Leadership Dalam Agama Hindu [3]

(Sebelumnya)

3. Kepemimpinan dalam Itihasa

Dalam ajaran agama Hindu bahwa salah satu sumber ajaran kemuliaan dan juga yang berkaitan dengan pola kepemimpinan, ada diajarkan dalam itihasa. Sebagaimana diketahui bahwa sumber ajaran itihasa mencakup dua materi, yakni: 1) materi kepemimpinan dalam Mahabharata dan 2) materi kepemimpinan dalam Ramayana.

Dalam itihasa Mahabharata yang terdiri atas delapan belas bagian (astadasaparva), banyak dijumpai tokoh atau pemimpin yang memberikan panutan yang baik terhadap rakyat. Bila dicamkan isi itihasa Mahabharata bahwa berbagai karakter pemimpin yang bisa ditiru oleh kalangan pemimpin dewasa ini, misalnya : 1) Vyasa, 2) Bhisma, 3) Pandu, 4) Dhrtarastra, 5) Yudhisthira, 6) Bhima, 7) Arjuna, 8) Nakula, 9) Sahadewa, 10) Drona, 11) Karna, 12) Salya, 13) Krsna, 14) Duryodhana, 15) Ekalavya, 16) Wibisana, dan lain-lainnya. Para tokoh atau pemimpin dalam itihasa Mahabharata tersebut telah memberikan banyak panutan dan teladan dalam hal semangat berjuang, memajukan kesejahteraan hidup, mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, membangkitkan semangat belajar, maupun nilai sosial yang bermanfaat bagi kebersamaan.

Dalam hal hormat kepada guru yakni guru rupaka bahwa patut ditiru perilaku seorang "Vyasa yang sangat taat dan patuh kepada ibunya Satyavati. Demikian juga Yudhisthira yang telah berhasil menuntun dan mengasuh adik-adiknya dalam melakoni perjalanan hidup penuh tantangan dan hambatan, tetapi Yudhisthira memiliki keteguhan hati dan semangat tinggi dalam menegakkan kebenaran (dharma). Kemudian jika diperhatikan seorang pemimpin besar bernama Krsna bahwa ia mampu membangkitkan semangat hidup dan semangat berjuang tanpa pantang menyerah terhadap Sang Arjuna, yang awalnya Arjuna mengalami keragu-raguan untuk maju ke medan pertempuran. Berkat dorongan semangat yang diberikan Krsna, maka ia tampil percaya diri dalam mengalahkan musuh-musuhnya. Jadi Krsna adalah figur pemimpin yang mampu mendorong semangat berjuang pada asuhan-nya.

Misalnya lagi seorang Ekalavya, yang hormat dan bhakti kepada gurunya bernama Drona, sehingga kepandaiannya bisa melebihi kepintar-an Sang Arjuna walaupun ia hanya berguru kepada Drona melalui media patung (Arca) yang selalu dipuja-pujinya, tetapi akhirnya ia sangat sukses dalam berguru, terutama dalam hal ilmu memasah.

Dalam Mahabharata ada dikenal ajaran aji (ilmu pengetahuan suci), giri (kekuatan spiritual seperti gunung), jaya (menang dalam segala aktivitas), nangga (tangguh dan tanggap), serta priyam-bhadha (mampu memberikan kebahagiaan lahir dan batin). Jadi masih banyak lagi ajaran kepemimpinan Hindu yang tersirat dan tersurat dalam itihasa Mahabharata yang wajib dipahami dan direpkan dengan baik oleh para generasi muda Hindu dan juga para pemimpin Hindu, agar sukses dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Selanjutnya jika dicamkan lagi isi itihasa Ramayana yang terdiri atas tujuh bagian atau sapta kanda, dapat dijumpai hal yang menarik terkait dengan nilai kepemimpinan yang perlu dijadikan pedoman dalam memimpin, terlebih lagi dalam kaitannya dengan dunia pendidikan. Dari segi ketokohan, bahwa ada Prabhu Dasaratha yakni seorang raja yang berasal dari keturunan Surya. Putra Aja dan ayah dari Rama. Beliau adalah teman dari Dewa Indra dan beliau diberi gelar Dasaratha karena keahliannya yang sanggup mengemudikan kereta ke delapan penjuru di bumi ataupun di surga. Dalam hal kepemimpinan bahwa Prabhu Dasaratha sangat berhasil dalam menjalankan roda kepemimpinannya, oleh karena ia sangat bijak, mengetahui berbagai pengetahuan, menghormati leluhur atau para sesepuh. Beliau juga berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta sangat mengasihi dan memberikan perlindungan secara adil kepada seluruh rakyatnya.Dengan ilmu kepemimpinan seperti itulah, akhirnya Beliau sangat sukses dalam mengendalikan kerajaan-nya.

