Upacara Tawur Kesanga Kabupaten Bekasi Padukan Budaya Jawa, Sunda Wiwitan, dan Bali


(Foto: Umat Hindu melakukan purwa daksina dengan membawa obor dan memikul Gunungan mengelilingi tempat upacara tiga kali pada pelaksanaan Tawur Kesanga Kabupaten Bekasi)

Bekasi - Antusiasme kehadiran umat Hindu Bekasi pada pelaksanaan upacara Ruwatan Bumi Tawur Kesanga memadati lapangan Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) di Jl. Raya Setu No.89, Desa Cibuntu, Kec. Cibitung, Jumat 16 Maret 2018. Umat Hindu sudah hadir sejak pukul 15.00 WIB yang tergabung dalam Majapahid Nusantara, Warga Sunda Wiwitan, dan Bali.

Acara yang diselenggarakan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Bekasi untuk pertama kalinya ini dihadiri kurang lebih 1.000 umat Hindu. Turut hadir hadir tokoh Majapahid Nusantara Raden Hermandito Sulistyo Djati Brotowinoto dari Keraton Yogyakarta dan rombongan yang mempersembahkan sesaji Jawa.

Berbagai sarana ritual upacara Tawur Kesanga sudah dipersiapkan seperti dari Majapahid Nusantara membuat Gunungan, masyarakat Sunda Wiwitan mempersembahkan sesaji Sunda, sedangkan umat asal Bali mempersembahkan banten Tawur Panca Sata, Gebogan, Rayunan, Biakala, Durmanggala, Prayascita serta saran ritual lainnya.

Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bekasi juga hadir yang diwakili oleh Wakil Ketua DPRD Hj. Daris bersama Camat dan Kepala Desa Cibuntu. Selain itu, turut hadir Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Kolonel Inf (Purn) I Nengah Dana, S.Ag; sesepuh umat Hindu Irjen Pol Drs. Ketut Untung Yoga, S.H., MM; Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi; Ketua Banjar SDHD Seroja SDHD Tambun, SDHD Cikarang, Majapahid DPD Jabar; dan Mahasiswa President University yang tergabung dalam KMHDI.

Persiapan upacara Tawur Kesanga sudah dilakukan sejak empat hari sebelumnya. Setiap hari Panitia bersama Sarati Banten menyiapkan segala banten yang diperlukan dibeberapa titik mengingat umat yang domisilinya terpencar di Seroja, Tambun, Cibitung dan Cikarang. Pelaksanaan upacara Tawur Kesangan diawali dengan persembahan Tari Puspanjali yang dibawakan oleh empat orang Taruni STTD.

Ketua Panitia Ir. Nyoman Mertasari dalam laporannya menyampaikan bahwa ada beberapa kegiatan yang telah dilakukan Panitia Nyepi Tahun Baru Saka 1940 Kabupaten Bekasi diantaranya, yaitu menanam 300 batang pohon di tepi Kali Lemah Abang Cikarang, Seminar dan Dharma Tula tentang Penguatan Sraddha, Melasti ke Pura Segara Cilincing, dan Tawur Kesanga.

Sementara itu, Ketua PHDI Kabupaten Bekasi Kombes Pol Drs. I Made Pande Cakra, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa upacara Ruatan Bumi atau Tawur Kesanga sebagai wujud penghormatan dan penyucian alam setelah melakukan upakara Melasti atau penyucian diri ke laut, yang mempunyai makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.

"Dalam ajaran Hindu Tri Hita Karana yang bermakna tiga penyebab kebahagian hidup, salah satu di antaranya memelihara dan menghormati lingkungan alam beserta isinya di mana saja kita berada. Kemudian berbhakti kepada Sang Hyang Widi dan menjaga hubungan baik dengan sesama umat manusia," ujarnya.

Made Pande Cakra mengatakan, keharmonisan dan relasi dengan ketiga elemen ini akan menciptakan Jagadhita yaitu kententraman dan kebahagiaan hidup di lingkunag keluarga, masyarakat dan Negara.

Berdasarkan catatan sejarah sekitar tahun 79 Masehi, suku-suku bangsa di Bharata Wangsa atau India seperti Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malwa, dan Saka saling berperang tiada henti, akhirnya atas inisiatif Bangsa Saka yang telah lelah berperang mengadu senjata, ingin merubah dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan dengan merangkul suku-suku yang ada. Gagasan inipun diterima oleh raja-raja lainnya, maka bergantilah nafsu bertempur tersebut dengan masing-masing memajukan kesenian dan kebudayaan. Atas keberhasilan ini, para raja-raja di sekitarnya sepakat menjadikan hari penobatan Raja Kaniska I dari Dinasti Kusana Suku Bangsa Yeuhchi mengangkat Kalender Saka menjadi Kalender Kerajaan, menjadi awal tahun penanggalan Saka sebagai penghormatan atas jasa Suku Saka menghentikan peperangan.

Agar rakyat terus ingat maka pada Tahun Baru Saka tersebut diwajibkan untuk tiidak melakukan empat hal untuk mengintrospeksi diri, yaitu tidak bepergian (amati lelungan), bekerja (amati karya), menyalakan api (amati gni), dan menikmati hiburan (amati lelanguan) yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian.

