Orasi Ilmiah Ketum Pengurus Harian PHDI Pusat: Sains dan Pluralisme

Jakarta – Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya menyampaikan Orasi Ilmiah dalam acara Dies Natalis XXIII Dan Wisuda XV Sarjana Strata Satu (S1) STAH Dharma Nusantara Jakarta di Auditorium Binakarna Hotel Bidakara Pancoran, Kamis, 28 September 2017.

Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat yang sekaligus sebagai Sekretaris Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) memberikan Orasi Ilmiah dengan mengangkat tema “Sains dan Pluralisme”. Berikut selengkapnya isi Orasi Ilmiah Ketua Umum Pengurus Haria PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya:

Oṁ Swastyastu
Merdeka,
Salam Pancasila,

Yang Terhormat  Ketua STAH DN Jakarta, Prof Dr. Ir. Made Kartika D., Dipl-Ing.
Yang Saya Hormati Dijen Bimas Hindu Kementerian Agama RI

Yang Kami Hormati:
Ketua Yayasan Dharma Nusantara
Para Guru Besar
Wakil Ketua STAH DN Jakarta
Para Dekan, Dosen, dan Mahasiswa
Wisudawan dan Wisudawati
Ketua Panitia Dies Natalis dan Wisuda Sarjana S1, Bapak Ketut Budiawan, MH., M.Fil.H,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur, ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas asung kertha wara nugraha-Nya pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul bersama dalam rangka Dies Natalis XXIII dan Wisuda XV Sarjana Strata Satu (S1) Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta.

Saya menyambut baik penyeleggaraan Dies Natalis ini sebagai salah satu wujud nyata dari upaya bersama, antara perguruan tinggi, pemerintah, serta masyarakat, untuk terus mencari peluang guna memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembangunan bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Hadirin yang saya hormati,

Ramalan Alfin Tovler tentang tiga gelombang perubahan sungguh telah menjadi kenyataan. Gelombang pertama ialah lahirnya masyarakat pertanian. Gelombang kedua, tumbuhnya masyarakat industri, sedangkan gelombang ketiga adalah munculnya masyarakat informasi yang kemudian disusul dengan munculnya masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Di era gelombang ketiga ini, masyarakat hidup dengan berbasis ilmu pengetahuan, knowledge based society.

Masyarakat informasi dan masyarakat berbasis pengetahuan, merupakan masyarakat yang menyadari kegunaan dan manfaat informasi. Masyarakat demikian memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengakses dan memanfaatkan informasi serta menjadikan informasi sebagai nilai tambah dalam peningkatan kualitas kehidupan. Kita meyakini bahwa teknologi informasi adalah salah satu pilar utama pembangunan peradaban manusia saat ini. Keandalan teknologi Informasi dihampir seluruh akses kehidupan manusia menjadikan teknologi sebagai sumber bagi munculnya peradaban baru.

Tentu kita juga ingin bahwa masyarakat kita memiliki keunggulan teknologi informasi. Masa depan kita akan cerah dan kita akan mampu membangun kehidupan yang makin maju. Sebab tidak ada satu pun bidang kehidupan bangsa ataupun sektor pembangunan nasional yang tidak memerlukan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Bidang politik, hukum, sosial, ekonomi, dan lain-lainnya memerlukan teknologi informasi. Terlebih lagi dalam bidang militer misalnya, maka mutlak memiliki kemampuan teknologi dan informasi. Saat ini sudah jauh berbeda strategi, doktrin, taktik sistem senjata yang digunakan dalam Perang Dunia ke I, Perang Dunia Ke II, konflik pada perang dingin. Saat ini, ada yang disebut sebagai revolution in military of act, suatu sistem yang dibangun dengan mengedepankan keunggulan teknologi informasi dan komunikasi.

