Mencermati 40 : 60

Jika dilihat dari segi etimologi katanya, istilah kurikulum merupakan terjemahan dari kata curriculum dalam Bahasa Inggris yang berarti rencana pembelajaran (Echols, 1984).

Demikian pula kurikulum juga bisa dilihat dari kata curere bahasa Latin yang berarti berlari cepat, maju dengan cepat, merambat, tergesa-gesa, menjelajahi, menjalani, dan berusaha untuk... (Hasibuan, 1979). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya istilah kurikulum dibawa ke ranah dunia pendidikan yang kurang lebih berarti seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Sementara pendidikan pasraman menurut Peraturan Menteri Agama No.56/2014 dapat dikategorisasi menjadi dua jenis, yakni pasaraman formal dan pasraman non-formal. Pasraman formal adalah jalur pendidikan pasraman yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sedangkan/Pasraman non-formal adalah jalur pendidikan di luar pasraman formal yang dilaksanakan secara terstruktur.

Pendidikan pasraman formal menurut PMA No.56/2014 terdiri atas 5 satuan pendidikan, antara lain (1) Satuan pendidikan Pratama Widya Pasraman, yakni pendidikan anak-anak usia dini yang diikuti oleh anak-anak usia di bawah enam tahun (TK); (2) Satuan pendidikan Adi Widya Pratama, yaitu satuan pendidikan dasar tingkat sekolah dasar (SD) yang terdiri atas 6 tingkat; (3) Satuan pendidikan Madyama Widya Pasraman, yakni pendidikan dasar tingkat sekolah menengah pertama (SMP) yang terdiri atas tiga tingkat; (4) Satuan pendidikan Utama Widya Pasraman, yakni pendidikan tingkat sekolah menengah atas (SMA) yang terdiri atas tiga tingkat; dan yang terakhir adalah satuan pendidikan Maha Widya Pasraman, yakni satuan pendidikan tinggi.

Pada PMA No.56/2014 tentang pendidikan keagamaan Hindu, ditegaskan bahwa kurikulum pasraman formal terdiri atas kurikulum keagamaan Hindu dan kurikulum pendidikan umum. Kurikulum keagamaan Hindu pada jenjang pendidikan Pratama Widya Pasraman ditetapkan oleh Direktur Jenderal. Sedangkan pada jenjang Adi Widya Pasraman dan Madyama Widya Pasraman sedikitnya harus memuat; Weda, Tatwa, Etika, Acara, Itiasa, Purana, dan Sejarah Agama Hindu; Kemudian pada jenjang Utama Widya Pasraman setidaknya memuat tentang Weda, Tatwa, Etika, Acara, Itihasa, Purana, Yoga, Sejarah Agama Hindu/Budaya Hindu, dan Bahasa Kawi serta Bahasa Sanskerta. Sedangkan kurikulum keagamaan Hindu pada jenjang Maha Widya Pasraman, sedikitnya harus memuat Weda, Tatwa, Etika, Acara, Itihasa, Purana, Yoga, Sejarah Agama Hindu/Budaya Hindu, Bahasa Kawi, Bahasa Sanskerta, Darsana, Brahmawidya, Upanisad, Dharmasastra, dan Nitisastra.

Sedangkan kurikulum pendidikan umumnya untuk jenjang satuan pendidikan Adi Widya Pasraman sedikitnya harus memuat; Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Sedangkan untuk jenjang pendidikan tingkat Madyama dan Utama Widya Pasraman untuk kurikulum pendidikan umumnya paling tidak harus memuat: Pendidikan Kwarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, serta Seni dan Budaya. Sedangkan untuk di jenjang pendidikan Maha Widya Pasraman kurikulum pendidikan umumnya paling sedikit harus memuat, Pendidikan Kwarganegaraan, dan Bahasa Indonesia.

Berbicara soal kurikulum menurut beberapa pakar pendidikan, kurikulum seharusnya dapat dipandang sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar text-book, subject-matter, atau harus dipandang lebih dari sekadar rangkaian pelajaran. Menurut Brown misalnya, kurikulum merupakan situasi kelompok yang tersedia bagi guru dan pengurus sekolah (administrator) untuk membuat tingkah laku yang berubah dalam arus yang tidak putus-putusnya dari anak-anak menuju remaja, melalui pintu sekolah. Oleh karena itu, lebih lanjut menurut Brown ada tiga prinsip sosio-logis dalam memandang kurikulum secara keseluruhan antara lain: (1) perubahan kurikulum bersifat gradual, yang mencerminkan nilai-nilai dasar-kultural, dari sebuah masyarakat, dan pada saat yang sama menunjukkan pekerjaan yang efektif dalam pengarahan nilai-nilai yang paling tinggi; (2) kurikulum di sekolah berfungsi dalam hubungan dengan orang dewasa dan bersamaan dengan itu disesuikan dengan tingkat perkembangan siswa; (3) kurikulum pasti terus menerus berubah menuju suatu bentuk yang efektif dari tujuan sosial yang telah ditentukan.

Dalam penerapan sebuah kurikulum selain kontennya, yang tidak kalah pentingnya adalah roh dari kurikulum itu sendiri, dalam arti dengan kurikulum yang dibuat ke mana anak didik itu akan diarahkan? Hal ini penting sebab secara psikologis dalam teori Spranger, yakni seorang psikolog terkenal di era tahun 1920-an menyatakan ada enam tipe manusia. Adapun ke enam tipe manusia tersebut adalah (1) manusia teoritis; (2) manusia estetis; (3) manusia politis; (4) manusia ekonomis; (5) manusia sosialis; dan (6) adalah manusia religius. Hal penting yang mendasari Spranger mengkalisifikasi manusia menjadi enam tipe ini adalah nilai-nilai tertentu yang menguasai jalan pikirannya, perasaan, dan tingkah laku dalam kehidupannya. Dalam konteks ini Spranger mencotohkan manusia politik misalnya adalah manusia yang unsich mengabdikan kehidupannya untuk kepentingan kekusaan, demikian pula manusia religius adalah manusia yang mengorientasikan perjalanan hidupnya dalam nilai tertinggi, yakni nilai Ilahi.

Berangkat dari uraian di atas dan jika dikaitkan dengan realitas out put pendidikan dengan kurikulum nasional saat ini yang cenderung hanya menekankan penguatan pada aspek kognisi (intelektual) siswa saja, maka menurut hemat penulis formulasi kurikulum pasaraman sebaiknya kontennya dibuat dengan komposisi 60% adalah kurikulum pendidikan keagamaan dan 40%-nya lagi adalah kurikulum pendidikan umum. Dengan formulasi seperti itu, pendidikan pasraman nantinya diharapkan dapat menghasilkan output yang tidak hanya memiliki kecerdasan dalam bidan intelektual saja (IQ) tetapi juga cerdas dalam bidang EQ dan SQ, serta memiliki kecerdasan-kecerdasan lainnya.

Oleh: I Ketut Suda
Penulis adalah Guru Besar Bidang Sosiologi Pendidikan Program Pascasarjana, Unhi
Source: Majalah Wartam/edisi 23/Januari/2017