Pada perayaan tahun ini yang bertepatan dengan perayaan hari suci Saraswati, PHDI Pusat melalui Panitia Nyepi Nasional telah menetapkan tema Nyepi Nasional yaitu "Melalui Catur Brata Penyepian Kita Tingkatkan Soliditas Sebagai Perekat Keberagaman Dalam Menjaga  Keutuhhan NKRI". Tema ini juga diilhami oleh makna Tahun Baru Saka tersebut di atas.

PHDI Kabupaten Bekasi menyampaikan rasa hormat dan penghargaan yang tinggi kepada Pemerintah Daerah dan jajaran, atas terciptanya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya demokrasi termasuk dalam kehidupan beragama, sehingga umat Hindu yang berjumlah sekitar 9.000 jiwa dapat hidup tentram di wilayah Kabupaten Bekasi. Sebagai bukti dihormatinya hak-hak warga negara dalam beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, sebagaimana makna yang terkandung dalam sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

Pada kesempatan itu PHDI Kabupaten Bekasi juga menyampaikan permohonan dukungan dari Pemda Bekasi dan jajaran agar umat Hindu di Kabupaten Bekasi difasilitasi agar dapat memiliki tempat ibadah dan tempat kremasi atau TPU.

Panitia Tawur Kesangan Kabupaten Bekasi menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang tinggi secara khusus kepada Pimpinan STTD yang telah meberikan bantuan dan peminjaman tempat untuk upacara Ruwatan Bumi.

Wakil Ketua DPRD Bekasi, Hj. Daris menyampaikan bahwa dirinya mendapat tugas dari Ketua DPRD untuk mewakili Pemda pada upacara Ruwatan Bumi ini. Menurutnya, Pemerintah Daerah sangat menghargai keberagaman, dengan menghilangkan istilah mayoritas minoritas, semuanya punya hak hidup yang sama. Bersama anggota Dewan lainnya mencetuskan gagasan Wisata Relegi agar Bekasi memiliki obyek wisata.

"Kalau bisa membangun tempat ibadah dan yang paling memiliki nilai jual adalah Pura. Akan menjadi kebanggaan masyarakat Bekasi dan akan dikunjungi tidak saja orang Bekasi bahkan juga mungkin dari negara luar. Saya tertarik dengan bentuk Pura seperti di poster di belakang saya (Gapura Pura jagat Karta Gunung Salak). Kalau bisa kita bangun seperti itu di Bekasi," ujarnya yang disambut tepuk tangan umat Hindu.

Sesepuh umat Hindu Irjen Pol. Drs. Ketut Untung Yoga dalam sambutannya menguraikan tema Nyepi pada tahun 2018 ini agar keberagaman menjadi kekuatan untuk menjaga keutuhan NKRI. Juga menguraikan tentang Catur Brata Penyepian, maknanya dikaitkan dengan sejarah kelahiran Tahun Saka sekitar 13.000 tahun yang lalu di India.

Perpaduan Tiga Budaya
Selajutnya Dharma Wacana oleh Ketua Sabha Walak PHDI Pusat Kolonel Inf (Purn) I Nengah Dana, S.Ag yang menyampaikan bahwa Upacara Ruwatan Bumi atau Tawur Kesanga ini memadukan tiga budaya, yaitu Jawa melalui Majapahid, Sunda Wiwitan, dan Bali. Juga disampaikan ayat-ayat suci Weda berkaitan dengan hari suci Nyepi, di mana pendekatan budaya akhirnya dapat mengatasi konflik dan menciptakan kedamaian. Hindu mengajarkan harmoni yang bisa merangkai segala keberagaman menjadi kekuatan untuk memajukan peradaban, kehidupan yang damai.

"Damai adalah dambaan kita semua. Dalam Catur Brata Penyepian, umat Hindu melakukan mulat sarira, introspeksi dalam keheningan," ujarnya.

Pelaksanaan pecaruan upakara Tawur Kesanga dipimpin manggala upakara Jero Mangku Gede Made Mudita di dampingi Jero Manglu Wayan Agus Pujayana. Setelah selesai prosesi tawur dilanjutkan sembahyang bersama. Kemudian dilanjutkan dengan purwa daksina yaitu umat membawa obor dan memikul Gunungan mengelilingi tempat upacara tiga kali kemudian pawai obor dan Gunungan diarak ke jalan raya lalu kembali ke tempat semula.

Begitu selesai pawai Gunungan diangkat-angkat kemudian umat bersorak berebut mengambil hasil bumi sampai habis. Pada pukul 19.45 WIB acara selesai dengan tertib, lancar, dan aman. Perlahan-lahan umat meninggalkan lapangan STTD membawa rasa kagum atas penyajian Upakara Ruwatan Bumi di luar Pura yang penuh makna.


(Foto: Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Kolonel Inf (Purn) I Nengah Dana, S.Ag (kedua dari kanan) bersama umat Hindu dalam pelaksanaan Tawur Kesanga Kabupaten Bekasi, Jumat 16 Maret 2018)

Laporan: Ketua PHDI Kabupaten Bekasi Kombes Pol Drs. I Made Pande Cakra M.Si.