Meme-Bapa dalam Tradisi Hindu: Kasih Yang Terlupakan

Sehubungan dengan hal itu kahyangan tiga pada tingkat desa pakraman ditranspormasikan menjadi Kamulan Rong Tiga di dalam sanggah/ merajan pada tingkat keluarga. Penempatan sanggah/merajan, juga tidak lepas dari konsepsi tri hita karana yang membagi dan menjiwai tata ruang (Bali) menjadi parhayangan, pawongan, dan palemahan. Hal ini sesuai dengan tata letak dan tata guna berdasarkan utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Pemikiran ini pada dasarnya mengacu pada prinsip rwa-bhineda bahwa luan menempati arah gunung dan matahari terbit, sebaliknya teben menempati arah luan dan matahari tenggelam. Perpaduan antara arah terbitnya matahari dan arah gunung merupakan arah luan yang dipandang suci, karena itu dipandang baik sebagai tempat sanggah atau merajan.

Palinggih yang utama di sanggah/marajan terdiri dari tiga jenis, yaitu (1) kemulan Rong Tiga sebagai linggih Hyang Guru Kemulan, Tri Murti, Leluhur, (2) linggih Sedahan Panglurah ; dan (3) linggih Gedong Taksu. Ini berarti sanggah /marajan sebagai tempat suci dalam setiap keluarga terindentifikasi melalui tiga jenis palinggih tersebut. Akan tetapi yang menjadi pusat aktivitas pemujaan adalah Kemulan Rong Tiga sebagai linggih Tri Murti yang telah mengalami transpormasi manifestasi pemujaan menjadi meme-bapa ranganta jati, yaitu di sebelah kanan bapanta (bapa, ayah), di sebelah kiri ibunta (meme, ibu), dan di tengah raganta jati (Siwa).

Malahan penghormatan terhadap peranan meme sebagai istrinya (saktinya) bapa dan penerus garis leluhur dalam tradisi purba meme disthanakan di sebuah palinggih yang disebut palinggih Ibu. Ini berarti pemujaan terhadap meme sejalan dengan konsep dewa dan saktinya. Dalam hal ini sakti dari dewa tertentu merupakan aspek feminis yang memiliki aktivitas murni, sedangkan dewa merupakan aspek maskulin yang apatis. Oleh karena itu pemujaan terhadap Bhatara Siwa di Pura Dalem misalnya, lebih menekankan pemujaan terhadap saktinya, yaitu Durga. Dengan demikian konsep tentang pemujaan meme di sanggah/marajan sama dan sejalan dengan konsep pemujaan terhadap Durga di Pura Dalem.

Dalam bahasa lontar terutama dalam kaitannya dengan laku kadhyatmikan prinsip meme-bapa raganta jati menjadi sumber inspirasi utama dari keseluruhan ajarannya. Bapanta yang di sebelah kanan sebagai bapa akasa di bagian atas dan ibunta yang di sebelah kiri dipahami sebagai ibu pertiwi di bagian bawah dan penyatuan antara keduanya dipahami sebgai raganta jati (Siwa) di tengah. Pemahaman ini di dalam mantra-mantra hadir sebgai ucapan, "Om nama swaha ". Pemutaran pemahaman dalam pola kesatuan tiga ini melahirkan konsep pola kesatuan lima dari Panca Siwa (Panca Brahma), Panca Asi, Panca Ratu, Panca Mahabhuta, Panca Pasu hingga kiblat sebagai posisi semestinya (2004:151). Walaupun demikian, dalam pemikiran ini manusia digambarkan ada dalam arus gelombang antara asal dan tujuannya, seraya terus-menerus mengalami proses menjadi.

Manusia berada dalam antara dua titik terbit dan terbenam,-titik tersebut, berupa sangkan dan paran, asal dan tujuan segala sesuatu di dunia ini, sungkan paraning dumadi. Sangkan-paran dimengerti sebagai sesuatu yang tidak personal, impersonal, yang disebut rat, dunia atau dumadi. Itulah yang disebut zat kosmis atau jiwa alam, yang juga dinamakan sunyi, suwung atau ketiadaan, kehampaan. Boleh jadi ini pula yang mendasari prinsip ajaran dalam berbagai gerakan kebatinan yang memandang dan mengandaikan adanya tiga bidang trikotomi dalam diri manusia. Trikotomi tersebut, sepertii badan-jiwa-sukma; jaba-jro-kodim; naluri-roh-batin ; tubuh-jiwa-atman; alam-budi-gaib, dan sebagainya.

