Padu Serasi Alam dan Budaya di Batutumonga

Toraja - Mobil sekelompok pelancong melaju di atas aspal yang menanjak dan meliuk-liuk. Kiri-kanannya pepohonan. Gemerisik daun-daun yang tersapu angin ditambah suara cengkerik menjadi menjadi orkes alam yang menyenangkan. “Di tempat seperti ini, paling enak jendela dibuka lebar,” ujar salah seorang pelancong sambil memencet tombol pembuka kaca mobil. Seketika sejuk menyergap masuk, menyegarkan paru-paru.

Para pelancong itu sedang menyusuri daerah Batutumonga di lereng Gunung Sesean, gunung tertinggi di Toraja, Sulawesi Selatan. Setelah mencapai ketinggian tertentu, hamparan sawah menjadi pemandangan yang mendamaikan. Nun di bawah, Sungai Sadan tampak seperti garis berkelok yang membelah tanah ini. Kita juga bisa melihat Rantepao, pusat kota Toraja.

Terbayang keterpukauan Alida Petronella van de Loosdrecht-Sizoo ketika pertama kali bermukim di Toraja. Ia adalah istri Antonie Aris van de Loosdrecht, misionaris pertama Gereformeerde Zendingsbond di Tana Toraja. Kekaguman Alida pada keelokan Toraja dituangkan di dalam surat yang ditulisnya 100 tahun lalu, pada 23 Mei 1914.

Seperti dilansir koran kompas (15/9/2013), Alida menyebut Toraja hampir seindah Swiss. “Ada rangkaian pegunungan yang seperti batu pahatan menjulang tinggi, dari jauh tampak seperti reruntuhan tua. Di belakangnya ada lebih banyak gunung yang lebih tinggi, puncak-puncaknya tertutup awan.” Kebenaran deskripsi itu terasa betul di Batutumonga.

Selain memesona karena lanskapnya, Batutumonga menjadi salah satu tempat paling menarik di Toraja karena barangkali bisa menjawab rasa ingin tahu kita tentang bagaimana kehidupan dan kematian berjalan bersisian. Wilayah ini masih memelihara interaksi dengan orang-orang yang sudah meninggal. Hal itu terlihat jelas dari situs-situs fisik di sana.

Dalam perjalanan menelusur Batutumonga, pemakaman berupa batu-batu besar yang dilubangi terlihat di kanan-kiri. Sesekali, ditemui juga lubang yang baru setengah jadi di dalam batu besar atau orang yang sedang menatah batu untuk melubanginya. Lubang-lubang itu disiapkan sebagai tempat peristirahatan anggota keluarga yang telah meninggal.

Orang Toraja percaya, kematian merupakan jalan menuju puya, tempat bersemayamnya para dewata. Oleh karena itu, jenazah diletakkan di tempat yang tinggi. Di langit, orang yang sudah meninggal bisa terus berkarya untuk kesejahteraan keluarga yang masih tinggal di bumi.

Situs purbakala
Ketakjuban bertambah ketika kita sampai di Bori Parinding, masih di kawasan Batutumonga. Ini merupakan kompleks makam kuno yang digunakan sejak 1717. Sejumlah batuan raksasa yang tersebar di beberapa titik menjadi tempat bersemayam jenazah keluarga bangsawan keturunan Nenek Ramba.

Di tengah bagian muka Bori Parinding, batu-batu tegak (menhir) menciptakan pemandangan yang ganjil karena sudah begitu jarang kita melihatnya. Bahkan di situs pemakaman lain di Toraja, menhir seperti ini tak ditemukan. Menhir yang oleh orang Toraja disebut simbuang itu digunakan untuk menambatkan kerbau yang akan dikurbankan dalam upacara kematian rambu solo. Dalam kebudayaan Toraja, kerbau atau tedong menjadi elemen penting yang menyimbolkan gotong royong dan status sosial. Harganya bervariasi, dalam kisaran puluhan juta hingga semiliar rupiah.

Pohon tarra yang menjadi makam bagi “bayi layu” sebutan untuk bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, dapat pula ditemukan di Bori Parinding. Batang pohon ini dilubangi dan diisi dengan jenazah bayi. Berdasarkan filosofi tallu lolona, diceritakan tentang tiga pucuk kehidupan: manusia, hewan, dan tumbuhan.

Bayi yang dikuburkan di dalam pohon akan menyatu dengan pohon kehidupan itu. Arwahnya naik ke atas melalui dahan, ranting, dan pepohonan. Jenazah itu juga dipercaya memberikan kesuburan bagi tanah dan turut merawat sumber air di sekitarnya.

Di Batutumonga, kita hampir tak berjarak dengan jejak kematian. Di sekeliling, kita bisa menemui makam, tengkorak dan tulang-tulang manusia, atau sesaji yang dipersembahkan untuk leluhur. Kematian adalah tahap kehidupan yang wajar, dihormati, bahkan dianggap sebagai perpindahan ke dimensi yang lebih tinggi untuk melanjutkan karya yang lain. Betapa menyenangkan, elok alam yang tak bisa ditampik di Batutumonga berpadu apik dengan kekayaan budaya masyarakat Toraja. Tempat kita bisa menyegarkan diri sambil meresapi kearifan penduduknya.

Sumber: Koran Klasika Kompas, Kamis 10 September 2015