PHDI Provinsi Banten Gelar Diksa Pariksa Pertama Kalinya


(Foto: Sang Diksita Jero Mangku Gede Prof. Dr. I Wayan Ardana, M.Pd., M.Fil.H)

Banten - Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Banten menggelar Diksa Pariksa untuk pertama kalinya bertempat di Wantilan Pura Mertasari, Rempoa, Minggu 19 Nopember 2017. Kegiatan Diksa Pariksa dihadiri umat Hindu se Provinsi Banten serta tamu undangan dari lembaga-lembag Hindu se-Jabodetabek.

Diksa Pariksa merupakan rangkaian kegiatan Upacara Mediksa. Kegiatan ini wajib dilaksanakan sebelum upacara Mediksa. Hal ini sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Diksa Dwijati yang merupakan Bhisama Sabha Pandita PHDI Pusat. Disebutkan dalam Bhisama bahwa "Dalam proses pelaksanan diksa dvijati Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat berkewajiban memberikan dukungan administrasi dalam rangka diksa pariksa dan rekomendasi setelah pelaksanaan diksa pariksa yang dipimpin oleh Guru Nabe atau yang ditunjuk, serta menerbitkan sertifikat setelah ada pernyataan dari Guru Nabe.”

Sang Diksita yang akan melaksanakan upacara Madiksa yaitu Jero Mangku Gede Prof. Dr. I Wayan Ardana, M.Pd., M.Fil.H. Upacara Meadiksa adalah upacara Rsi Yadnya yang memiliki tujuan untuk menjadikan seorang Walaka (orang biasa) atau Jero Mangku menjadi seorang Sulinggih (orang Suci).

Setelah pelaksanaan upacara Diksa Pariksa, pada tanggal 22 November 2017 akan dilaksanakan upacara Nuwur Adi Guru (Nabe). Nuwur Adi Guru (Nabe) ini merupakan upacara awal dari upacara Diksita. Maknanya sebagai suatu keharusan terhadap Adi Guru (Nabe) yang akan melaksanakan Diksita bagi calon Diksita.

Sementara pada Kamis, 23 November 2017, pukul 04.00 WIB – 15.00 WIB dilaksanakan upacara Amati Raga. Amati Raga merupakan hal yang penting dalam proses upacara Diksita. Amati Raga bermakna mematikan nafsu keduniawian atau Sadripu pada diri Calon Diksita dengan cara Anyekung Sarira. Di dalam Anyekung Sarira Calon Diksita berlaku sebagai orang mati yang  kemudian secara simbolis akan lahir untuk kedua kalinya dari kaki Adi Guru (Nabe) yang disebut Dwi Jati.

Selanjutnya pada pukul 15.00 WIB – 16.00 WIB dilaksanaka upacara Mesiram. Dalam upacara Mesiram ini calon Diksita dimandikan oleh Wiku Saksi. Dalam Mesiram ini calon Diksita masih tetap bersikap Amati Raga dengan posisi Amusti Agranasika. Makna dari pada  Mesiram ini adalah untuk melebur kekotoran yang disebut Dasa Mala yang melekat pada diri calon Diksita. Dengan telah dileburnya Dasa Mala maka calon Diksita usai Diniksan akan menjadi suci tanpa leteh melalui proses Dwijati.

Berikut foto-foto kegiatan Diksa Pariksa Sang Diksita Jero Mangku Gede Prof. Dr. I Wayan Ardana, M.Pd, M.Fil.H:


(Foto bersama pelaksanaan Diksa Pariksa)


(Foto: Sang Diksita Jero Mangku Gede Prof. Dr. I Wayan Ardana, M.Pd., M.Fil.H)

Oleh: admin
Source: hindubanten.com