Kemudian ada pula tokoh utama sebagai seorang pemimpin panutan yakni Sang Rama adalah seorang putra dari Prabhu Dasaratha bersama permaisurinya Kausalya. Sang Rama beristrikan Dewi Sita dan Beliau telah mengajarkan delapan ajaran kepemimpinan kepada adiknya Sang Barata, ketika Sang Rama meninggalkan keraton kerajaan Ayodhya untuk melakukan perjalanan suci ke Prayaga selanjutnya menuju hutan Citrakuta di wilayah Uttar Pradesh. Saat itu Sang Rama yang ditemani oleh adiknya Sang Laksmana, telah memberikan ajaran kepemimpinan asta brata kepada Sang Barata untuk dijadikan pedoman dalam memimpin kerjaan Ayodhyapura.

Dengan Adanya kesadaran yang tulus oleh Sang Barata, maka semua ajaran kepemimpinan yang diajarkan oleh kakaknya Sang Rama, akhirnya diterapkan dengan baik, maka berhasillah dia menjadi seorang pemimpin yang tangguh pula. Masih banyak lagi tentang ajaran kepemimpinan dalam itihasa Ramayana.

Dalam Ramayana bahwa pemimpin yang baik dan bijaksana disyaratkan untuk memiliki beberapa kriteria, antara lain : Wruh ring weda (mengetahui ilmu pengetahuan suci), bhakti ring dewa (berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa), tar malupeng pitra puja (tidak lupa berbakti kepada leluhu serta masih ta sireng sivagota kaben (mencintai semua rakyatnya). Jadi ajaran itihasa Ramayana yang juga sarat dengan ajaran kepemimpinan Hindu, wajib dipahami dan dipraktekkan oleh segenap umat Hindu, terlebih lagi para generasi mudanya (sekaa teruna).

4. Kepemimpinan dalam Weda

Dalam pustaka suci Weda ada mengajarkan tentang kepemimpinan. Ada dinyatakan bahwa pemimpin hendaknya memiliki moral dan budi pekerti. Hal itu dinyatakan dalam Rgveda X. 191.4 berikut ini.
Samani va akutih, samana hrdayani vah,
Samanam astu vo mano, yatha va susahasati.

Samalah hendaknya tujuanmu, samalah hendaknya hatimu,
samalah hendaknya pikiranmu, dengan demikian semoga semua hidup bahagia bersama-sama.

Kemudian dalam Rgveda 1.90.6-7 juga ada dinyatakan berikut ini.
Madhuvata ntayate,
Madhu ksaranti sindhuvah,
Madhwir nah sanvosadhili.

Untuk dia yang menuruti Rta, angin
akan penuh dengan rasa manis
sungai mencurahkan rasa manis,
begitu banyak pohon penuh rasa
manis untuk kita.

Madhu naktam utosaso,
mandhumat parthivam rajah,
madhu dyam astu nah pite.

Malam terasa manis begitu pula fajar di bumi pun manis, manislah Bapa langit bagi kita.

Beberapa kutipan sloka di atas, memiliki pesan mulia berkenaan dengan kepemimpinan Hindu sesuai sumber Rgweda. di antaranya : 1) pemimpin dan rakyat hendaknya sama dalam tujuan, sama dalam hati nurani, serta sama dalam pemikiran, 2) pemimpin menjadi berhasil bila dalam tujuan, hati, dan pemikiran telah menyatu, maka kebahagiaan menjadi terwujud secara bersama-sama pula, 3) pemimpin yang memiliki karisma secara alami serta mengikuti hukum alam, misalnya memiliki sifat angin, maka pemimpin dapat meresapi hati nurani rakyatnya, tatkala itulah pemimpin mencapai keberhasilan dalam memimpin, yang diandaikan dengan suatu makanan yang dirasakan manis (nikmat) secara bersama-sama, 4) pemimpin juga tercapai dalam pola kepemimpinannya bila juga mengikuti hukum alam yang dimiliki sifat bumi dan langit yang mampu membuat rakyat menjadi nikmat dan bahagia.

