Menghormati Makanan dalam Tradisi Veda

Annam na nindyat tad vratam prano va annam sariramannadam
Prane sariram pratisthitam sariram pranam pratisthitah tad etannamanne pratisthitam
Sa ya etad annamanne pratisthitam veda pratitisthati annavanannado bhavati
Mahan bhavati prajaya pasubhir brahmavarca-sena Mahan kirtya
(Taittiriya Upanisad, bhrguvalli, Anuvak 7.1)

"Jangan pemah menunjukkan rasa tidak hormat pada makanan. Makanan adalah sumpah suci agama. Sesungguhnya nafas hidup adalah makanan, sedangkan badan jasmani merupakan pemakan dari makanan. Badan jasmani berada ajeg dalam napas hidup, dan napas hidup berada ajeg dalam badan jasmani. Makanan berada ajeg pada makanan. Ketika orang menyadari hal mi, bahwa makanan berada ajeg dalam makanan, maka ia berada mantap di jalan spiritual. Dia menjadi pemilik makanan dan menjadi orang yang merasakan rasa sejati makanan. Dia menjadi muha oleh keturunan, ternak, oleh kemuhaan Brahman, dan ia menjadi terkenal karena hakikatnya."

Sebagaimana Dewi Laksmi adalah Dewi Uang/Rezeki, Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan, maka demikian pula Dewi Annapurna adalah Dewi Pemberi Makanan.

Tersebutlah pada suatu ketika Dewa Siva mengabaikan makanan. Tiba-tiba Dewi Annapurna langsung menghilang. Sejak Dewi Annapurna menghilang maka di mana-mana di dunia orang mulai mengalami kelaparan. Akhirnya Dewa Siva menyadari kesalahannya, lalu meminta Dewi Annapurna hadir kembah untuk memberikan makanan kepada dunia.

Dewi Annapurna kemudian muncul di Varanasi dan Dewa Siva datang membawa mangkuk lalu menengadahkannya di hadapan Dewi Annapurna imtuk diisi makanan. Hanya setelah diberikan makanan oleh Dewi Annapurna maka Dewa Siva mampu kembah memberikan makanan kepada dunia.

Bhavisya Purana juga menyebutkan bahwa setelah selesai perang Bharatayuddha, Sri Krsna dengan tegas mengingatkan Raja Yudhisthira agar memberikan perhatian penting pada masalah makanan untuk rakyatnya (dadasva annam, dadasva annam, dadasva annam).

Sangatbanyak orang mengabaikan kepentingan dan keutamaan makanan, terutama sekali mereka yang setiap hari mendapatkan makanan dengan mudah tanpa bekerja keras. Di banyak rumah, orang membuang makanan dalam banyak bungkusan tas kresek, setiap hari..., tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Saya sendiri, saat menyusun tulisan ini, sedang berada di rumah keluarga di India, dimana saya selalu diberikan makanan melimpah tanpa henti. Pagi makanan dan minuman datangnya tiga kali, siang hari datangnya dua kali, dan malam hari bisa datangnya makanan dua hingga tiga kali lagi. Makanan melimpah tanpa batas. Perut sudah kepenuhan akan tetapi makanan harus dihor-mati dengan cara memakannya. Akhirnya beberapa jenis makanan hanya saya ambil sedikit, dengan pertimbangan saya tidak akan membuang-buang makanan.

Para orang tua, kakek-nenek, seringkali mengingatkan anak cucunya dengan kalimat "mati siap seleme" (mati ayam hitamnya) kalau kita membuang-buang makanan. Kitab-kitab suci Veda ternyata pula memberikan perhatian sangat penting perihal makanan. Semua itu semakin membenarkan pepatah yang mengatakan "you are what you eat", bahwa Anda adalah apa yang Anda makan.

Kitab suci Taittiriya Upanisad mengingatkan "annam na nindyat" - janganlah mencela makanan, janganlah menghina makanan, dan janganlah mengabaikan keutamaan makanan. Makanan adalah annam, dan annam itu amerta (kekal). Jika orang membuang makanan, jika orang menghina makanan, jika orang mengabaikan makanan maka mereka sesungguhnya membuang, menghina, dan mengabaikan amerta hidup.

Kitab suci tidak membiarkan umatnya menyianyiakan makanan. Orang biasa tidak memahami perihal kemuliaan makanan. Akan tetapi, kitab suci yang ditulis oleh orang-orang suci mengetahui perihal keutamaan makanan. Manava Dharma Sastra menekankan agar orang memuja makanan dan berdoa agar selalu mendapatkan makanan.

Bagi leluhur, makan bukanlah mengisi perut kosong dan juga bukanlah untuk memuaskan lidah maupun perut, melainkan makan adalah persembahan, yajna persembahan kepada sang diri sejati yang ada di dalam diri. Oleh karena itulah masalah makanan mendapat perhatian sangat penting dalam peradaban Veda. Bhagavad-gita menyebutkan bahwa orang yang maju di jalan spiritual adalah orang yang tidak makan terlalu banyak dan tidak pula puasa berlebihan.

