Petilasan Raja Blambangan Ditemukan di Lereng Gunung Raung


(ilustrasi)

Banyuwangi - Satu lagi peninggalan sejarah Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) terkuak. Kali ini petilasan Raja Blambangan VIII Prabu Bhima Koncar yang dikenal dengan Minak Sumendhe ditemukan di Dusun Sugihwaras Desa Bumiharjo Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, tepatnya di lereng selatan Gunung Raung. Konon petilasan ini adalah lokasi dibunuhnya sang Dalem Blambangan oleh utusan Raja Waturenggong, Bali, periode 1489-1512 Masehi.

Lokasi petilasan ini ditemukan oleh Pasemetonan Agung Dalem Blambangan (PADB). Di lokasi petilasan dibangun sebuah prasasti dan palinggih, upacara pamelaspas digelar Minggu (24/1). Upacara dihadiri ribuan umat Hindu Bali dan Banyuwangi. "Sebenarnya kita sudah lama menemukan petilasan Sinuhun Prabu Bhima Koncar (Dalem Blambangan VIII), tetapi baru hari ini (kemarin - red) digelar upacara pamelaspas setelah pembangunan palinggih dan petilasan sejak tiga bulan lalu," kata Ketua Panitia Karya Anak Agung Nyoman Anom.

Upacara pamelaspas dipuput Ida Pedanda Gede Putra Keniten dari Geria Taman, Monang-maning, Denpasar. Pria asal Puri Bunutan, Bangli ini menjelaskan temuan petilasan Dalem Blambangan ini berdasarkan sejarah dan kuna dresta serta pawisik. Yang unik, lokasi petilasan ini persis di samping Pura Giri Mulyo, Desa Bumiharjo sekaligus berdekatan dengan petilasan Rsi Markandiya dan sumber kamulyan. Dijelaskan, pihaknya membangun petilasan ini untuk memberikan pembelajaran sejarah kepada generasi penerus. Sekaligus sebagai tujuan wisata spiritual. Di petilasan ini ditemukan sebuah batu besar bulat, di dekatnya dibangun sebuah arca sebagai simbol Dalem Blambangan VIII. Lalu dibangun juga tiga palinggih, masing-masing gedong dalem (raja), gedong panglima dan gedong prajurit. Upacara pamelaspas akan diakhiri dengan nyegara gunung ke Danau Rowo Bayu yang juga petilasan Raja Blambangan lainnya.

Anom mengisahkan, Dalem Blambangan VIII meninggal setelah dibunuh Patih Ularan, utusan Raja Waturenggong. Peristiwa itu bermula saat Raja Waturenggong hendak mempersunting putri Dalem Blambangan VIII. Namun niat itu ditolak sang putri setelah mengetahui lukisan wajah Waturenggong yang buruk. "Konon lukisan itu dibuat oleh patih Blambangan Bhima Cili, Tidak tahu apa maksudnya membuat lukisan buruk tersebut," jelasnya.

Akhirnya Raja Waturenggong murka dan memerintahkan Patih Ularan menyerang Blambangan. Singkat cerita Dalem Blambangan VIII berhasil ditangkap, lalu dipenggal di lokasi petilasan ini. Tubuhnya dimakamkan di tempat itu, sedangkan kepalanya dibawa ke Klungkung. Namun aksi keji ini justru membuat murka Raja Waturenggong. Patih Ularan diusir dari istana. Potongan kepala Dalem Blambangan VIII kemudian dimakamkan di Gobleg, Buleleng. "Kita sudah buatkan petilasan juga di Gobleg dan dipelaspas 12 Juni 2013," jelasnya.

Pihaknya juga sudah membuat upacara sawa wedana Dalem Blambangan VIII di Puri Agung Bunutan Bangli, 23 Agustus 2013 dan maligia lajur 10 September 2014. Sementara itu, Ketua PHDI Kecamatan Glenmore Samingin menyambut baik pembangunan petilasan Dalem Blambangan ini. Apalagi lokasinya berdekatan dengan pura. Petilasan dan palinggih Dalem Blambangan ini akan dirawat bersama umat Hindu di Glenmore, jumlahnya 148 KK. Sayangnya jalan raya ke lokasi masih rusak parah.

Sumber: Koran Bali Post, Selasa Kliwon 26 Januari 2016