Model-Model Kepemimpinan Kekinian

Bagaimana model-model kepe-mimpinan kekinian? Berikut ini dijelas-kan sesuai sumber-sumber pustaka kepemimpinan pada umumnya. Ada berbagai model yang bisa dijadikan panutan oleh pimpinan dewasa ini. Tentunya disesuaikan dengan kondisi dan dimana pemimpin itu melakukan tugasnya kepemimpinannya. Bila seorang pemimpin itu menggerakkan bawahannya di bidang pendidikan atau yang lainnya, Lentu pula pemimpin itu dapat berlaku arif dan bijaksana untuk bisa menerapkan model yang pas terhadap asuahannya atau bawahannya.

Tentang seni dan pembinaan kepemimpinan menurut Howard Morgan dll, bahwa "para pembina pengembangan kepemimpinan bekerja keras menanamkan satu kapabilitas pada pemimpin, atau tim kepemimpinan, untuk membawa organisasi ke level keefektifan lainnya. Dalam sejumlah kasus, ini berarti membantu pemimpin menjadi seorang pembina." Pada bagian lain dinyatakan pula bahwa fungsi ulama seorang pemimpin adalah menata strategi dan arahan bagi organisasi dan memadukan sumber daya yang diperlukan agar berhasil. Tentu saja, hasil dan sukses sangat penting bagi organisasi apapun, jika sebuah organisasi memiliki masa depan, pemimpin harus memproduksi hasil dan mengembangkan aset organisasi yang terpenting di antaranya adalah kapabilitas kinerja orang-orangnya.

Bagaimana mengembangkan potensi kepemimpinan sejati, menurut Nielcle Patric bahwa ada empat gaya kepemimpinan yang dapat dikenali yaitu 1) memerintah atau otokrat, ketika pemimpin memberitahukan para pekerjanya akan apa yang dia inginkan dan bagaimana hal itu dilakukan, tanpa harus meminta nasehat terlebih dahulu dari para bawahannya; 2) menjual, ketika pemimpin menggunakan kombinasi antara metode keras dan lembut, dia ingin segala sesuatu terlaksana dengan baik; 3) keikutsertaan atau lingkaran kualitas, mengharuskan pemimpin untuk melibatkan para karyawannya dalam apa yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan. Bagaimanapun, pemimpin merupakan orang terakhir yang berkuasa dalam menentukan keputusan; 4) pendelegasian atau perkuatan, meletakkan pemimpin pada posisi yang lebih baik untuk membiarkan para pekerja mereka untuk membuat keputusan. Tetapi sebagai seorang pemimpin. Anda tetap harus bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah Anda buat.

Kemudian ada juga model kepemimpinan yang mengaitkan dengan upaya mengelola perusahaan dengan efisien di masa sulit. Disini menurut Indayati Oetomo dinyakan ada enam langkah mengelola sumber daya manusia (SDM) dengan profesional, meliputi : 1) memberdayakan human resource development (HRD). 2) merekrut karyawan dengan adil dan assertive, 5) mengevaluasi kinerja karyawan dengan rutin dan terarah, 6) merotasi karyawan dengan rasional dan obyektif. Demikian enam langkah yang ditawarkan dalam mengelola perusa¬haan di era sulit di masa kini. Apakah langkah-langkah ini juga relevan dengan gaya kepemimpinan di bidang kependidikan oleh para pemimpin pendidikan di kota Denpasar? Hal ini dikembalikan kepada pemimpin itu sendiri untuk menyikapi secara arif dan bijaksana.

