Upaya Membangkitkan Kembali Ajaran Kuno Nusantara

 


(Foto: Wakil Dharma Adhyaksa Ida Rsi Acharya Agni Yogananda (kiri), Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusay Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (ketiga dari kanan), Ketua Umum Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) JM I Wayan Rajin, S.Ag (keempat dari kanan) Ketua Bidang Keagamaan dan Spiritualitas Ir. I Dewa Putu Sukardi, MBA (kelima dari kanan), Sekretaris PSN JM Drs. Nyoman Sudiarsa (keenam dari kanan), dan peserta Nangluk Bhaya Mahayu Ayuning Bhuwana)

Denpasar - Sebuah ritual Homa Yadnya Bali Kuno menjadi salah satu peserta dalam upacara Nangluk Bhaya (Marbu Bhumi) Mahayu Ayuning Bhuwana untuk ngrastitiang Jagat Kertih, Jana Kertih, dan Niti Praja Santi di Lapangan Niti Mandala, Bajra Sandi, Renon, (Sabtu 12/1). Ritual Homa Yadnya Bali Kuno ini dibangkitkan oleh Sangga Budhaireng yang penggaliannya di sisi Timur Gunung Agung, Karangasem. Sangga Budhaireng merupakan perkumpulan para yogi. Namun keberadaan dan ajaran Sangga Budhaireng yang dipimpin Guru Kresna Dwaja ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Padahal ajarannya sangat sarat dengan peradaban dan budaya Leluhur Kuno Nusantara dan ajarannya sangat penting dalam proses upacara yadnya di Bali.

Pengarah Homa Yadnya Bah Mula, Guru Kresna Dwaja saat ditemui dilokasi upacara, mengatakan bahwa Homa Yadnya Bah Kuno merupakan awal dari segala-galanya, baik penciptaan alam semesta. Sehingga simbol-simbol yang dimunculkan dalam ritual Homa Yadnya Bali Kuno merupakan simbol alam semesta, baik dari bawah, yaitu Asta Dala yang merupakan delapan penjuru mata angin maupun atas, yaitu Catur sebagai penguat manusia dan kehidupan. Sedangkan paling atas menggunakan Mahkota dari Pohon Pudak sebagai lambang yang mampu masuk ke wilayah Siwa, Budha Ksetra ketika menerima letupan energi dari bawah.

“Ritual Homa ini bersumber dari ajaran Waishnawa yang menjadi induk dari Kareshian Budha, Bujangga, dan Siwa. Air yang dipetik dari inti api Homa Bali Kuno itu, yang akan dipakai penyucian pada caru yang merupakan pembangkitan diva rupa, oleh para manggala, para Brahma Rsi dan para peserta yang berlandaskan Yoga Sapta Samadhi. Sehingga Homa atau pembangkitan energi .ini digunakan untuk formulasi dari Bhuta menuju Dewa,” ujar Guru Kresna Dwaja.

Dijelaskan, dari seluruh energi Homa yang bangkit dalam cdru melahirkan 3 hal. Yaitu, Whyaka yang merupakan segala bentuk spiritualitas dan wujud segala agama, Nirakara yang memunculkan seluruh energi apapun yang ada di alam semesta ini, dan Sakara, yaitu lahir seluruh puja mantra dan aksara-aksara suci. “Oleh karena itu, boleh dikatakan seluruh panca yadnya kita berasal dari proses ini (Homa Yadnya, red),” tandasnya.

Oleh karena itu, dikatakan bahwa tirta (air suci) yang lahir dari proses ritual Homa Yadnya Bah Kuno ini diberikan kepada para Sulinggih yang memuput upacara Yadnya. Sebab, tirta “Pawitra” ini bangkit dari ritual Homa, di mana tirta ini lahir dari api yang tidak tercemar oleh polusi. “Air dari apilah yang tidak terkena polusi, maka dari itu Homa Yadnya ini melahirkan tirta yang tidak terkena polusi, sehingga air (tirta-red) inilah yang digunakan untuk penyucian seluruh yadnya,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, dasar seluruh aspek yang digunakan oleh para praktisi dan para umat adalah Tantra. Sebab, Tantra merupakan energi jenius atau energi murni dari alam semesta. Keberadaannya sangat jauh dalam maha kesadaran bathin umat peserta. Di Bah ada tiga jenis Tantra. Untuk diperkotaan disebut dengan Tantra Kala Cakra, di Gunung disebut Tantra Yamantaka, dan di perairan disebut Tantra Heruka. Sementara aplikasi Tantra ada tiga, yaitu Sakti, Suci dan Diatmika (Wisesa).

Selain itu, dikatakan bahwa Para Praktisinya yang tergabung dalan Sangga Budhaireng tidak terjebak oleh aturan kepanditaan saat ini, karena mereka adalah pandita. jnana (Vajradhaka). Sehingga ajarannya kembali kepada ajaran kuno. “Kereshian Bali Kuno ada 3, yaitu Kabujanggaan yang memimpin upacara bhuta yadnya, Kabudhaan yang mengajarkan ahlak dan budi pekerti, serta Kasiwaan yang mengerti betul tentang planet dan rahasia hidup di dalamnya. Melalui ajaran dasar Homa ini kami ingin membangkitkan kembali ajaran kuno Nusantara,” tandasnya.

Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya tidak mempermasalahkan adanya berbagai aliran atau ajaran di Bali, asalkan dalam palaksanaannya sesuai dengan ajaran agama dan dilakukan dengan tulus ikhlas. Menurutnya, meskipun keberadaan Sangga Budhaireng tidak terikat oleh pakem PHDI, namun keberadaan menjadikan keberagaman ajaran yang ada di Bali. Apalagi keberadaan Sangga Budhaireng sangat mulia yaitu membangkitkan kembali ajaran-ajaran Bali Mula yang merupakan ajaran leluhur di era modernisasi seperti saat ini.

Source: Koran Bali Post, 13 Januari 2019