Demikian pula bidang perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Ketika pemerintah ingin melakukan pembangunan good goverment, pemberantasan korupsi, dan menangani bencana alam, tentu memerlukan on line sistem, guna memastikan bea dan cukai bekerja secara benar, memastikan BUMN-BUMN membayar deviden yang benar, pajak yang benar, dan sebagainya. Dalam menangani masalah bencana alam, juga memerlukan teknologi informasi, kita memerlukan early warning system untuk tsunami, kita memerlukan sarana guna menangani rekontruksi, yang didukung dengan teknologi informasi sehingga mudah diakses baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang memerlukan informasi.

Pendek kata, kita makin sadar bahwa kehadiran teknologi informasi, sains sangatlah diperlukan. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi ini, diharapkan bisa memberi nilai tambah, dalam komunitas dan bahkan dalam kehidupan sebuah bangsa.

Dalam lingkungan pemerintahan, penggunaan teknologi informasi ini memunculkan istilah the electronics government atau e-government. Penggunaan teknologi ini di lingkungan pemerintahan dalam beberapa kasus berhasil memberikan banyak nilai positif yang menggembirakan. Pelayanan menjadi lebih cepat dan mudah. Aktifitas pemerintahan pun lebih efisien dan efektif, tetapi sebaliknya ketidakberhasilan implementasi e-government pada beberapa kasus sering terjadi, kita sering dengar, karena belum dipahaminya secara komperhensif peran teknologi informasi dalam komunikasi, juga kurangnya kesiapan aparatur pemerintah dan juga rendahnya pengetahuan masyarakat atau e-literacy, menjadi salah satu sebab ketidakberhasilan ini.

E-government jangan hanya diartikan sebagai suatu layanan pemerintahan kepada masyarakat, ditambah dengan komputer dan perangkat komunikasi lainnya. Lebih dari itu akan tetapi, pemahaman yang lebih mendalam tentang aspek e-literacy. Kesiapan aparatur dan masyarakat adalah komponen yang lain yang harus dilengkapi dalam pemberian pelayanan di e-government. Perangkat berbasis teknologi informasi ini akan mampu memberikan bantuan maksimal dalam menjalankan fungsi pemerintahan, pelayanan publik maupun aktifitas usaha. Bagaimana sebuah teknologi tinggi, dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan, efiensi dan efektifitas fungsi pemerintahan akan menjadi tugas yang lebih berat dari sekedar penyediaan teknologi semata-mata.

Pembangunan teknologi informasi harus diselaraskan dengan tujuan pemberian layanan oleh pemerintah, untuk memberikan layanan yang optimal pada masyarakat dan dunia usaha nasional. Aktifitas pemberian layanan pemerintahan yang baik, efisien dan terintegrasi serta transparan hendaknya menjadi tujuan utama dalam pembangunan teknologi informasi, bukan semata-mata melengkapi aktifitas pemerintahan dengan perangkat keras, maupun perangkat lunak saja. Dalam penerapan teknologi informasi juga sudah berkembang kerangka kerja, tata kelola teknologi informasi yang baik. E-government, bahkan sistem audit teknologi informasi juga sudah mulai dikembangkan dengan luas di dunia.

Perubahan menuju masyarakat berbasis pengetahuan, knowledge based Society yang dicanangkan terbentuk pada tahun 2025, perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sistematis. Dalam kerangka masyarakat berbasis pengetahuan inilah teknologi informasi diharuskan mampu memberikan nilai tambah, bagi masyarakat luas.

Mudah-mudahan dalam kesempatan ini kita memiliki komitmen untuk mampu menghasilkan sumbangan pemikiran para wisudawan sekalian, serta dapat mendorong partisipasi masyarakat di dalam pemanfaatan teknologi informasi, sehingga terwujud masyarakat yang cerdas, yang selanjutnya akan mampu meningkatkan daya saing bangsa. Masyarakat yang cerdas, berarti setiap komponen masyarakat akan bergerak bersama, misalnya mewujudkan gerakan mahasiswa cerdas, gerakan desa maju, gerakan guru cerdas, gerakan pesraman cerdas, gerakan petani cerdas, gerakan aparat cerdas, gerakan nelayan pintar, dan seterusnya. Sehingga bangsa Indonesia mampu bersaing di tataran kompetisi lokal, nasional, regional maupun global.