Makanan sangat diperhatikan dan dijaga-selamatkan melalui aturan-peraturan serta tata-caranya, mulai dari sumber dana, bahan makanan yang dipergunakan untuk memasak makanan, siapa dan bagaimana memasak makanan sampai selesai memasak, dan bagaimana memakan makanan yang sudah dimasak, sampai akhirnya pada apa yang harus dilakukan setelah makan. Semua itu mendapat perhatian sangat penting dalam peradaban Veda. Oleh karena itulah kita melihat orang makan dalam tradisi Veda persis seperti orang sedang sembahyang atau meditasi. Mereka tidak makan jika tidak dalam keadaan bersih, sambil menaikkan kaki, sambil bercakap-cakap berlebihan dan atau bertengkar satu sama lain, mereka juga tidak makan sambil berpikir yang bukan-bukan, bahkan mereka makan sambil bermeditasi yang sering dilakukan bersama-sama dengan pengucapan mantram-mantram.

Orang atau masyarakat biasa tentu saja tidak akan mengerti semua hal ini karena bagi mereka makan adalah hal yang sangat biasa alam hidup ini dan mereka sudah lakukan sejak kecil dalam hidup ini. Mereka tidak akan mengerti ketika orang berbicara hal-hal yang muha indah dan bahkan berbau spiritual tentang makanan bahwa orang hendaknya memakan makanan sebagai suatu Vrata/Brata, sebagaimana orang berpuasa, tapa-brata pada hari-hari suci tertentu, dalam rangka memantapkan agama spiritualnya! Seperti itulah, tad vratam, makanlah sebagai tapa brata.

Oleh karena makan adalah brata maka orang akan menghindari makan dalam keadaan kotor atau sambil melakukan hal-hal yang tidak baik. Mereka akan sangat menghormati makanan. Sebab, prano va annam sarira-mannadam bahwa makanan adalah nafas hidup dan ia dalam segala hal sangat diperlukan oleh tubuh. Artinya, makanan yang diperlukan oleh tubuh bukanlah makanan pengisi perut kosong. Orang perlu memperhatikan perihal apa yang dimakan, bagaimana caranya makan, dan kapan waktunya makan (lawan piherana ikangpinangan, mwang dening amangan, iringana tang bhojana kala).

Terdapat jalinan hubungan timbal-balik yang sangat tidak terpisahkan antara badan jasmani (sariram) dengan nafas hidup (prana). Keberadaan badan jasmani sangat ditentukan oleh tegaknya nafas hidup di dalam badan dan juga keberadaan nafas hidup yang ajeg sangat ditentukan pula oleh ajegnya badan jasmani. Jadi..., makanan sangat menentukan keberadaan badan jasmani dan nafas hidup. Mereka saling bertautan dan berketergantungan satu sama lain, tidak ada yang bisa eksis tanpa keberadaan "pasangan"-nya. Oleh karena itulah penataan perihal makanan adalah sangat penting diperhatikan oleh semua insan yang menginginkan kemuhaan hidupnya lahir, batin, dan spiritual.

Tentu saja, sebelum dan sesudah menikmati makanan orang hendaknya mengingat Sang Pemberi Makanan, Hyang Parama Kawi. Sebab, disebutkan bahwa makanan adalah manifestasi pertama Brahman ahas makanan adalah Tuhan Sendiri (annam brahmeti vyajanat). Cara sangat sederhana yang dapat dilakukan oleh mereka yang karena satu dan lain hal tidak memungkinkan mengucapkan doa mantram sebelum dan sesudah makan adalah memohon izin pada Tuhan YME untuk menikmati makanan, lalu mengucapkan Pranava OM dalam hati. Selesai makan, orang hendaknya menghaturkan rasa terima kasih kepada Sang Pemberi Makanan, diakhiri pula dengan mengucapkan Pranava OM dalam hati.

Demi melestarikan tradisi leluhur agar kita mauna (tidak bicara) ketika sedang makan, maka dapat digabungkan dengan Panca Prana, yaitu 5 suapan pertama dapat dilakukan sambil mengucapkan mantra Pranahuti, yaitu: Om pranaya svaha (suapan pertama), Om apanaya svaha (suapan ke-2), Om vyanaya svaha (suapan ke-3); Om udanaya svaha (suapan ke-4), dan Om samanaya svaha (suapan ke-5). Kelima suapan tersebut dilakukan dengan mengambil sedikit makanan dengan tangan kanan (gabungan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah), sambil mengucapkan mantra tadi satu per satu. Selama menguyah makanan, bayangkan dalam hati sedang mengolah (baca: mencerna) makanan unruk menjadi amerta bagi badan, pikiran, dan atma (Sang Diri Sejati). Setelah lima suapan tadi barulah boleh berkata atau bercakap-cakap dengan orang , yang diajak makan bersama.

Oleh: Darmayasa
Source: Bali Post Minggu Umanis, 27 November 2016