PHDI Data Nasib Mahasiswa Hindu


(Foto: Kondisi Pura Jagatnatha Palu, Sulawesi Tengah pasca gempa dan tsunami)

Palu - Derita koraban gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi tengah dirasakan umat di seluruh negeri. Keprihatinan dan kepedulian membaur menjadi satu. Bencana yang tak mengenal siapa dan tidak membedakan kobannya kini menjadi derita bersama, termasuk umat Hindu yang ada di Sulawesi Tengah.

Kini, 300 ribuan umat Hindu yang tersebar di seluruh Sulawesi Tengah sedang membaur untuk meringankan beban sesamanya. Bahkan, derita 5.000-an umat Hindu yang berada di Kota Palu kini masih menyesakkan dada. Tercatat hingga hari kelima pascagempa, terdata ada sembilan korban meninggal dari umat Hindu. Tiga di antaranya polisi yang bertugas di pesisir pantai saat geladi bersih persiapan acara HUT Kota Palu.

Korban lainnya, menurut Sekretaris PHDI Sulawesi Tengah I Ketut Suarayasa, Selasa (2/10) kemarin, ada di Perumahan Balaroa yang amblas. "Kami masih melakukan pendataan jumlah konban dari umat kita. Hingga pagi ini tercatat sembilan yang terdata," ujarnya via sambung telepon ketika dihubungi Bali Post. Adapun korban umat Hindu terparah ada di wilayah Petobo, Sulawesi Tengah. Daerah ini terendam lapisan lumpur.

Suarayasa mengak untuk meringankan derita umat Hindu di Sulawesi Tengah khususnya ibu Kota Palu, dukungan semeton Bali sangat di harapkan. "Pura Jagatnatha yang kami bangun sekitar 20 tahun lalu hancur. Bahkan tembok panyengker yang dibangun dua tahun lalu juga hancur," jelasnya.

Ia mengatakan tak terhitung lagi korban harta benda termasuk rumah milik umat Hindu yang hancur. Kerugiaan umat Hindu terdata tersebar di berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah.

Dijelaskannya, untuk memudahkan komunikasi dengan umat, saat ini konsentrasi penanganan bencana dilakukan di dua posko utama, satu di Pura Jagatnatha, Palu dan di Balai Banjar Tanggul. "Kami berharap dukungan dan spirit untuk bisa membantu saudara kita yang tertimpa musibah," ujarnya.

Ia menjelaskan, khusus di Kota Palu ada sekitar 5.000 umat Hindu. Rinciannya 500 KK umat Hindu dengan anggota 2.000 jiwa. Di luar itu ada sekitar 1.000 jiwa lagi yang belum terdata oleh PHDI Sulawesi Tengah. Sedangkan 2.000 lainnya umat Hindu di Kota Palu adalah mahasiswa. Mereka datang dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah. "Nasib para mahasiswa ini yang belum kami data secara pasti. Saat bencana hanya sebagian kecil mahasiswa yang berkumpul di Posko Pura Jagatnatha. Kini mereka sudah pulang ke kampungnya," jelasnya.

Terkait keberadaan umat Hindu di Sulawesi Tengah, Suarayasa mengatakan berawal dari Perang Jagaraga sekitar 1896. Saat itu banyak warga Bali yang dikirim ke Sulawesi dan mereka menetap di wilayah Kabupaten Parigi Montong. Kabupaten ini kini menjadi konsentrasi umat Hindu di Sulawesi Tengah dengan jumlah mencapai 100 ribu jiwa.

Sementera warga Bali yang menuju Sulawesi ikut program transmigrasi mulai tahun 1960-an. Mereka menempati sejumlah daerah transmigrasi di Sulawesi termasuk di Mamuju dan Donggala. "Mereka datang dari seluruh kabupaten di Bali," jelasnya.

Source: Koran Bali Post, Rabu Umanis, 3 Oktober 2018