Masih ada pula gaya kepemimpinan yang perlu dijadikan anutan bagi para pemimpin dalam kependidikan. Menurut John C. Maxwell bahwa untuk membangun organisasi, maka ada beberapa hal yang diingatkan kepada para pemimpin, antara lain : 1) sumber daya manusia menentukan potensi-organisasi; 2) hubungan-hubungan menentukan moral organisasi; 3) struktur menentukan dasar kecilnya organisasi; 4) visi menentukan arah organisasi; dan 5) kepemimpinan menentukan sukses organisasi. Selain itu ada juga diperkenalkan mengenai hukum kepemimpinan yang jumlahnya 21 hukum, meliputi : hukum katup, hukum pengaruh, hukum proses, hukum navigasi, hukum E.F. Hutton, hukum landasan yang mantap, hukum kehormatan, hukum intuisi, hukum daya tarik, hukum hubungan yang baik, hukum lingkungan sepergaulan, hukum pemberdayaan, hukum reproduksi, hukum kepercayaan, hukum kemenangan, hukum momentum besar, hukum prioritas, hukum pengorbanan hukum waktu yang tepat, hukum pertumbuhan yang eksplosif, dan hukum warisan. Selanjutnya dapat dicermati kembali apa makna dari masing-masing hukum tersebut, yang secara gamblang dijelaskan dalam buku yang berjudul "The 21 Irrefutable Laws of Leadership atau 21 Hukum Kepemimpinan Sejati" oleh John C. Maxwell.

Sedangkan menurut Paul Birsh dinyatakan bahwa "ada satu hal lagi yang perlu diketahui orang mengenai kepemimpinan. Jangan yang ditempuh sudah betul, tetapi ada juga yang keliru. Kalau Anda ingin menjadi pemimpin yang baik, Anda harus mengikuti jalan yang benar". Apa kira-kira maksud dari pada jalan yang benar disini? Jika tidak keliru manafsirkan adalah pemimpin itu semestinya dalam melakukan segala tindakan kepemimpinannya selalu didasarkan sumber aturan yang valid dan legal guna mengurangi kekeliruan dalam memimpin, termasuk juga dalam memimpin di bidang kependidikan. Namun yang menarik oleh Paul Birch bahwa ada 66 cara instan memiliki kepemimpinan praktis seperti: karisma, menjadi sumber inspirasi, memperoleh inspirasi, kompetensi teknis, belajar mencintai bisnis Anda, belajar mencintai pelanggan, belajar mencintai karyawan, belajar mencintai para pemasok, belajar mencintai diri anda sendiri, kepemimpinan dan manajemen, strategi, visi, misi, menetapkan sasaran, mengembangkan rencana bisnis, nilai-nilai, memanfaatkan stres, buku harian (agenda), pendelegasian, rapat dan cara memimpinnya, rapat dan cara mengembangkannya, rapat dan cara menghentikannya, menguasai waktu, belajar, santai, tidur nyenyak, bertanggung jawab, mengajarkan tanggung jawab, perhatian kakiku bukan bibirku, percakapan, komunikasi, mengenal pesaing Anda, mengenal pelanggan, mengenal karyawan Anda, mengenal diri Anda sendiri, cara menjadi pemimpin ideal, cara tidak menjadi dungu, mempelajari cara belajar, imbalan, penghargaan, mengatakan tidak, pengembangan pribadi, memilih orang yang tepat, energi, menjaga kesehatan, kebudayaan, menciptakan perubahan, memimpin tim sepanjang waktu, kejujuran adalah kebijakan terbaik, keputusan-keputusan, mengembangkan orang lain, membangun jaringan, pengukuran, menghancurkan sistem dari dalam, membentuk tim, mengikuti perkembangan, memori, birokrasi dan cara mengembangkannya, birokrasi dan cara menghancurkannya, menjadi tidak masuk akal, menjadi pahlawan, obsesi, berada di mana-mana, memiliki kepribadian angka delapan, penilaian 360 derajat, jangan bicara dengan saya tentang kehidupan dan kelebihan dan kelemahan Anda.

Menurut Taufik Bahaudin bahwa tujuan akhir (ultimate goal) yang akan dicapai dari program Brainware Leadership Mastery Development ini adalah dimilikinya kemampuan sebagai super leader yaitu pemimpin yang memiliki kemampuan kepemimpinan yang berbasiskan kecerdasan spiritual (SQ-based leadership) untuk menghadapi tantangan milenium ketiga di awal abad ke 21 ini. Jadi Taufik Bahaudin lebih memfokuskan inti mengenai kepemim-pinan abad otak dan milenium pikiran, itu artinya pemimpin yang cerdas, cermat, cekatan, intelektualitas tinggi sangat diprioritaskan. Pada bagian lain juga ditegaskan '10 secrets of successful leaders' oleh Donna Brooks dan Lynn Brooks bahwa ada sepuluh rahasia kesuksesan pemimpin yaitu : berpikir lintas fungsi/antar disiplin : memiliki pengetahuan dan memanfaatkannya; memaksimalkan gaya kepemimpinan Anda : memimpin dengan gairah, energi, dan kecerdasan emosional; mengelola jaringan pengetahuan; meyakinkan, mempengaruhi dan mengkomunikasikan visi; menciptakan budaya dan berintegritas dan memiliki nilai; memimpin dalam lingkungan yang ambigu, tidak pasti, dan berubah; dan berberapa praktik terbaik dalam mencetak pemimpin yang sukses.

Kemudian jika dipahami lagi tentang kepemimpinan berbasis nilai oleh Kenneth Majer bahwa "tanda seorang pemimpin yang besar adalah bila orang mau mengikuti", "rahasia untuk membangun tim pemenang adalah membantu para anggota tim untuk menemukan perangkat nilai mereka sendiri dan membantu mereka untuk bertindak berdasar peringkat nilai itu", dan "Tiga prinsip penuntun kepemimpinan berbasis nilai : libatkan semua orang, komunikasi harapan-harapan dengan jelas, beri imbalan terhadap tingkah laku yang mencer¬minkan nilai-nilai inti organisasi".

Ada pula pendapat lain mengenai 'kepemimpinan pelayan' atau servant leadership yang dikemukakan oleh Donald Lantu dkk bahwa kepemimpinan pelayan adalah suatu kepemimpinan yang berawal dari perasaan tulus yang timbul dari dalam hati yang berkehendak untuk melayani, yaitu untuk menjadi pihak pertama yang melayani. Pilihan yang berasal dari suara hati itu kemudian menghadirkan hasrat untuk menjadi pemimpin. Perbedaan manifestasi dalam pelayanan yang diberikan , pertama adalah memastikan bahwa kebutuhan pihak lain dapat dipenuhi, yaitu menjadikan mereka sebagai orang-orang yang lebih dewasa, sehat, bebas dan otonom, yang pada akhirnya dapat menjadi pemimpin pelayan berikutnya.

Dalam kondisi kekinian bahwa untuk meningkatkan efektivitas lewat kepemimpinan diri situasional telah dikemukakan oleh Ken Blanchard bahwa "pemberdayaan adalah sesuatu yang diberikan orang kepada Anda, kepemimpinan diri adalah apa yang Anda lakukan untuk membuatnya berhasil".

"pada akhirnya, demi keuntungan saya sendirilah saya bertanggung jawab untuk mendapatkan apa yang saya butahkan bagi kesuksesan di tempat kerja". Dari pendapat tersebut ada beberapa inti penting yang dijadikan panutan bagi pemimpin kekinian yakni lakukan pemberdayaan diri dan karyawan/bawahan, menjadilah pemimpin yang sukses untuk kebersamaan, dan lakukan tugas kepemimpinan dengan bertanggung jawab guna mencapai keberhasilan bersama pula.

Satu hal yang menarik lagi bahwa ada dua belas konsep kepemimpinan yang diperkenalkan oleh Djokosantoso Moeljono yang pada intinya ditegaskan bahwa "kepemimpinan bukanlah sebuah kekuasaan, melainkan sebuah tugas, tanggung jawab, dan pengorbanan". Pakar ini juga memperkenalkan ada dua belas konsep kepemimpinan yang berasal dari berbagai figur kenamaan dari masa ke masa hingga masa kekinian, diantaranya konsep kepemimpinan Philip II dari Macedonia, konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, konsep kepemimpinan asta brata, konsep kepemimpinan analisis kemungkinan, konsep kepemimpinan menghindari kesempitan wawasan, konsep kepemimpinan jari tangan, konsep kepemimpinan 3-H, konsep kepemimpinan keseimbangan interaksi, konsep kepemimpinan positioning, konsep kepemimpinan titik pusat keseimbangan, konsep kepemimpinan VVC Plus, dan konsep kepemimpinan etika dan hukum.

