Munas IV WHDI: Wanita Hindu Cerdas, Sehat, Sejahtera Berwawasan Kebangsaan


(Foto: Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. Drs. I Ketut Widnya, MA., M.Phil., Ph.D buka secara resmi Munas IV WHDI, Sabtu 18 November 2017)

Jakarta - Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke IV yang dibuka secara resmi Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. Drs. I Ketut Widnya, MA., M.Phil., Ph.D. Munas IV WHDI diselenggarakan selama 3 hari (17-19 November 2017) bertempat di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat.

Sebanyak 306 orang peserta hadir yang terdiri dari pengurus WHDI Pusat, perwakilan WHDI Provinsi, perwakilan WHDI Kabupaten/Kota, Peninjau serta tokoh umat Hindu. Turut hadir Ketua Umum PHDI Pusat masa bhakti 2011-2016 Mayjen TNI (Purn) S.N. Suwisma, Ketua Umum PHDI Pusat masa bhakti 2016-2021 Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, perwakilan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), perwakilan lembaga-lembaga Hindu dan beberapa undangan lainnya.

Ketua Panitia Tri Nuryatiningsih E. Mantik dalam laporannya menyampaikan bahwa dasar pelaksanaan Munas IV WHDI mengacu pada Anggaran Dasar Bab VIII, Pasal 17 ayat (2) dan Anggaran Rumah Tangga Bab V Pasal 11 point (e) tentang Musyawarah dan Rapat. Selain itu, dasar pelaksanaan Munas IV WHDI mengacu pada Surat Keputusan Ketua Umum Nomor Skep/01/I/2017 tanggal 27 Januari 2017 tentang Penyelenggaraan Musyawarah Nasional atau Munas IV WHDI 2017. "Surat Tugas Ketua Umum Nomor Sgas/02/I/2017 tanggal 31 Januari 2017 tentang Musyawarah IV Wanita Hindu Dharma Indonesia 2017" ujar Tri Nuryatiningsih, Sabtu (18/11/2017).

Tri Nuryatiningsih menyampaikan Munas IV WHDI mengusung Tema yaitu "Wanita Hindu Cerdas, Sehat, Sejahtera Berwawasan Kebangsaan" dengan Sub Tema "Meningkatkan Kualitas Pengabdian WHDI dalam Merajut Nilai Kebangsaan untuk Mewujudkan Kemakmuran dan Kesejahteraan". Tri Nuryatiningsih menambahkan, bahwa maksud dan tujuan pelaksanaan Munas IV WHDI adalah pertama menetapkan dan menyempurnakan AD/ART WHDI.

"Menetapkan Rencana Kerja dan Program Kerja WHDI lima tahun ke depan, menetapkan dan menyempurnakan atribut, menetapkan serta menerima laporan umum pertanggungjawaban Ketua Umum WHDI. Kemudian memilih dan menetapkan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal WHDI masa bhakti 2017-2022," jelasnya.

Tri Nuryatiningsih menambahkan sehubungan dengan tema yang diusung Panitia Penyelenggara mengundang beberapa narasumber. "Narasumber dari Perwakusi (Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia) dr. Tanya Tatiana M. Rotikan, SpKO dengan materi 'Peran Latihan Fisik Pada Penyakit Tidak Menular' dan 'Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dari Ketua MPR Dr. Zulkifli Hasan, SE., MM tapi beliau berhalangan hadir," ujarnya.

Ketua Umum WHDI Ir. Rataya B. Kentjanawathy Suwisma dalam sambutannya mengatakan sesuai amanat AD/ART bahwa WHDI wajib melaksanakan Munas sekali dalam lima tahun. Rataya berharap Munas IV WHDI tahun 2017 dapat berjalan lancar dan sukses serta membuahkan hasil yang maksimal.

"Pada Munas III WHDI kami telah menyelesaikan apa yang menjadi Keputusan antara lain pertama Ketetapan tentang sejarah WHDI. Kedua Ketetapan tentang hari jadi WHDI yaitu pada tanggal 12 Februari tahun 1988. Ketiga penyempurnaan AD/ART WHDI. Keempat penetapan Pelindung dan Penasihat WHDI dan penggunaan lambang dan atribut WHDI secara taat," ujarnya.

