Panitia Nyepi Akan Gelar Sarasehan Nasional


(Foto: flyer sarasehan nasional)

Jakarta - Panitia Nasional Perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1941 Bidang Sarasehan akan menyelenggarakan Sarasehan Nasional pada hari Sabtu, 23 Februari 2019, bertempat di Gedung Nusantara V MPR/DPR RI, Jl. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat. Sarasehan Nasional tersebut mengusung tema "Refleksi Catur Brata Penyepian dalam Penguatan Berbangsa dan Bernegara" yang rencananya akan dihadiri 750 orang peserta se-Jabodetabek.

Sarasehan Nasional ini akan menghadirkan para pembicara yang ahli dibidangnya. Sebagai Keynote Speaker Menteri Koordinator Kemaritiman RI Luhur Binsar Pandjaitan dan beberapa narasumber antara lain Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah,  Gubernur Bali I Wayan Koster, Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana, dan Praktisi Teknologi Digital dan Artificial Intelligence Yohanes Kurnia Widjaja. Sebagai moderator Wahyu Dhyatmika, Pimpinan Redaksi Portal Tempo.co.

Koordinator Bidang Sarasehan Nyoman Gde Agus Asrama, S.Kom. mengatakan momentum Perayaan Nyepi Tahun Saka 1941 perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menyumbangkan pemikiran-pemikiran Hindu disegala bidang pembangunan bangsa sebagaimana tujuan umat Hindu untuk mencapai Mokshartam Jagadhita.

"Proses pembangunan berkelanjutan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebuah keniscayaan. Oleh karenanya, dukungan umat Hindu pada pembangunan yang berkelanjutan bukan saja sejalan dengan Dharma Negara, tetapi juga dalam kerangka mewujudkan Dharma Agama," kata pria yang akrab disapa Nyoman Agus itu.

Nyoman Agus menambahkan dalam konteks bangsa Indonesia, tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi.

"Tujuan ini dicanangkan bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan pada resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030. Tujuan ini merupakan kelanjutan atau pengganti dari Tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals (MDGs) yang ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin dari 189 negara sebagai Deklarasi Milenium di markas besar PBB pada tahun 2000 dan tidak berlaku lagi sejak akhir 2015," jelasnya.

Nyoman Agus melanjutkan bahwa untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat-nya, Indonesia bercita-cita menjadi satu dari sepuluh kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030. Untuk mencapai cita-cita tersebut, pemerintah menetapkan lima sektor utama yang akan memasuki era industri 4.0 yang dirumuskan dalam peta jalan "Making Indonesia 4.0".

"Dengan menyambut kemajuan teknologi, ditengarai Indonesia akan mampu meningkatkan produktivitas dan mendulang peningkatan kinerja perekonomian di masa yang akan datang. Peluang yang besar terbuka di depan mata dan perlu diraih. Namun, diketahui juga masih ada sejumlah tantangan yang berpotensi menghambat dan menciptakan ancaman bagi kemajuan," ujarnya.

"Dalam pusaran revolusi industri generasi ke-empat inilah umat Hindu merancang kegiatan sarasehan nasional yang mengambil tema: 'Refleksi Catur Brata Penyepian dalam Penguatan Kedaulatan Berbangsa dan Bernegara'. Dengan demikian umat Hindu diharapkan akan mendapatkan gambaran tentang perkembangan Revolusi Industri Keempat di Indonesia dan sejauh mana umat Hindu siap serta mampu menyongsong, melihat potensi-potensi yang dapat berkontribusi dalam pencapaian produktivitas nasional yang lebih tinggi di era Revolusi Industri Keempat untuk memperkuat kedaulatan berbangsa dan bernegara," imbuhnya.

Sarasehan Nasional nantinya juga akan dirangkaikan dengan Angayubagya 60 Tahun Parisada Hindu Dharma Indonesia yang jatuh pada tanggal 23 Februari 2019.

Oleh: admin