Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan Tropis Indonesia

Jakarta - Pergeseran iklim yang terjadi saat ini yang diikuti berbagai bencana alam seperti tanah longsor, banjir, kebakaran, gempa bumi dan lain sebagainya, tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Menjaga kelestarian alam juga merupakan upaya manusia untuk menjaga keharmonisan dan keserasian dengan alam. Hidup sebagai manusia dan mahluk hidup lainnya tidak bisa lepas dari kondisi alam beserta isinya. Semakin banyak yang peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup dengan berbagai dimensinya merupakan upaya yang patut dibanggakan. Karena peduli terhadap lingkungannya.

Umat Hindu sendiri sangat menghormati keberadaan hutan, pohon dan kelestarian lingkungan.Wujud nyata dari penghormatan ini dapat dilihat dari adanya upacara tumpek uduh. Tumpek uduh dimaknai sebagai hari turunnya Sanghyang Sangkara yang menjaga keselamatan hidup segala tumbuh-tumbuhan (pohon-pohonan) agar tumbuh subur, terhindar dari hama penyakit dan memberikan hasil yang lebih baik dan berlimpah. Dijalanpun seringkali ditemukan pohon-pohon yang dilingkari dengan kain poleng (putih hitam). Ciri ini memiliki makna filosofis yang tinggi dimana para leluhur mengajarkan untuk “memanusiakan lingkungan”, sehingga pohon-pohonan tersebut akan diperlakukan layaknya memperlakukan manusia. Manusia diharapkan menghindari penebangan pohon namun apabila hal tersebut terpaksa dilakukan maka diharapkan setiap penebangan pohon selalu diikuti dengan penanaman pohon lain di sebelah pohon yang ditebang itu. Tradisi ini pun hingga kini tetap dipertahankan.

Mengenai fungsi hutan sendiri dibahas  dalam kitab Pancawati. Didalam kitab ini dijelaskan mengenai tiga fungsi hutan untuk membangun hutan lestari (wana asri) yakni: 

1. Maha wana adalah hutan belantara sebagai sumber kehidupan manusia dan pelindung berbagai sumber hayati didalamnya. Maha wana juga sebagai waduk alami yang akan menyimpan dan mengalirkan air sepanjang tahun. Air dalam ajaran Hindu seperti dinyatakan dalam Bhagawadgita14 bahwa makanan berasal dari air atau hujan. Munculnya hujan dari yadnya dan yadnya itu adalah karma. 

2. Tapa wana merupakan fungsi hutan sebagai sarana dalam spiritual yang menggemakan ajaran spiritual dimana di hutan para pertapa mendirikan asram dan memanjat doa serta mengajarkan ajaran-ajaran suci ke dalam setiap hati umat manusia. Disini tersirat ajaran bahwa manusia harus menjaga tingkat kesucian dari hutan hingga orang tidak dengan seenaknya menebang pohon yang terdapat di hutan.

3. Sri wana adalah hutan sebagai sarana ekonomi masyarakat karena dari hutanlah sebagian hasil bumi dapat dihasilkan, dengan merusak hutan berarti merusak salah satu penunjang ekonomi masyarakat.

Ketiga konsep ini sama dengan pola pikir modern dimana orang modern juga memiliki pemikiran bahwa hutan merupakan paru-paru dunia yang menjaga keseimbangan alam dan tempat menyimpan air yang menjadi sumber air tanah, hutan juga dapat menjadi tempat rekreasi untuk menenangkan diri setelah jenuh menjalani rutinitas yang hanya menghasilkan stress dan ketegangan jiwa dan hutan pula yang menjadi tempat penghasil komoditi yang bisa meningkatkan tarap ekonomi masyarakat. Dan untuk menjaga Hutan Tropis di Indonesia, Parisadha Hindu Dharma Indonesia sebagai majelis tertinggi umat Hindu Bersama-sama dengan seluruh Majelis Agama lainnya ditambah beberapa LSM dan masyarakat adat melakukan prakarsa lintas agama untuk hutan tropis Indonesia atau Interfaith Rainforest Initiative (IRI)

Apa itu Interfaith Rainforest Initiative (IRI)

Prakarsa Lintas Agama Untuk Hutan Tropis atau Interfaith Rainforest Initiative (IRI) adalah aliansi internasional lintas agama yang berupaya memberikan urgensi moral dan kepemimpinan berbasis agama pada upaya global untuk mengakhiri penggundulan hutan tropis.

IRI merupakan wadah bagi para pemimpin agama dan komunitas agama untuk bekerja bahu-membahu dengan masyarakat adat, pemerintah, LSM, dan pelaku bisnis terkait aksi-aksi untuk melindungi hutan tropis dan hak-hak mereka yang berperan sebagai pelindungnya. Prakarsa ini percaya bahwa sudah tiba saatnya bagi gerakan dunia untuk merawat hutan tropis, yang didasarkan pada nilai yang melekat pada hutan, dan diilhami oleh nilai-nilai, etika, dan panduan moral keagamaan.

Mengingat posisi penting Indonesia sebagai salah satu dari lima negara yang memiliki lebih dari 70 persen hutan tropis dunia yang tersisa, United Nations Environment Programme (UNEP), organisasi lintas agama dunia dan mitra lintas agama Indonesia, merencanakan untuk melakukan lokakarya, dialog serta meluncurkan program IRI Indonesia pada tanggal 30-31 Januari 2020 di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta.

Acara ini akan dihadiri oleh 200 peserta dari 12 provinsi di Indonesia yang terdiri dari para pemrakarsa, pimpinan majelis keagamaan, masyarakat adat, para ahli, LSM, pemerintah, serta organisasi-organisasi internasional yang saat ini sudah bekerja bahu-membahu di negara Brasil, Kolombia, Kongo ,dan Peru melalui Interfaith Rainforest Initiative, yaitu PBB, Religions for Peace, Rainforest Foundation Norway,  dan GreenFaith. Acara ini juga rencananya akan dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Siti Nurbaya Bakar, dan akan dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin.

Selanjutnya pada 1 Februari akan dibentuk Dewan penasihat Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan untuk memberikan saran dan arahan strategis tentang hal-hal substantif yang berkaitan dengan Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan Tropis di negara masing-masing dan membawa suara para pemangku kepentingan untuk mendukung implementasi kegiatan tingkat nasional melalui Dewan Pelaksana-nya.

Oleh: admin