Kesepahaman antara tradisi Bali purba (yang terwariskan sampai kini melalui pemujaan di Kamulan Rong Tiga) dan gerakan kebatinan ini telah menempatkan tradisi purba ini pada suatu pemikiran yang panteisme. Pusat pemikiran dalam tipe panteisme bukan Tuhan, tetapi manusia itu sendiri. Panteisme tidak mempunyai metode pemikiran yang tegas. Panteisme mempunyai sifat antoposentris dan manusia menyadari sebagai bagian yang harus menempatkan diri dalam keseluruhan asal. Manusia dianggap tidak otonom dan harus menyatukan diri dengan Dia otonom. Manusia harus beralih dari keadaan kawula kepada kesatuan dengan gusti (Tuhan).

Ungkapannya menjadi Jumbuhing Kawula Gusti, Pamor kawula Gusti, Manunggaling Kawula Gusti. Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan kesatuan, dan tidak mendua antara manusia dan Tuhan. Ini berarti manusia senantiasa berada dalam menjadi, yaitu melalui penyucian diri untuk merubah statusnya dari kawula menjadi Gusti. Penyucian diri dapat dilakukan hanya melalui restu meme-bapa sebagai unsur sasai segala eksistensi yang sekaligus merupakan asal dan tujuan, sangkan-paran.

Untuk itu bisa dipahami meme sebagai asfek feminis merupkan modus yang sanggup menahan gejolak dan getaran emosional bapa yang bertindak sebagai aspek maskulin. Meme adalah badan kasih semesta yang memiliki kemampuan alami untuk menahan rangsangan tersebut dan menangkapnya sebagai benih segala sesuatu. Kemudian, darinya mengalir baraneka manifestasi, nama dan bentuk sebagai belenggu abadi bagi emosional maskulin yang secara alamiah hanya mampu menyebarkan aroma sensualitas kosmis. Dia yang mampu menangkap perkenan meme-bapa menjadi raganta jati, ia memperoleh restu bertindak atas namanya."

Dia berada dalam kesadaran penuh dan mengetahui moral semesta karena meme-bapa adalah dharma-nya dharma. Sebagaimana diungkapkan oleh Swami Vivekananda (1991), apabila laki-laki dan perempuan di atas dunia tidak ada yang menikah maka dunia ini tidak akan pernah ada kewajiban meme-bapa, juga berarti tidak ada dharma meme-bapa. Begitulah dharma muncul dalam setiap ikatan dan sekaligus mengikat setiap esistensi sehingga setiap eksistensi larut dalam ikatannya dan dengannya setiap eksistensi mengalami suka-duka yang sesungguhnya mengalir dari ikatan meme-bapa.

Uraian tersebut telah mengantarkan pengertian kepada pamahaman bahwa tradisi Bali purba yang telah diwarisi secara turun-temurun ternyata memiliki makna luhur dalam keluhuran budi di atas pemujaan leluhur. Leluhur yang dipahami sebatas sebagai orang tua yang telah meninggal merupakan bagian tak terpisahkan dari pembinaan budi luhur manusia Bali. Bukan sekedar kepercayaan mistis-magis tanpa makna riil, tetapi sebuah kenyakinan yang sarat makna. Setidak-tidaknya kepercayaan dan pemujaan kepada leluhur telah memberikan pengalaman tentang adanya kehidupan setelah kematian, yaitu dunia (paraloka). Pengalaman yang hanya bisa diperoleh melalui spirit persembahan, sebagai manusia argumentasi Mimasa tentang dharma sebagai persembahan berdasarkan kitab suci Veda, hukum moral semesta, dan sumber aktivitas kosmis. Dengannya alam semesta berkembang dan mempertahankan eksistensi dalam berlimpahnya waktu yang dilalui dalam berbagai musim. Pengalaman tersebut akan tercerap lebih sempurna, apabila dunia relatip yang dualis telah terlampaui sebagaimana diajarkan dalam Sankhya.

Meme-Bapa dan Aku: Perspektif Sankhya

Meme dalam kehidupan empiris merupakan panggilan bagi ibu dan bapa panggilan untuk ayah (dari anak-anaknya) dalam keluarga masyarakat Hindu di Bali. Dalam konteks dan pemahaman yang sama, namun berbeda dalam cita rasa bahasa, sopan santun, dan tata krama pergaulan keluarga untuk sebutan meme digunakan biang dan bapa sebutan aji. Sementara itu, dalam kamus besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa aku berarti saya, diri ini, diri sendiri. Akan tetapi eksistensi aku terikat dan tergantung pada ibu dan ayah karena aku adalah anak, keturunan dan bagian tak terpisahkan dari ibu dan ayah. Itu sebabnya ibu-ayah-anak merupakan satu-kesatuan hilistik tak terpisahkan (meme-bapa raganta jati). Walaupun secara kodrat ibu dan ayah merupakan dua unsur dalam pertentangan alami, tetapi berkat anugrah kasih abadi keduanya disatukan dalam manifestasinya, aku.

