Sekolah di Luar Bali Kekurangan Ribuan Guru Agama Hindu


(Foto: Sekretaris Dirjen Bimas Hindu Kemenag R.I I Made Sutresna, S.Ag., M.A (kiri) dan Direktur Pendidikan Hindu Dirjen Bimas Hindu Kemenag R.I Drs. I Wayan Budha, M.Pd. (kanan) di sela-sela pelaksanaan Jambore Pasraman Tingkat Nasional V)

Denpasar - Keberadaan tenaga pendidik atau guru agama Hindu untuk sekolah di luar Bali masih sangat terbatas. Di seluruh Indonesia, kekurangan tenaga pendidik agama Hindu diperkirakan mencapai 5.000 orang. Jumlah itu termasuk untuk daerah-daerah terpencil, seperti di Ternate, Ambon, dan daerah lainnya di Indonesia. Direktur Pendidikan Hindu Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I. Drs. I Wayan Budha, M.Pd mengatakan hal itu disela-sela acara Jampasnas V, Rabu (3/7) kemarin.

Menurut Wayan Budha, kedala yang dihadapi selama ini adalah dalam hal perekrutan tenaga pendidikan agama Hindu. Pasalnya, kebijakan untuk melakukan perekrutan itu ada di setiap pemerintah daerah. "Jatah rekrutmen inilah yang penting untuk disikapi," katanya.

Wayan Budha menambahkan, guru agama Hindu yang ada saat ini ada yang berstatus PNS maupun non-PNS. Totalnya sekitar 8.000 orang, tetapi yang berstatus PNS hanya sekitar 3.000 orang.

Hal senada juga dilontarkan Sekretaris Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama R.I. I Made Sutresna, S.Ag., M.A. Dikatakan, kendala teknis yang dihadapi dalam merekrut guru agama Hindu adalah karena kewenangannya ada di setiap daerah. Sekolah berada di bawah naungan Dinas Pendidikan di masing-masing daerah. "Dirjen Bimas Hindu tidak mempunyai kewenangan rekrutmen karena itu ranahnya pemerintah daerah. Di luar Bali yang ada di bawah yayasan, dibayar intensifnya dari Kementerian Hindu hanya 200 ribu per bulan," katanya.

Menurut Sutresna, solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga pendidik agama Hindu ini adalah dengan membangun Pasraman. Siswa Hindu yang di sekolahnya tidak ada guru agama Hindu bisa masuk dan belajar di Pasraman.

Sutresna menambahkan, saat ini ada 13 perguruan tinggi meliputi empat perguruan tinggi negeri dan sembilan perguruan tinggi swasta yang "mencetak" calon guru agama Hindu. Namun saat pengangkatan tenaga pendidik, formasinya tidak ada di luar Bali. "Kendala lainnya, ketika lulusan pendidikan agama Hindu di Bali banyak yang belum bekerja, mereka juga enggan mengabdi keluar daerah," katanya.

Source: Koran Bali Post, Kamis 4 Juli 2019