Makna Filosofis Dibalik Indahnya Kwangen

Mangupura - Penyuluh agama Hindu Ni Nengah Rasmiati, S.Ag.M.Pd.H secara rutin melaksanakan bimbingan penyuluhan pada PKK Br. Pengubengan Kauh, Kel. Kerobokan Kelod, Kuta Utara pada Hari Minggu, 6 September 2015, bertempat di Balai Banjar Pengubengan Kauh. Kaling Pengubengan Kauh bersama pengurus serta anggota PKK berjumlah 45 orang. Bimbingan yenyuluhan itu dilakukan atas seijin serta komitmen Ka.Kemenag. Kab. Badung I Nyoman Arya S Ag M.Pd.H.

Materi yang disampaikan adalah “Makna Kwangen“. Peserta mengikuti dengan sungguh-sungguh dan disertai tanyajawab langsung tentang materi yang disajikan, Penyuluh menyampaikan Kewangen merupakan salah satu sarana  dalam persembahyangan, disamping itu Kwangen dipergunakan pada upacara Panca Yadnya. Kwangen dalam lontar Sri Jaya Kesunu disebutkan sebagai simbol “Om Kara”, demikian pula dalam Upanisad bahwa Kwangen sebagai lambang Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Unsur yang membentuk Kwangen seperti Kojong (terbuat dari daun pisang) sebagai lambang Ardha Candra, uang kepeng ( uang bolong ) sebagai lambang Windhu, Cili sebagai lambang Nada dan Porosan Silih Asih sebagai lambang Purusa dan Pradana. Dalam persembahyangan  Kwangen dipergunakan pada sembah ke-3 yakni sembah yang ditujukan kepada Ista Dewata dan ke-4 mohon waranugeraha Ida Sang Hyang Widhi, serta permohonan dari umat agar Ida Sang Hyang Widhi asih kepada yang bhakti (penyembah). Penyuluh menyarankan umat, agar selalu membawa sendiri sarana yang diperlukan dalam persembahyangan bukan meminta pada Jero Pemangku di pura.

Disamping itu, penyuluh juga mengajak umat untuk dapat menggunakan setiap jengkal tanah pekarangan rumah untuk menanam tanaman bunga yang dapat digunakan sarana persembahyangan guna efesiennya ekonomi karena tidak perlu membelinya. Dengan menanam dan memelihara tanaman bunga dipekarangan walaupun dalam pot bunga sudah berarti telah menjalankan 10 program pokok PKK dan telah memelihara lingkungan agar rindang, sejuk, secara otomatis memberikan  vibrasi yang nyaman pada anggota keluarga.

Sumber: http://bali.kemenag.go.id