WHDI Bali "Ngayah" di Pura Hulun Danu Batur

Bangli - Jelang Karya Panca Wali Kraman Tri Kahyangan Jagat Pura Hulun Danu Batur, persiapan tak hanya dilakukan oleh masyarakat setempat. Sabtu (24/9) kemarin, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Bali juga turut ngayah membuat sarana upacara. Hal ini sebagai satu wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan kemakmuran.

Sarana upacara yang dibuat tak hanya terbatas canang. Namun juga perlengkapan lain berupa sangganan suci. Pelaksanaannya didampingi oleh sarati banten. Suasana kekeluargaan terlihat sangat kental. WHDI berbaur langsung dengan masyarakat sekitar. Hal ini pun mendapat apresiasi dari Manggala Karya Jero Lanang. Menurutnya, apa yang dilakukan itu merupakan salah satu bentuk sujud bhakti kepada Ida Batara yang berstana di Pura Hulun Danu. "Adanya pertisipasi krama Hindu ini, khususnya yang bergabung dalam WHDI sangat baik," ujarnya.

Disampaikan Jero Lanang, sebelum WHDI ngayah, persiapan menyambut karya yang berlangsung setiap sepuluh tahun ini sudah dilakukan krama setempat, yang diawali dengan matur piuning, nanceb taruban, dan mejaya-jaya pada Budha Kliwon Gumbreg, 3 Agustus lalu. Seluruh persiapan harus sudah tuntas dilakukan pada Sukra Pon Medangsia, 30 September 2016 mendatang. Pada 1 Oktober dilanjutkan dengan malik sumpah, melaspas meru, dan mendem pedagingan. Sementara untuk puncak karyanya akan berlangsung pada Saniscara Pon Pahang, 15 Oktober 2016."Kami berharap seluruh krama Hindu bisa datang menyaksikan prosesi mendem pedagingan dan ngalinggihang Arca Dewi Danu," harapnya.

Pelaksanaan karya itu, menurutnya tak sebatas seremonial. Namun yang paling penting bisa dijadikan sebagai mementum untuk memohon kemakmuran. Hal itu tak hanya bisa dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali. "Upacara ini untuk Krama Hindu se-Nusantara. Jadinya semua bisa menghaturkan bhakti," tandas Jero Lanang yang juga menjabat sebagai Prebekel Songan B, Kintamani ini.

Source: Koran Bali Post, 25 September 2016