Saya berharap, ilmu pengetahuan dan teknologi informasi benar-benar dapat menjadi sarana penting dalam proses transformasi menjadi bangsa yang maju. Oleh karena itu, kerja keras dari komunitas teknologi informasi dan lembaga yang terkait perlu dilakukan dengan strategi yang benar dan tepat. Satu hal yang ingin saya sampaikan, bahwa apapun kehebatan, apapun kemampuan dan kekuatan sains, teknologi dan informasi, harus dapat bermanfaat bagi alam semesta, bermanfaat bagi kehidupan umat manusia di dunia ini, mensejahterakan, mendamaikan secara lahir dan bathin.

Hadirin yang saya muliakan,

Gandhi menekankan kepada umatnya untuk membangun dan mengembangkan sikap jujur, tulus, dan mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan pribadi (Ahimsa), di antara sesama warga tidak boleh ada yang merasa seolah lebih tinggi, lebih kuat atau lebih penting. Ajaran agama adalah sumber yang tidak pernah kering dalam memberi inspirasi kepada umatnya, untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Demikian juga dengan ajaran yang disampaikan lewat kitab-kitab suci agama apakah itu Weda, ataupun dalam Itihasa  kepada pemeluknya untuk membangun dan mengembangkan sikap yang jujur, sikap yang tulus dan ikhlas, dan sikap yang mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi.

Mari sekarang kita melihat di negara kita sendiri, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk (plural/bhineka), bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, bahasa, adat istiadat, dan daerah. Namun justru dengan sifat plural ini, kita harus lebih bersatu, lebih rukun, lebih solider satu sama lain, lebih hormat-menghormati, dan lebih saling bertenggang rasa. Di antara sesama warga bangsa tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi, lebih kuat dan lebih penting. Kita harus benar-benar mencegah berkembangnya pikiran, kebijakan, dan tindakan yang diskriminatif karena bertentangan dengan kodrat, harkat, dan hak asasi manusia dan bertentangan dengan rasa keadilan.

Inilah cita-cita kita membangun negeri yang kita cintai bersama ini, Bhineka Tunggal Ika, satu untuk semua, semua untuk satu, sehingga kemudian semua untuk semua. Kita ingin maju bersama-sama, bukan maju sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kita harus bekerja dan berikhtiar bersama-sama, jangan ada yang kurang rajin bekerja untuk membangun masa depan kita yang baik. Bangsa kita memang beragam, sehingga kemungkinan konflik dan  perselisihan selalu ada, namun marilah kita kelola dan kita carikan solusinya secara damai tanpa kekerasan.

Kita semua tentu berharap kepada para pemuka agama, para tokoh masyarakat, tokoh perguruan tinggi, tokoh mahasiswa, dan tokoh-tokoh lainnya di negeri ini untuk membimbing komunitasnya, seraya menjadi dan memberi contoh untuk tidak melakukan kekerasan dan main hakim sendiri ketika harus menyelesaikan konflik atau pertentangan yang ada. Mari kita seluruh elemen bangsa Indonesia untuk benar-benar lebih memperkokoh persatuan, kerukunan dan kebersamaan, menciptakan suasana kehidupan yang tenteram, damai dan penuh keadilan, serta membangun rasa aman dan rasa keadilan bagi setiap warga negara dengan cara menegakkan konstitusi, Undang-Undang dan berbagai peraturan yang berlaku.

Hadirin yang saya muliakan,

Saya menyadari, bahwa kemampuan, kekuatan, kehebatan sains, ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, semua itu harus bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, termasuk bagi bangsa Indonesia. Kehebatan teknologi, sains bukan justru untuk memecah belah bangsa, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetapi untuk menyatukan semua elemen bangsa Indonesia.