Penutup

Peran serta dan keterlibatan orang tua, generasi muda Hindu (sekaa teruna), pemimpin, dan pengajar, kasek, wakasek, pengawas dalam jenjang pendidikan formal, informal, dan nonformal untuk menanamkan dan memantapkan  pembelajaran  dan pengajaran materi pendidikan agama Hindu termasuk materi kepemimpinan Hindu perlu ditingkatkan terus. Hal itu dimaksudkan agar kualitas pendidikan agama Hindu, penerapan pendidikan pada umumnya, dan kemantapan kehidupan bermasyarakat semakin baik di masa depan. Selain itu dimaksudkan untuk dapat terwujudnya sumber daya manusia Hindu yang andal di masa depan, yakni kader Hindu (sekaa teruna) yang suputra dan suputri maupun pemimpin Hindu (kasek, wakadek, dan pengawas) yang berkualitas dalam kipemimpin di bidang kependikan. Peran serta para pemimpin Hindu atau para generasi Hindu pada jenjang pendidikan informal, formal, dan nonformal yang mengacu pada referensi suci pustaka Hindu, seperti Manawadharmasastra, Nitisastra, Itihasa, Weda, dan lain-lainnya perlu ditingkatkan terus, agar dapat menemui sasaran pelayanan yang maksimal yakni adanya dinamika kualitas pendidikan informal, nonformal, dan formal agama Hindu serta tercapainya tujuan pendidikan agama Hindu pada khususnya dan pendidikan pada umumnya.

Kenyataan yang ada, walaupun masih dirasakan masih adanya keterbatasan kelembagaan pendidikan agama indu, masih banyak terdapat kendala aupun tantangan yang dihadapi dalam pendidikan agama Hindu secara formal, itu berarti tidak membuat upaya surut bagi para pemimpin Hindu, generasi muda Hindu, dan pemegang kebijakan pendidikan untuk berupaya dan berusaha terus, tanpa pantang menyerah dan tanpa pandang mundur sejengkalpun untuk terus berjuang mewujudkan nasib dan kemajuan para pemimpin (terutama kasek, wakasek, dan pengawas) dan termasuk juga para generasi muda Hindu melalui lembaga pendidikan agama Hindu dari jenjang prasekolah sampai pendidikan tinggi.

Kendala memang terus dirasakan dan dialami oleh pemimpin dan umat Hindu, mana diyakini perjuangan suci pasti akan menghasilkan kader muda Hindu, maka diyakini perjuangan suci pasti akan menghasilkan kader muda Hindu dan pemimpin Hindu (kasek, wakasek, pengawas) yang lebih baik di masa depan, baik secara kelembagaan, materi, pendanaan, kebijakan, serta out-put (phala) yang dicita-citakan oleh umat Hindu. Semoga pemimpin Hindu (kasek, wakasek, pengawas) semakin jaya dalam memimpin binaannya.

Konsep-konsep kepemimpinan yang banyak dijadikan tuntunan bagi pemimpin sangat penting dicamkan pula. Beberapa konsep kepemimpinan kekinian yang secara sederhana dipaparkan di depan, kiranya dapat menambah wawasan mengenai kepemimpinan dalam bidang pendidikan bagi para pemimpin di bidang pendidikan di kota Denpasar pada khususnya, dan bagi pemimpin Bali masa depan pada umumnya. Apalagi Bali saat ini mendambakan seorang pemimpin yang mampu memberikan pengayoman, perlindungan, pelayanan, pembinaan, serta perhatian yang baik dan benar bagi masyarakat Bali pada lima tahun ke depan. Semoga Bali memiliki pemimpin yang sesuai dengan hati nurani masyarakat Bali pada umumnya yang berasal dari berbagai bidang kompeten-sinya. Terlebih lagi nantinya pemimpin Bali ke depan mampu memberikan perhatian dan prioritas utama kepemim-pinannya di bidang pendidikan, bidang agama, budaya, sosial, pertanian, ekonomi, pariwisata, dan sebagainya.

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 492 Desember 2007