Sebagaimana diajarkan oleh Kapila dalam Samkhya bahwa ada dua realitas asasi yang berdiri sendiri, yang satu lepas dari pada yang lainnya, yang saling bertentangan, akan tetapi segala manifestasi dinyatakan hadir dari kedua unsur asasi tersebut yang disebut purusa dan prakerti. Purusa dan prakerti, roh dan benda, atau azas rohani dan bendani bersama-sama membentuk realitas dunia ini.

Purusa tidak dapat diamati, tetapi ada dengan nyata. Dunia dikatakan berada bukan demi kepentingan dunia sendiri, melainkan untuk keperluan yang bukan dunia, yang bukan benda, yaitu roh, purusa. Manusia berusaha mendapatkan kelepasan. Ini berarti tentu ada sesuatu yang dapat mendapatkan kelepasan itu. Yang dapat mendapat kelepasan itu tentu bukan yang bendani, itulah purusa. Tiap hal yang ada, berada secara sendiri-sendiri, artinya, dilahirkan sendiri, mati sendiri, memiliki organisme sendiri, melakukan tindakan sendiri, dan seterusnya.

Berdasarkan kenyataan yang demikian itu harus disimpulan bahwa ada banyak sekali individu Berdasarkan kenyataan yang demikian itu harus disimpulkan bahwa ada banyak sekali individu, ada banyak sekali purusa. Sebaliknya, mengenai prakrti dijelaskan sebagai sebab pertama alam semesta yang terdiri atas unsur - unsur kebendaan dan kejiwaan. Prakrti tidak dapat diamati, namun ada dengan nyata dengan pertimbangan sebagai berikut. Tiap hal yang ada di dunia bersifat terbatas, apa yang bersifat terbatas bergantung kepada sesuatu yang tak terbatas, yang bersifat tak terbatas itu adalah prakrti. Tiap hal memiliki sifat-sifat tertentu yang juga dimiliki oleh segala sesuatu yang lain.

Sifat-sifat itu misalnya, suka dan duka. Hal ini menunjukkan bahwa ada sumber bersama yang mengalirkan sifat-sifat itu. Sumber itu adalah prakrti. Segala akibat timbul dari aktivitas suatu sebab Aktivitas yang menyebabkan perkembangan dunia ini tentu berasal dari suatu sebab pertama, yaitu prakrti. Suatu akibat tidak mungkin menjadi sebabnya sendiri. Oleh karena itu tentu ada sebab asasi, yang menyebabkan adanya segala akibat itu. Sebab asasi itu tidak lain adalah prakrti. Alam semesta mewujudkan suatu kesatuan. Adanya suatu kesatuan menunjukkan adanya satu sebab yang menyatukan, yaitu prakrti.

Prakrti dikatakan memiliki tiga guna, triguna, yaitu sattva, rajas,dan tamas. Sattva adalah hakikat segala sesuatu yang memiliki sifat-sifat terang dan menerangi, tenang dan kebajikan. Rajas pada hakikatnya adalah sumber aktivitas dan pengluasan, karena itu juga yang menjadi sumber suka dan duka. Tamas adalah kekuatan yang menentang segala aktivitas sehingga menimbulkan segala keadaan yang apatis (dingin dan kelembaban) atau acuh tak acuh, kemalasan dan ketidaktahuan. Ketiga guna tersebut berbeda satu sama lain, tetapi melakukan kerjasama yang sangat erat yang digambarkan seperti nyala api, minyak dan sumbu pada sebuah pelita.

Ketiga guna itu semula dalam keseimbangan kekuatannya, karena itu prakrti berada dalam keadaan tenang dan tidak terjadi apa-apa. Ketika kekuatan-kekuatan di dalam prakrti itu terganggu maka terjadilah gerak dan berkembanglah prakrti. Gangguan keseimbangan itu terjadi ketika purusa berhubungan dengan prakrti sebab dari purusa itu dengan sendirinya keluarlah perangsang, seperti halnya dengan besi berani (magnet) terhadap besi yang ditariknya. Kerjasama antara purusa dan prakrti ini menimbulkan perkembangan alam semesta dengan segala isinya yang keluar dari prakrti. Akan tetapi sebaliknya, karena hubungan ini maka prakrti mengubah bentuk purusa yang banyak itu menjadi jiwa perorangan di dalam dunia. Prakrti menahan purusa dan membelenggunya di dalam tubuh dan segala manifestasi. (Selanjutnya)

Oleh: Ki Dharma Tanaya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 539 Nopember 2011