Saya sebagai orang Indonesia, juga ingin bila kita semua ini mampu memperkokoh kebersamaan menuju kerahayuan jagat, dengan memelihara keseimbangan alam dan lingkungan, menjaga hubungan antara manusia dengan alam, yang hal ini bisa dilakukan dengan dukungan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mari kita melakukan refleksi diri, dan terus bertanya sekaligus menemukan jawaban apa sesungguhnya manfaat sains bagi kehidupan bangsa kita yang majemuk ini? Jika kita ingin melakukan perubahan dalam diri sendiri, satu evolusi dari yang gelap menuju ke yang terang, dari yang tidak baik menuju yang baik. Saya berharap kepada kita semua yang ada di ruangan ini, manakala kita selesai melakukan refleksi, introspeksi, memetik hikmah dan pelajaran, melakukan semacam tapa brata, yoga, dan semadi, sehingga kita mampu mengaplikasikan Trikaya Parisuda dan Tri Hita Karana dalam membangun sumber daya manusia dan menjaga sumber daya alam untuk kehidupan, kesejahteraan, dan kedamian kita bersama. Dengan demikian, benar-benar kehidupan akan menjadi damai, harmonis, penuh dengan kasih sayang dan saling cinta-mencintai, karena kita berangkat dari hati yang bersih, dari tutur kata yang baik, perilaku yang bijak dan menghormati sesama.

Dalam era demokrasi sekarang ini, kebebasan hadir di mana-mana, hak asasi manusia makin kita hormati. Memang itu salah satu tujuan kita dalam perubahan besar yang dilaksanakan di negeri ini yang sering kita sebut dengan reformasi. Namun saya berharap, hendaknya kebebasan itu kita gunakan dengan penuh akhlak, dengan penuh etika dan tanggung jawab.

Kebebasan tidak boleh menghancurkan kebebasan pihak yang lain, kebebasan harus disertai dengan ketenggangrasaan yang tinggi, kebebasan tidak boleh dijalankan tanpa membawa manfaat bagi kehidupan kita bersama. Dan di atas segalanya, kebebasan mestilah hidup berdampingan secara damai dengan kepatuhan kepada pranata dan harmoni yang telah dan akan kita bangun secara bersama.

Itu adalah pelajaran besar yang sering saya dengar dalam ajaran agama Hindu. Dan saya punya keyakinan, nilai dan ajaran seperti itu juga menjadi ajaran dari semua agama yang sama-sama harus kita hormati. Dalam ajaran Hindu dikenal dengan ada istilah Tri Hita Karana, satu konsep keseimbangan, satu konsep kedamaian, dan konsep keharmonisan, hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan antar manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Saya mengajak, marilah kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan alam semesta, dengan demikian tanah air yang kita cintai, bumi tempat kita hidup ini dapat kita lestarikan.

Saya berharap dan mengajak, marilah dari bumi Indonesia ini kita mengambil prakarsa dan langkah-langkah yang lebih nyata. Setiap jengkal wilayah kita harus membawa manfaat, baik untuk mencukupi kebutuhan pangan maupun untuk kegiatan ekonomi yang akhirnya mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Salah satu wujud kecintaan kita, hubungan kita yang baik dengan alam semesta, setiap jengkal tanah, air dan udaranya, mestilah kita pelihara dengan baik pula, agar dengan demikian, tidak akan terjadi bencana yang akhirnya memporak-porandakan kehidupan kita semua. Kecintaan pada tanah air, hubungan antara manusia dengan alam semesta harus kita lihat dari dua dimensi itu, dengan kebaikan yang kita berikan pada alam, alam memberikan keselamatan pada kita, dan kemudian pula memberikan kesejahteraan bagi kita semua.

Hubungan antar sesama manusia juga menjadi nafas dari peradaban yang kita bangun. Manusia dengan manusia, kasih sayang dengan kasih sayang, hati nurani dengan hati nurani, kedamaian dengan kedamaian, itulah pilar-pilar peradaban yang kita bangun. Oleh karena itu, kalau di dunia sekarang sedang diisukan benturan antar peradaban, sesungguhnya apabila kita mulai dari hati dan pikiran kita, kita pun bisa membangun harmoni di antara setiap umat manusia, keharmonisan antar peradaban. Syaratnya adalah saling asah, asih dan asuh, sama-sama kita mencintai, menyayangi, bersaudara apapun agama kita, apapun etnis kita, apapun suku bangsa kita, apapun daerah kita, bahkan dalam kehidupan demokrasi apapun posisi politik kita. Marilah kita tetap saling sayang-menyayangi sebagai sebuah bangsa, bersatu membangun negeri meningkatkan kesejahteraan rakyat kita, berpikirlah, berbuat dan bertindak sebagai Negarawan.

