Puncak Gema Perdamaian XIV Dihadiri Berbagai Pemuka Agama

Denpasar - Puncak Gema Perdamaian (GP) XIV dengan tenia "Damai itu Indah, Damai itu Upaya", berlangsung pada Sabtu (8/10) kemarin di lapangan timur Bajra Sandhi, Renon. Acara dimulai dengan penampilan gender, pal-awakya dan Agni Hotra sekaligus mengiringi VIP menggoreskan ekspresi damai di 2 kanvas serta menyaksikan demo dari beberapa ashram.

Atraksi Okokan yang langsung menjadi pemimpin Padayatra mengelilingi lapangan Bajra Sandhi dan diiringi oleh arak-arakan GP, Patung Garuda Pancasila, bentangan kain merah putih sepanjang 100 meter, kain putih sepanjang 100 meter, 100 lembar bendera Merah Putih.

Ketua Panitia Gema Perdamaian XIV, Jero Jemiwi, menga-takan, dalam acara yang dihadiri semua pemuka agama yaitu pandita, pinandita, swamiji, yogi, ulama, pastor, dll. itu diawali pada tahun 2003. Gema Perdamaian yang pertama digelar sebagai sebuah gerakan kebangkitan rasa percaya diri, meyakinkan diri sendiri, dan meyakinkan dunia bahwa Bali ini adalah pulau damai.

Momentum ini bermula meski tragedi kemanusiaan pernah ter-jadi di Bali pada tahun 2002 dan 2005. "Ini adalah pembelajaran yang tentu selamanya patut kita ingat sebagai perenungan dan sebagai pengingat kita bahwa rasa damai adalah rasa terpenting bagi setiap orang untuk dapat terus melanjutkan kehidupan," paparnya.

Acara yang juga dihadiri Kapolda Bali dan Ketua DPRD Provinsi Bali itu merupakan acara tahunan atas swadana, swadaya, tidak ada satu pihak pun yang menjadi sponsor acara tersebut. Maka dari itu, acara itu tidak dimiliki oleh suatu komunitas tertentu tapi dimiliki oleh seluruh rakyat Bali, seluruh rakyat Indonesia, seluruh insan pendamba damai. "Siapa pun bisa ikut di sini, baik dari ormas, non-ormas, forum komunikasi apa pun bisa, dan satu pesannya, agar kita sadar dua hal, hidup ini luar biasa anugerah indah kalau kita hidup dalam damai dan harmoni dan yang kedua adalah damai itu urusan hati, urusan pribadi setiap individu, tapi individu ini untuk disadarkan perlu engineering social sehingga giat Gema Perdamaian inilah mesin sosialnya," paparnya.

Jero Jemiwi yang merupakan Ketua Panitia Perempuan pertama itu menegaskan, momentum GP tidak untuk memperingati bom Bali. "Kita mengambil spirit damai, kita mengambil pelajaran t luar biasa dari musibah bom tahun 2002 itu, sehingga GP melangsungkan kegiatan untuk membangkitkan kesadaran damai yang pertama kali itu pada tahun 2003 dan ini adalah tahun ke-14," tuturnya.

President World Hindu Parisad sekaligus Ketua Sabha Pandita PHDI Pusat, Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa, mengatakan, upacara doa damai ini patut dihargai di hadapan peradaban situasi dunia yang bergejolak.

Pendidikan informal akan multikultur, toleransi dan pemahaman akan arti damai perlu dilaku-kan selain melakukan upaya yang sifatnya hakikat yaitu berdoa memohon ke hadapanTuhan. Kita meyakini doa menghasilkan energi harmonis yang mampu mengkompnsasi energi buruk di dalam kosmik, semoga dapat membawa hasil yang positif.

Source: Koran Bali Post, Minggu Paing 9 Oktober 2016