Upacara Simakrama Weda Nusantara Wedhar Hayuning Penataran


(Foto: Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI Bapak Drs. I Wayan Buda, M.Pd (kedua dari kiri), Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal PHDI Pusat Bapak I Wayan Sudarma, S.Ag., M.Si (kedua dari kanan), dan Sekretaris Bidang Ideologi dan Kesatuan Bangsa PHDI Pusat Bapak Astono Chandra Dana, SE., MM (ketiga dari kanan)

Blitar - Ribuan umat Hindu Kabupaten dan Kota Blitar hadir dalam upacara Simakrama Weda Wedhar Hayuning Penataran tahun 2017, di Candi Palah Penataran Blitar, Sabtu, 21 Oktober 2017.

Acara ini dipimpin oleh Romo Rsi, Romo Bhagawan, Ida Pedanda, Romo Dukun Tengger dan dihadiri oleh umat Hindu dari seluruh penjuru Nusantara. Kurang lebih sekitar 5000 orang peserta yang hadir dari berbagai daerah seperti Bali, Ambon Maluku, Makasar, Papua, NTT, Kalimantan, Sumatra, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Madura, Malang, Lumajang, Tenger Probolinggo, Pasuruan, Surabaya, Madiun, Magetan, Nganjuk, Trenggalek, Tulunggung, Blitar, Kediri, Sidoarjo, dan Jombang.

Sehari sebelumnya, pada Jumat 20 Oktober 2017, pukul 19.00, bertempat di Pura Agung Prabha Bhuana-Talun-Blitar dilakukan serah terima Wayang Kulit oleh Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI Bapak Drs. I Wayan Buda, M.Pd kepada Ketua PHDI Kabupaten Blitar Bapak Lestari. Serah terima Wayang Kulit disaksikan Kepala Dinas Sosial mewakili Bupati Blitar, Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal PHDI Pusat Bapak I Wayan Sudarma, S.Ag., M.Si. Dan pada malam harinya dilakukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Dalang muda yang beragama Hindu.

Upacara Simakrama Weda Wedhar Hayuning Penataran dibuka secara ritual oleh Ida Rsi dengan mempersembahkan sesaji di Pintu gerbang Candi Penataran. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi pemujaan di utama mandala yang dipimpin oleh semua Pandita yang hadir dan didampingi oleh para Pinandita serta pinisepuh umat.

Ketua PHDI Kabupaten Blitar Bapak Lestari dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota Blitar, Pemerintah Pusat serta PHDI Pusat yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. "Kami berterima kasih juga kepada komunitas-komunitas yang telah ikut serta mendukung acara ini,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Blitar Bapak Drs. H Riyanto, MM mengucapkan terima kasih kepada mayarakat Hindu karena sudah bersama-sama membangun Blitar sehingga Blitar tetap aman dan Damai. Riyanto juga merencanakan pembangunan Pura Segara di pantai Jolo Sutro agar umat Hindu memiliki tempat untuk Melasti. "Mari tetap jaga persatuan dan keutuhan bangsa," ujar Riyanto.

Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal PHDI Pusat Bapak I Wayan Sudarma, S.Ag., M.Si mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Blitar yang telah melayani umat Hindu di Blitar dengan baik. I Wayan Sudarma juga mengajak agar umat Hindu menjadi model dalam menjaga kerukunan, model dalam menjaga kebhinekaan dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan.

"Mari kita kembangkan dan gali terus kearifan lokal dalam ritual keagamaan. Sehingga Hindu akan semakin indah. Kami juga meminta kepada Pemerintah Daerah agar memberikan keleluasaan kepada umat Hindu dalam memanfaatkan situs-situs atau candi-candi Hindu sebagai tempat pemujaan," paparnya.

Direktur Urusan Agama Hindu Bapak Drs. I Wayan Buda, M.Pd dalam Dharma Wacananya yang mewakili Dirjen Bimas Hindu menyampaikan hakikat dari ajaran Tri Hita Karana yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. "Hakikat dari ajaran Tri Hita Karana adalah menjaga kelestarian alam, menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah sebagai orang tua, dan tentunya tidak melupakan ajarah suci leluhur," ujarnya.

I Wayan Buda juga mengajak agar umat Hindu tetap kompak dan guyub, dan kedepan berharap ada Wakil umat Hindu yang duduk menjadi anggota Legislatif, sehingga ada penghubung umat kepada Pemerintah.

Manjaga Persatuan dan Kesatuan

Kegiatan selanjutnya dilakukan upacara persembahyangan bersama Puja Tri Sandhya dan Kramaning Sembah yang pimpin oleh Para Pandita. Kemudian dilanjutkan dengan acara ritual mengelilingi Candi Penataran sebanyak tiga kali. Acara ritual tersebut dipimpin oleh seorang Wiku.

Sebelum pemercikan tirta suci, peserta dari masing-masing daerah yang telah membawa air suci dan tanah yang dikeramatkan di daerahnya yang kemudian disatukan dan airnya dijadikan satu dan dimasukan ke dalam sembilan gentong air. Ritual tersebut mempunyai maksud agar kesatuan dan persatuan NKRI tetap terjaga. Ritual dilanjutkan dengan menyatukan tirta pada buah Mojo yang kemudian digunakan untuk dipercikan pada photo Bung Karno dan Gajah Mada yang dipajang dan yang dikalungi ronce bunga melati, yang mempunyai arti bahwa perjuangan pada jaman Majapahit disemangati oleh Gajah Mada dan untuk perjuangan saat ini disemangati oleh Bung Karno.

Sebagai penggagas acara dan juga sekaligus sebagai Pengurus PHDI Blitar Bapak Yuliono menyampaikan tujuan dari pelaksanaan kegiatan. Yuliono mengatakan nama kegiatannya adalah Simakrama Weda Nusantara Wedhar Hayuning Penataran Tumuju Manggoloning Sedya Kukuhing Jagad Nuswantoro. Yuliono menjelaskan upacara Krama Weda sejak pada jaman Singosari-Majapahit itu sudah dilakukan.

"Simakrama artinya bertemu, weda dengan cara mantra-mantra weda mohon kerahayuan bakti kepada Tuhan kepada leluhur agar kita mendapatkan wahyu keanugrahan berupa ilmu pengetahuan, rasa damai, rasa kebersamaan sehingga intinya upacara memohon kerahayuan jagat Nusantara,” jelasnya.

Acara Upacara Wedhar Hayuning Penataran 2017 ini, berlangsung dengan khidmad dan tertib sampai acara selesai. Keseluruhan acara ritual Wedhar Hayuning Penataran 2017 selesai pukul 13.00WIB.

Berikut foto-foto pelaksanaan kegiatan Upacara Simakrama Weda Nusantara Wedhar Hayuning Penataran 2017:


(Foto: proses pelaksanaan upacara ritual Wedhar Hayuning Penataran)


(Foto: para Pandita melakukan proses pemujaan Upacara Wedhar Hayuning Penataran)


(Foto: proses memercikan tirta suci mengelilingi Candi Penataran)


(Foto: para Pandita dalam Upacara Wedhar Hayuning Penataran)

Oleh: admin
Laporan: I Wayan Sudarma, S.Ag., M.Si (Jero Mangku Danu)
Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal