Tongkonan, Bertahan di Arus Zaman

Toraja - Panel kayu berukir sepanjang kira-kira 3 meter itu menghiasi dinding ruang pertemuan di dalam kantor arsitek Yori Antar. Kayunya terlihat lapuk dan warnanya sudah pudar, memberi kita tanda tentang usianya. “Itu panel rumah Toraja,” kata Yori.

Panel kayu itu dibeli Yori di Bali. Pikir Yori, daripada orang asing yang menikmatinya, lebih ia menyimpan kekayaan Nusantara itu di kantornya. Namun, ada sebersit perasaan bersalah, “Jangan-jangan yang saya lakukan justru mempercepat kepunahan rumah-rumah tradisional."

Ketika mengunjungi Toraja, Yori menceritakan kegelisahan itu kepada salah seorang penduduknya. Tak disangka, orang tersebut menjawab santai, “Tak usah khawatir.” Ia menjelaskan, panel-panel yang usianya sudah tua memang harus diganti. Itu justru menjadi sarana menurunkan ilmu membangun rumah kepada generasi di bawahnya. “Saya tersentak dan menjadi sadar, budaya lisan memang telah lama menjadi cara arsitektur lokal untuk bertahan,” tutur Yori. Perbincangan singkat itu menjadi pembuka obrolan selanjutnya tentang arsitektur Nusantara.

Indonesia punya dua budaya membangun, budaya modern yang datang dari dunia industri dan budaya tradisional. Secara kasatmata kita sudah bisa melihat, budaya arsitektur modern mendominasi. Kita mendirikan bangunan dengan material-material fabrikasi dan mengacu pada ilmu arsitektur Eropa. Metode membangun dilakukan dengan disiplin yang ketat. Ada gambar arsitektur, struktur, lanskap, sampai pencahayaan. Konstruksinya menggunakan konstruksi tektonik, menancapkan fondasi dalam pada bumi. Prosesnya dijaga oleh tenaga ahli hasil didikan perguruan tinggi.

Di sisi lain, kita juga punya arsitektur tradisional yang beragam dan menjadi patokan penduduk dalam membangun rumah jauh sebelum Eropa dan ilmu-ilmu arsitektur mereka masuk ke Nusantara. Materialnya lokal, diambil dari sekitarnya. Masyarakat Indonesia biasa menggunakan kayu, bambu, ijuk, dan alang-alang. Karena berasal dari alam, material ini pun punya toleransi waktu pakai sehingga pada usia tertentu mesti diganti. “Material arsitektur tradisional biasanya harus diganti dalam 15–20 tahun, dan ternyata itu angka generasi. Sambil membongkar, mereka transfer pengetahuan,” ujar Yori.

Keunggulan yang lain, proses yang telah berlangsung puluhan hingga ratusan tahun ini sudah mengalami penyempurnaan sehingga konstruksinya makin adaptatif terhadap kondisi geografis. Yang paling menonjol adalah penyikapan terhadap gempa. Arsitektur tradisional menggunakan fondasi umpak, konstruksi knock down, dan teknik sambungan ikat sehingga bangunan lebih lentur ketika terjadi guncangan.

Uniknya, meski punya konsep dasar yang hampir sama tentang konstruksi, arsitektur Indonesia yang terdiri atas lebih dari 500 etnis bisa sangat beragam. Yori sangat menyayangkan pupusnya pengetahuan kita tentang arsitektur lokal. “Padahal, Indonesia adalah akar arsitektur. Kita menyimpan pengetahuan luar biasa tentang arsitektur tahan gempa,” kata Yori.

Di antara ratusan arsitektur Nusantara yang sudah tak terlacak jejaknya, cukup menghibur bahwa tongkonan, rumah tradisional Toraja, masih bertahan di tanah asalnya. Lengkap dengan alang atau lumbung di depan rumah mereka. Di sepanjang wilayah Batutumonga, misalnya, sejumlah tongkonan tampak menyembul apik di antara bentangan hijau sawah-sawah.

Tongkonan selalu dibangun menghadap ke utara, ke arah ulunna lino (kepala dunia) dalam pandangan kosmologi Toraja. Orang Toraja percaya Puang Matua, pencipta jagat raya, bersemayam di bagian utara. Oleh karena itu, rumah harus menghadap utara agar mendapat berkah.

Seperti rumah-rumah tradisional lain, tongkonan merupakan rumah panggung. Fondasinya umpak, dari batu alam. Di atasnya, diletakkan tiang-tiang kayu penyangga bangunan rumah. Penggunaan fondasi ini memperlihatkan penduduk Toraja berusaha melindungi tiang kayu dari kelapukan karena air tanah dan meminimalisasi efek gempa bumi.

Dinding kayu diukir. Ada beragam motif, tetapi yang paling sering muncul adalah motif pa’tedong atau kerbau. Bagi masyarakat Toraja, kerbau lebih dari sekadar hewan ternak untuk keperluan konsumsi. Kerbau menjadi standar nilai tukar sekaligus status sosial.

Sebagian penduduk memang masih mempertahankan bentuk asli tongkonan, tetapi banyak pula yang sudah memodifikasinya. Penduduk Toraja, misalnya, menggunakan semen dan bata untuk bagian tertentu rumah. Panel dinding pun beberapa tak diukir. Sinergi yang modern dan tradisional itu barangkali tak terelakkan, tetapi kita berharap warisan pengetahuan arsitektur tradisional yang luar biasa masih tetap diteruskan ke generasi selanjutnya.

Sumber: http://infoklasika.print.kompas.com