Hoax di Medan Kurukshetra

Bima mengangkat gadanya tinggi-tinggi. Dengan perasaan sedih ia mengumpulkan kekuatan untuk kemudian menghantamkan gada saktinya itu ke kepala gajah bernama "Aswatama". Gajah setia dan perkasa itupun ambruk. Mati. Inilah "fakta" yang sengaja diciptakan oleh Bima agar ia dapat berteriak "Aswatama telah matiiiiiii.....".

Teriakan yang sengaja ia kumandangkan agar didengar oleh Mahasenapati Drona, yang memiliki putra kesayangan yang kebetulan bernama sama, Aswatama. Guratan karma masa lalu telah membuat seekor gajah memiliki nama yang sama dengan nama seorang manusia, dan kini keduanya ada di medan perang yang sama, di pihak yang berlawanan.

Bima tahu persis, Mahasenapati Drona akan kehilangan kekuatan, kehilangan semangat tempur, bila putra kesayangannya tewas. Itulah peluang sempit untuk mengalahkan mantan gurunya yang maha sakti itu. Bima ingat bagaimana dahulu gurunya itu bersekongkol dengan Duryodana untuk berusaha membunuhnya dengan cara licik yaitu memberinya tugas mencari air suci ke dasar samudra. Kini, di medan Kurusetra, ia harus mencari cara mengalahkan gurunya itu.

Drona tersentak mendengar teriakan Bima. Benarkah ksatria Pandawa itu telah mengalahkan putranya? Ia sulit percaya. Sulit diterima bahwa putranya yang telah menguasai Brahmastra mampu dikalahkan oleh Bima. Maka ia menggiring keretanya mendekati kereta Yudistira, untuk mengajukan pertanyaan klarifikasi: "anakku Yudistira, benarkah Bima telah membunuh Aswatama? "Benar, eyang", kata Yudistira sambil menunduk. Ia melanjutkan jawabannya dengan bisikan kecil "tapi Aswatama gajah". Bisikan yang tak sampai ke telinga Drona.

Inilah untuk pertama kalinya dalam hidup Yudistira mengatakan sesuatu yang menyimpang dari kebenaran. Meski secara formil materiil ia tak berdusta, tapi ia tahu Drona bertanya tentang Aswatama putranya, dan ia menjawab dengan Aswatama gajah. Itulah dusta tersamar, yang tetap merupakan dusta karena mata illahi tak bisa direkayasa.

Dan, karma pun menemukan jalannya. Drona meletakkan peralatan perangnya, duduk bersemedi melepaskan atmannya dari raga. Lalu Drestayumna, putra Drupada, menuntaskan kepergian sang Mahasenapati Kurawa itu dengan sebuah ayunan pedang. Drona tewas. Ia tewas sesuai sumpah Drupada yang dahulu saling hina dengan Drona hingga Drupada melaksanakan upacara khusus untuk memohon kepada Dewata agar diberikan putra yang akan membunuh Drona. Sebuah hutang karma tuntas, sebuah investasi karma yang lain baru saja dimulai.

Drona tewas sesungguhnya bukan dalam perang tanding sesuai tradisi kesatria. Ia tewas karena berita samar yang sengaja diciptakan dan kemudian secara sengaja pula disebarkan Bima, lalu dibenarkan Yudistira. Ini bukanlah dusta murni, bukan HOAX murni, karena ada fakta yang 100% valid. Tetapi fakta itu sengaja dibuat, direkayasa, sedemikian hingga menyebabkan kesalahpengertian pihak lain.

Kesalahpengertian yang memang diinginkan, yang memang dijadikan tujuan dari pembuatan fakta itu. Dan, "rekayasa" inipun tak luput dari hukum karma. Kelak, di akhir perang Bharatayudha, Aswatama membalas karma buruk Bima dan Yudistira itu dengan kekejaman tiada tara: ia membakar tenda anak-anak Pandawa hingga semua keturunan Pandawa itu musnah dilalap api.

*****

Sahabat, tak ada kebaikan yang diperoleh melalui niat yang curang, perkataan yang tak benar, dan tindakan yang menyimpang dari Dharma. Bahkan berita validpun, bila direkayasa untuk tujuan tidak baik akan membawa karma buruk. Mari berhati-hati men-share atau me-like sebuah informasi. Jangan karena tidak suka dengan sesuatu atau seseorang, membuat kita menjadi agen Hoax. Karma itu tercipta lewat pikiran, perkataan dan perbuatan, termasuk perbuatan jari-jari diatas keyboard. Katakan dan share hanya hal-hal benar yang membawa kebaikan bagi semesta.

Aum a no bhadrah krtawo yantu wicwatah.
Om lokha samastha sukhino bhavantu.

Oleh: Ketut Budiasa
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI)