Pesparani, Ajang Unjuk Harmoni

(Foto: Pesta Paduan Suara Gerejani atau Pesparani)

Jakarta - Sekitar 6.800 umat Katolik dari seluruh wilayah Indonesia akan mengikuti Pesta Paduan Suara Gerejani atau Pesparani pertama di Indonesia yang digelar di Ambon, Maluku, 27 Oktober-2 November 2018. Kegiatan ini menjadi proyek laboratorium perdamaian di kota itu.

"Berhubung acara ini merupakan proyek laboratorium perdamaian, akan ada beberapa peserta yang menginap di rumah penduduk yang berbeda agama dengan peserta. Ini sebagai lambang kerukunan antarumat beragama," kata Ketua Umum Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional Adrianus Meliala kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Adrianus mengatakan, Pesparani Nasional ini tak hanya didukung oleh umat Katolik. Sejumlah organisasi keagamaan, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), turut mendampingi Pemerintah Provinsi Maluku menemui pemerintah pusat untuk menyiapkan acara ini.

"Ini mencerminkan dukungan luar biasa dari semua agama di Ambon," kata Adrianus.

Ketua MUI Maluku Abdullah Latuapo juga mengatakan, Pesparani bukan sekadar perayaan umat Katolik. Dalam penyelenggaraannya, kegiatan tersebut melibatkan seluruh umat beragama di Maluku.

Kebersamaan seperti ini juga terjadi ketika penyelenggaraaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) 2012 dan Pesta Paduan Suara kontingen dari Provinsi Banten malah tinggal dikediaman Uskup Keuskupan Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC," kata Abdullah melalui keterangan tertulisnya.

Ambon pernah mengalami konflik bernuansa agama. Namun, berbagai pihak meyakini konflik tersebut erat kaitannya dengan kepentingan segelintir elite politik waktu itu. Abdulah mengatakan, pada dasarnya masyarakat Maluku bersaudara. Marga Pati, misalnya, ada yang beragama Islam, tetapi juga ada yang beragama Kristen. Begitu pula halnya dengan Maluputi, Toisuta, dan marga-marga yang lain.

Ketua Bidang Lomba dan Juri Ernest Mariyanto mengatakan, peserta Pesparani akan mengikuti 12 perlombaan pada 29-30 Oktober 2018, antara lain paduan suara, mazmur, dan bertutur kitab suci. Sementara pada hari-hari di luar perlombaan akan diadakan pameran dan malam kesenian.

Source: koran Kompas, Rabu, 17 Oktober 2017