Dan akhirnya puncak dari segalanya adalah hubungan kita dengan Sang Pencipta. Para tokoh masyarakat, para sulinggih, para pemimpin agama banyak memberikan nasihat dharma wacana, dharma tula kepada umat, kepada kita semua, dan di atas segalanya adalah keikhlasan dan ketulusan diri kita kepada Sang Pencipta, yang akhirnya kita akan menjadi pribadi-pribadi yang dari hari ke hari belajar dan berlatih untuk meningkatkan kehidupan kita sesuai swadharma kita masing-masing.

Hadirin yang saya muliakan,

Saya ingin menambahkan sedikit, terkait pentingnya sains bagi kehuidupan bangsa yang majemuk ini. Bahwa para pendahulu kita sudah memberikan dasar negara yang kokoh yakni Pancasila. Karena itu, apapun kehebatan sains, ilmu pengetahuan, tekonolgi yang kita pelajari dan kita miliki harus selalu dikaitkan dengan dasar negara Pancasila.

Pancasila  bukan hanya harus dihafal, dimengerti dan dipahami, tetapi harus dilaksanakan dan diamalkan. Setiap sila dalam Pancasila harus dilaksanakan bukan sepenggal-sepenggal, tetapi secara utuh, karena kelima sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan. Orang yang hidup dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, maka bagaikan hidup di surga. Orang yang bekerja dengan melekatkan Pancasila dalam dirinya, maka memiliki etika dan semangat kerja yang sangat baik dan sangat bermanfaat bagi peri kehidupan di sekitarnya. Orang yang memiliki kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilekatkan dengan Pancasila, maka ia akan menggunakannya sesuai dengan sila-sila dalam Pancasila.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Manusia yang bekerja, pertama-tama haus ingat kepada Tuhan, kepada Hyang Widi Wasa. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan, ia hidup ada yang menghidupi, ia bergerak, karena ada yang mengerakkan. Sumber dari segala sumber hidup adalah Tuhan, sehingga tanpa tuntunan Tuhan, baik hati, pikiran, perasaan, jiwa dan raganya, tak akan mampu bergerak tanpa digerakkan oleh Tuhan sendiri. Ini setiap saat harus diingat, sehingga apapun yang dilakukan oleh manusia, harus didasari akan ingatan diri kepada Tuhannya.

Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Manusia yang bekerja, di manapun dan kapanpun harus memiliki rasa kemanusiaan dan keadaban. Ia harus selalu ingat satu sama lain, menjaga satu sama lain, saling mendahulukan satu sama lain. Tidak bisa berpikir hanya untuk diri sendiri. Semuanya saling asih, saling asah, saling asuh. Dengan demikian ia akan adil, ia akan beradab, karena selalu menempatkan manusia satu dengan yang lain dengan penuh kasih, penuh pengertian, dan saling mendidik diri masing-masing. Dengan kecintaan dan rasa kasih di antara sesama manusia di sekitarnya inilah maka di situ akan sangat terasakan hidup yang penuh peradaban.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia.
Kita harus selalu ingat bahwa hidup di Indonesia sudah ditakdirkan Tuhan hidup dengan keaneka ragaman. Kita harus bangga kepada bangsa dan negara kita, akan kebesaran dan kemajemukan bangsa dan negara kita.  Oleh karena itu jangan perbedaan dan kemajemukan ini menjadi benih perpecahan, tetapi justru sebaliknya menjadi perekat dan energi yang kuat bagi kebesaran dan kejayaan Indonesia. Kita harus mampu mencegah fanatisme sempit, egoisme sektoral, egoisme kelompok, egoisme kedaerahan. Telebih lagi, jangan sampai ada sikap dan perilaku yang berlawanan dengan persatuan dan kesatuan. Hidup ataupun bekerja yang dilandasi oleh rasa persatuan dan kesatuan di antara sesama, maka di situ pasti terasa nyaman. Tak ada persaingan, yang ada adalah rasa saling mendukung, saling membantu, bukan saling menjatuhkan.

Sejak dahulu nenek moyang bangsa kita lebih berbahagia bila kita itu rukun. Bahkan sampai hari ini, kita akan sangat bahagia bila di dalam keluarga, masyarakat, semuanya rukun, damai. Jadi kalau ada perbedaan, harus diselesaikan dengan damai, dengan kerukunan itu. Semangatnya sama, yaitu persaudaraan, sehingga  selalu bersatu. Kalau semua orang sudah bisa memaknai persaudaraan, maka bisa menjadikan semua orang itu adalah saudaranya, tak akan terjadi saling menyakiti, tak akan ada kekejaman-kekejaman.

Kita harus dapat hidup dalam suasana perbedaan dengan cara mewujudkan kehidupan yang harmonis. Agar mampu menumbuhkan suasana harmoni, caranya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan sehingga selalu ingin bersatu. Mari kita menjaga persahabatan, persaudaraan, dan kebersamaan di antara segenap anak bangsa di seluruh tanah air Indonesia. Kita harus selalu belajar dan membiasakan diri membangun kerjasama di antara anak bangsa, betapapun sederhana sifat dan bentuknya.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Rakyat harus dipimpin, dan yang memimpin adalah yang memiliki sikap dan sifat negarawan. Pemimpin yang mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan kelompok, di atas kepentingan individu. Kalau kita bekerja di manapun, maka berpikir tentang apa manfaat bagi negaranya, bagi bangsanya. Dengan demikian, ia tak akan melakukan sesuatu yang menyalahi aturan maupun norma-norma dan etika kehidupan di manapun.

Pemimpin yang negarawan pasti mampu mengajak rakyat yang dipimpinnya untuk berbicara secara baik dan benar, karena dipenuhi hikmah, rasa kemanusiaan yang adil. Ia selalu ingat tuntunan Tuhannya, senantiasa dilandasi jiwa kemanusiaan yang adil, memiliki adab, dan pasti mengutamakan persatuan.

Pemimpin itu bagaikan campuran berbagai elemen. Ia seperti campuran gula (manis) dan kopi (pahit) dicampur terasa enak. Pemimpin itu bagaikan campuran batu, bata, pasir, semen, kalau dicampur air akan menjadi pekat dan kuat, berubah menjadi beton. Ini yang menjadikan solid, kuat, kokoh, semua membutuhkan air.

Pemimpin harus turun ke rakyat, karena pemimpin itu berasal dari rakyat, oleh, dan untuk rakyat. Kekuatan pemimpin ada di tangan rakyat. Rakyat kuat, maka pemimpinnya kuat. Mengapa, karena pemimpin mampu mengayomi, melindungi, penuh cinta kasih, dan melayani rakyat. Bagi kita, negarawan itu harus merah putih, pancasilais, asih, asuh, asah, cinta kasih, punya etika moral, mentalnya bagus dan cinta NKRI.

Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Keadilan harus lengkap, baik lahir maupun bathin. Manusia Indonesia, apapun pekerjaannya, harus melakukan dan mengamalkan rasa keadilan ini. Susah kalau diukur matematis, tetapi soal rasa itu bisa dinikmati, bisa dirasakan dalam hati, dalam bathin setiap manusia. Perlakukan yang adil di manapun dan kepada siapapun, akan membawa kedamaian dalam lingkungan kehidupan apapun dan kapanpun. Setiap manusia merasa dimanusiakan, diperlakukan secara rasa kamanusiaan, dihargai, dihormati, dijunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaannya dengan perlakuan yang adil.

Demikian beberapa hal yang saya sampaikan dalam orasi ini semoga bermanfaat.

Oṁ Śāntiḥ, Śāntiḥ, Śāntiḥ, Oṁ
Salam Pancasila
Merdeka!!!

Jakarta, 28 September 2017
Ketua Umum Pengurus Harian
Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat

ttd


Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya


Oleh: admin