Rakornas BPH: Membangun Indonesia Melalui Penyebaran Dharma


(Foto: seluruh peserta Rakornas BPH Tahun 2019 foto bersama dengan salam pancasila seusai pembukaan di wantilan Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Bogor)

Bogor – Badan Penyiaran Hindu (BPH) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tahun 2019, di Wantilan Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Jl. Raya Nanas, Bogor Jawa Barat. 

Rakornas dilaksanakan selama tiga hari, 1-3 Februari 2019 dengan mengusung tema “Membangun Indonesia Melalui Penyebaran Dharma”. Rakornas ini merupakan yang pertama kalinya digelar selama BPH dibentuk. Peserta Rakornas BPH Tahun 2019 melibatkan BPH dari Provinsi seluruh Indonesia. Selain itu, Rakornas BPH juga mengundang seluruh organisasi Hindu tingkat nasional dan lembaga, badan, yayasan bentukan PHDI Pusat.

Ketua Panitia I Wayan Kantun Mandara, S.Ag., M.Fil.H dalam laporannya menyampaikan bahwa agenda Rakornas BPH Tahun 2019 adalah untuk memperkenalkan kepengurusan baru BPH Pusat maupun Provinsi. “Melakukan koordinasi dengan BPH Provinsi dan menyusun program kerja BPH Tahun 2019. Selain itu, dalam Rakornas nanti juga akan dilakukan pengesahan kode etik, logo, dan slogan BPH,” ujarnya.

Wayan Kantun menambahkan tujuan dari rakornas adalah untuk meningkatkan sinergisitas dan koordinasi antara BPH Pusat dengan BPH Provinsi yang selama ini belum terjalin dengan intens. Ia menambahkan peserta yang hadir sebanyak 45 orang dari 28 BPH Provinsi yang sudah terbentuk. 

Ketua Badan Penyiaran Hindu Pusat KS Arsana, S.Psi mengatakan tugas sebagai badan penyiaran adalah untuk mengkomunikasikan pesan-pesan indah pengetahuan weda yang diyakini kebenarannya. Karenanya, kata Arsana, BPH harus memiliki persepsi yang sama dan memiliki brand atau citra tersendiri tentang Hindu.

“Untuk itulah hari ini kita berkumpul bersama, berdiskusi, berdialog bersama supaya visi yang sama, strategi yang sama, dan metode komunikasi yang sama bisa kita sinergikan,” ujarnya.

Arsana bercerita bahwa sebelum memulai acara pembukaan beberapa teman-teman dari BPH Provinsi berdialog dan bertanya tentang perbedaan fungsi antara lembaga dharma duta dengan badan penyiaran. Arsana menjelaskan bahwa lembaga dharma duta dan badan penyiaran seperti dua buah lingkaran yang saling beririsan yang disatu sisi memiliki wilayah garapan yang berbeda.

“Misalnya LDD menyiapkan dharma duta yang sistem komunikasinya face to face dengan metode sad dharma. Sementara badan penyiaran menyiarkan melalui media tidak berinteraksi secara langsung. Namun keduanya memiliki persamaan yaitu sama-sama merupakan badan otonom PHDI Pusat,” jelasnya.

Terkait hubungan antara Badan Penyiaran Hindu di pusat dengan daerah, Arsana menjelaskan bahwa hubungunnya tidak struktural melainkan sifatnya hanya koordinasi. “Itulah kenapa pertemuan kita yang pertama kali ini kita sebut dengan Rapat Koordinasi Nasional, bukan rapat kerja. Walaupun di dalamnya ada agenda penyusunan program kerja,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan Badan Penyiaran Hindu. Wisnu mengatakan kegiatan rapat ini sangat bagus karena dengan rapat kita berkumpul saling tatap muka berdiskusi satu sama lain.

“Harapannya ke depan umat Hindu mendapat siaran yang positif, siaran yang membangun. Tyang juga berharap umat kita memiliki karakter seperti pandawa lima. Memiliki moral, mentalnya kuat, berani, tegas, pintar, cerdas, dan cendekia serta arif dan bijak,” ucapnya.

Pada hari sebelumnya, Rakornas BPH diisi dengan pengarahan dari Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI Prof. Drs. I Ketut Widnya, M.A., M.Phil., Ph.D. Ketut Widnya sangat mengapresiasi kegiatan rakornas yang pertama kali diselenggarakan itu. Selain itu, rakornas tersebut juga menghadirkan narasumber dari televisi swasta RCTI Ir. Mohammad Enang, S.Kom dengan materi “Peranan Management Broadcasting dalam Media Penyiaran Percikan Dharma”. 

Pada saat itu Badan Penyiaran Hindu secara resmi mengesahkan lambang dan slogan BPH yang baru. Lambang dan slogan BPH yang baru dihasilkan melalui sayembara yang dilakukan beberapa hari sebelumnya. Adapun juara satu pemenang lomba lambang BPH diraih dari perwakilan umat Hindu Banten dan pememang juara satu lomba slogan diraih perwakilan umat Hindu Lampung. Slogan BPH yang diputuskan adalah "Pewarta Dharma Penyejuk Jiwa"

Turut hadir dalam Rakornas BPH Tahun 2019, Ketua Yayasan Giri Tamansari Letjen TNI (Purn) Dr. I Wayan Midhio, M.Phil, Ketua Penasehat BPH Marsdya TNI (Purn) I Gusti Made Oka, S.E., Ketua PHDI Kabupaten Bogor, Prajaniti, Peradah, WHDI, KMHDI, PSN, ICHI, ADHI, Pandu Nusa. Hadirnya juga Ketua Umum Lembaga Dharma Duta I Made Awanita, S.Ag., M.Pd dan Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A yang diundang sebagai peninjau serta seluruh jajaran pengurus BPH Pusat.


(Foto: Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya menyerahkan hadiah juara satu kepada pemenang lambang BPH)

Oleh: admin