya. Juga kenali tulisannya maka akan tahu macam apa gerangan watak penulisnya.

Bagaimana cara mengenali ciptaan-Nya agar tahu Penciptanya? Itulah sedikit permasalahannya. Kenali dirimu sendiri! Itulah jawaban tradisi mistis, yang hubungannya seperti telur dan ayam dengan agama.

Pencipta dan ciptaannya, seperti teka-teki telur dan ayam, namun sesungguhnya tidak sama. Siapa yang bertanya, dialah yang mesti menjawab sendiri pertanyaannya. Caranya, dengan menggali jawaban di dalam dirinya. Di dalam ayam ada telur. Di dalam telur ada ayam. Siapa menggali sumur, dia sendiri mesti masuk ke dalam lubang galiannya. Tersebar berita, konon misteri Tuhan ditemukan oleh para pertapa kaliber yogi. Di mana misteri itu dipecahkan? Ternyata benar, di dalam diri mereka sendiri.

Para Pertapa-yogi yang konon menemukan jawaban itu, akhirnya dengan enteng mengatakan bahwa semua ini adalah permainan Tuhan, tanpa dikatakannya bahwa Tuhan senang bermain-main. Katanya Tuhan menciptakan jagat besar (makrokosmos) dan jagat kecil (mikrokosmos) sebagai panggung permainan petak-umpet bagi anak-manusia pencari hakikat.

Pemain petak-umpet yang ingin ”melihat” jagat besar seutuhnya, ngumpet di dalam gua yang konon ada di dalam hatinya. Dari dalam gua-hati itu konon mereka ”melihat” kesejatian jagat besar justu dan bahkan dengan mata tertutup. Sedangkan para pemain petak-umpet yang ingin melihat jagat kecil seutuhnya, berkeliling di jagat besar (di atas tanah di bawah langit), di akhir perjalanan kelilingnya konon dilihatnya dirinya apa sejati. Kesejatian itu mereka sebut ”apa adanya”, bukan disebut ”bagaimana semestinya”.

Begitulah kata-kata orang yang merasa sudah menemukan jawaban dari Misteri ini. Entah apa sesugguhnya yang mereka temukan, hanya mereka sendiri yang tahu. Apalagi mereka dengan jelas mengatakan, bahwa pengalaman pribadi tidak bisa dibagi dengan kata-kata. Kecuali dibagi dengan sesamanya. Yang dimaksud ”sesamanya” adalah mereka yang sama-sama pernah mengalami. Mengetahui artinya mengalami. Selanjutnya, mengalami adalah menjadi.

Maksudnya, barangkali, mengalami misteri akan menjadikan mereka sebagai misteri. Sementara kita yang tak tahu-menahu tentang apa sebenarnya semua itu, akhirnya terbiasa mengatakan bahwa mereka manusia misterius. Itulah sedikit permasalahannya! Kita sering tidak menyadari bahwa kita semua ini adalah manusia misteri.

Oleh: IBM Dharma Palguna
Source: Koran Balipost Minggu, 16 Januari 2011