Banyu Pinaweruh: Bersihnya Jiwa Dengan Air Pengetahuan

Api ced asi papebhyah,
sarwabheyah papa krt tamah,
sarwa jnana peavenaiva
vrijinam santarisyasi.

Artinya,

walau engkau paling berdosa di antara manusia yang memiliki dosa,
 dengan perahu ilmu pengetahuan, lautan dosa akan dapat engkau seberangi.”

Bhagawan Gita IV.36

Setelah merayakan piodalan Saraswati, pada Minggu Paing Sinta umat Hindu melanjutkannya dengan malaksanakan prosesi Banyu Pinaruh. Sarana pelaksanaan Banyu Pinaruh menggunakan air kembang (kumkuman). Kumkuman itu dibawa ke tempat-tempat sumber air seperti pancuran, segara, sungai, beji yang diyakini sebagai tempat penyucian atau peleburan mala atau kotoran batin. Di situ umat membersihkan diri, keramas dan mandi. Tetapi jika tak sempat ke tempat-tempat seperti itu, umat bisa melakukannya di rumah.

Wuku Watugunung adalah wuku terakhir pada penanggalan Bali. Satu tahun kalender Bali terdiri dari 210 hari. Minggu terakhir dari setahun penanggalan Bali adalah Watugunung, yang ditutup pada hari Sabtu – Umanis – Watugung, dimana umat Hindu merayakan hari pemujaan kepada Sang Hyang Saraswati. Nah keesokan harinya pada hari Minggu – Pahing adalah hari pertama pada tahun baru kalender Bali, yang dimulai dengan wuku Sinta, umat Hindu melaksanakan ritual Banyu Pinaruh.

Banyu Pinaruh, berasal dari kata banyu (air) dan pinaruh atau pangewuruh (pengetahuan). Secara nyata, umat memang membersihkan badan mandi keramas menggunakan kembang di laut atau sumber-sumber air. Tetapi secara filosofis Banyu Pinaruh bermakna menyucikan pikiran dengan menggunakan air ilmu pengetahuan, sebagaimana diuraikan dalam pustaka Bagavadgita sebagai berikut: ”Abhir gatrani sudyanti manah satyena sudayanti.” Artinya, badan dibersihkan dengan air sedangkan pikiran dibersihkan dengan ilmu pengetahuan.

Banyu Pinaruh bukanlah hanya datang berkeramas atau mandi ke pantai atau sumber air. Tetapi, prosesi itu bermaksud membersihkan kekotoran atau kegelapan pikiran (awidya) yang melekat dalam tubuh umat dengan ilmu pengetahuan, atau mandi dengan air ilmu pengetahuan.

Banyu Pinaruh adalah air ilmu pengetahuan. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan asuci laksana dengan jalan membersihkkan diri di laut atau di sungai di pagi hari, tepatnya lagi disaat matahari terbit. Setelah mandi di laut atau di sungai, umat berkeramas memakai air kumkuman yakni air yang berisi berbagai jenis bunga-bunga segar dan harum. Setelah itu umat mempersembahkan sesajen berupa labaan nasi kuning serta loloh di merajan, setelah menghaturkannya, kemudian diakhiri dengan nunas lungsuran.

Banyu Pinaruh adalah hari dimana umat Hindu melaksanakan penyucian lahir dan batin. Mereka membawa sarana upakara berupa canang dan dupa untuk memohon punyucian lahir batin kepada Hyang Widhi agar segala kekotoran dilebur dan olehNya diberikan kesucian pikiran, jiwa dan raga. Selain itu Banyu Pinaruh merupakan hari pertama di tahun baru Pawukon. Tahun yang perputarannya terdiri dari 210 hari yang diawali dengan wuku Sinta ini, ditandai dengan hari suci Banyu Pinaruh.

Di hari ini, di saat matahari terbit, umat Hindu memuja -, memohon perlindungan dan kesucian jiwa raganya. Mereka melebur kaletehan selama setahun kalender Bali di laut, di sungai, atau di danau, agar mereka memperoleh kekuatan untuk melangkah menyongsong hari-hari berikutnya dengan bijak. Banyu Pinaruh bermakna simbolis saja, akan tetapi sesuai dengan ajaran Hindu kita di jamin oleh kitab suci bahwa melalui mandi dan keramas dengan menggunakan air ilmu pengetahuan, kita akan terbebas dari lautan kebodohan dan dosa.

Source: Drs. I Wayan Astika, M.Si. l phdikarangasem.wordpress.com