Rataya mengatakan, dalam rentang lima tahun sampai Munas IV konsolidasi WHDI tetap dan terus berlangsung dalam intensitas yang tinggi. Konsolidasi tersebut, kata Rataya, dilaksanakan dengan berbagai upaya. "Secara legal organisasi WHDI telah terdaftar di Departemen Dalam Negeri (Depdagri) sebagai organisasi kemasyarakatan. WHDI juga telah terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) sebagai badan hukum yang sah. WHDI juga telah resmi masuk menjadi anggota Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sebagai wadah penghimpun wanita Indonesia," jelasnya.

Rataya menambahkan WHDI juga telah mendirikan Yayasan Dewi Srikandi yang berkiprah dalam pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). "Kami juga diberikan kepercayaan oleh PHDI dalam Grand Design 50 tahun ke depan untuk bisa mewujudkan paud-paud di seluruh Indonesia," ucapknya. WHDI juga secara simultan melakukan pembinaan serta bekerjasama sebagai sebuah tim yang solid.

Wanita Memiliki Peranan yang Penting

Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya mengatakan ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi WHDI supaya solid, bersatu, bersama satu dengan yang lainnya. Wisnu Bawa Tenaya menyampaikan bahwa dalam ajaran Hindu ada Tri Kaya Parisudha dimana antara pikiran, perkataan, dan perbuatan harus seimbang. "Kalau pikirannya kotor. Kalau ucapannya kotor bisa masuk bui. Apalagi kalau tindakannya kotor, penjara siap menanti," ujarnya. Wisnu Bawa Tenaya juga mengapresiasi tema yang diangkat dalam Munas IV WHDI.

Menurut Wisnu Bawa Tenaya, ibu memiliki peranan yang sangat penting. "Ibu mengandung anak-anak selama sembilan bulan dan kemana-mana selalu dibawa. Begitu juga dengan ibu pertiwi yang memberikan kehidupan bagi manusia," ucapnya. Wisnu Bawa Tenaya mengajak ibu-ibu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). "Fisik dan non fisiknya harus sehat," ujarnya.

Di akhir sambutannya, Wisnu Bawa Tenaya menyampaikan banyak PR yang harus kita selesaikan. Menurutnya saat ini banyak orang pintar tapi hati nuraninya belum digunakan dengan baik sehingga banyak orang pintar saat ini yang tersandung kasus korupsi. "Mari kita cerdaskan masyarakat Hindu, kita cerdaskan rakyat Indonesia. Supaya mereka cerdik, cendikia, cool calm and convidien. Memiliki rasa percaya diri yang kuat," ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI, Prof. Drs. Ketut Widnya, MA., M.Phil., Ph.d mengapresiasi pelaksanaan Munas IV WHDI. Prof. Widnya mengtakan, semoga melalui Munas IV WHDI ini dapat terpilih pemimpin WHDI yang representatif dan memiliki program kerja yang rasional yang dapat dilaksanakan. "Jangan buat program-program yang muluk-muluk yang tidak bisa kita kerjakan," ujarnya.

Prof. Widnya mengatakan, dalam sejarah peradaban wanita memiliki peranan yang sangat penting. Begitu juga dalam hal pembangunan bangsa. "Dalam Weda disebutkan tidak ada Dewa yang patut dihormati selain pada seorang Wanita. Ini artinya wanita jauh lebih tinggi dari pada dewa itu sendiri," ucapnya.

Prof. Widnya menambahkan dalam agama Hindu wanita memiliki peranan yang sangat besar. "Ini fakta realita. Dalam Catur Weda Samhita disebutkan bahwa suami istri ketika mereka nanti meninggal itu mereka nantinya akan bersama-sama dalam dunia rohani," ujarnya.

Di akhir sambutannya, Prof. Widnya berharap program yang disusun WHDI ke depannya nanti benar-benar rasional. "Program-program yang disusun nantinya juga harus mengangkat peranan wanita," tutupnya.

Pada hari pertama (17 November 2017) ada pembekalan yang disampaikan oleh dr. Tanya Tatiana M. Rotikan, SpKO perwakilan dari Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwakusi) dengan materi "Peran Latihan Fisik Pada Penyakit Tidak Menular". Usai pembekalan, dilanjutkan malam keakraban dengan mementaskan tarian dari masing-masing perwakilan WHDI Provinsi dan Kabupaten Kota.

Oleh: admin