Kunjungan PHDI Provinsi Maluku ke Tanimbar Kei

Jakarta - Maluku adalah wilayah kepulauan yang sering juga dijuluki provinsi seribu pulau dimana untuk menjangkaunyapun terkadang sangat sulit dan butuh keberanian yang lebih. Pada hari Jumat, 18 agustus 2017, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Maluku berkesempatan berkunjung ke salah satu kantung umat Hindu di Tanimbar Kei, Maluku Tenggara.

Perjalanan dari Ambon ke Maluku Tenggara ditempuh dengan pesawat selama 1,5 jam. Setelah tiba di Maluku Tenggara, tepatnya daerah Langgur, PHDI Provinsi Maluku menuju makam leluhur orang Kei yang biasa dipanggil "nenek". Selanjutnya, PHDI Provinsi Maluku bertemu dengan umat sedharma di Kec. Debut yang sudah menunggu lebih awal. Pertemuan dengan umat Hindu Kec. Debut direncanakan di Pura Siwa Giri Pati Debut. Namun berhubung waktu sudah larut malam akhirnya pertemuan tersebut di laksanakan di rumah umat.

Pada pertemuan tersebut hadir salah satu tokoh umat di Debut Bpk. Badu Lefmanut yang juga Sekretaris PHDI Maluku Tenggara. Ada banyak hal dan permasalahan keumatan yang didiskusikan termasuk sikap intoleran umat dan masyarakat.

Keesokan hari PHDI Provinsi Maluku menuju Tanimbar Kei dengan menggunakan trasportasi laut. Perjalanan tersebut diikuti rombongan dari LPDG Provinsi Maluku, PHDI Maluku Tenggara dan beberapa tokoh umat dari Debut. Perjalanan menuju Tanimbar Kei ditempuh kurang lebih selama 5 jam. Untuk mencapai Tanimbar Kei ada banyak pulau-pulau kecil yang dilewati.

Setengah perjalanan rombongan diajak singgah di Pulau Kelapa, sebuah pulau yang tidak berpenghuni kecuali ada ritual adat Tanimbar Kei dan pulau tersebut masih termasuk dalam wilayah adat Tanimbar Kei. Dalam tradisi adat Tanimbar Kei meskipun ada seseorang yang sakit parah, dia tidak akan meninggal sebelum ke luar dari pulau itu.

Setelah tiba di Tanimbar Kei, rombongan PHDI Provinsi Maluku disambut secara adat oleh "basudara kami". Di sana ada pejabat desa dan 'tetua' adat, tarian, dan nyanyian anak-anak pasraman. Selain itu, rombongan PHDI Provinsi Maluku juga diberikan sirih pinang dan pemakaian gelang adat.

Tanimbar Kei adalah pulau yang tidak terlalu besar dan dihuni kurang lebih 700 jiwa dan sekitar 70% beragama Hindu (kampung atas), sisanya Islam, Protestan, dan Katolik (kampung bawah). Mayoritas penghasilan masyrakat disana adalah pertanian dan laut. Masyarakat Tanimbar Kei dahulu mengkomsumsi makanan hotong yaitu sejenis gandum yang proses dari mengolah tanah sampai panen menggunakan ritual adat yang masih terjaga sampai sekarang.

Umat Hindu Tanimbar Kei masih memakai struktur adat yang memiliki peranan sangat penting dalam peri kehidupan. Ada 23 rumah adat yang memiliki fungsi yang berbeda pula. Menurut salah seorang peneliti dari balai pelestarian budaya Maluku yang dijumpai di sana, keberadaan 23 rumah adat tersebut adalah yang terbanyak dalam catatan sejarah. Setiap rumah adat memiliki ukiran yang berbeda disetiap dinding bangunannya. Dibeberapa rumah adat masih tersimpan arca-arca seperti bentuk manusia berkepala burung.

Kunjungan tersebut bertepatan dengan perayaan hari raya Saraswati. Rombongan PHDI Provinsi Maluku pun melaksanakan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Pinandita Reymond Tabalubun dan diisi dharma wacana yang disampaikan Ketua PHDI Provinsi Maluku Bpk I Nyoman Sukadana, S.Kp.G.

Setelah kegiatan persembahyangan selesai dilanjutkan dengan dharma tula diwantilan Pura. Pelaksanaan dharma tula berjala begitu dinamis dan sangat hangat dengan adanya berbagai pertanyaan dari umat terkiat Hindu. Acara yang dimulai pukul 19.00 WIT tersebut berekhir hingga larut malam. Sebab, masyarakat begitu antusiasnya mendengarkar penjelasan dari pemateri.

Para rombongan keesokan berangkat meninggalkan Tanimbar Kei menuju kota Ambon. Sepanjang perjalanan menuju ke dermaga, percakapan dan diskusi juga masih berlangsung. Setelah sampai di dermaga mereka seolah enggan melepas keberangkatan romobongan PHDI Provinsi Maluku dan mereka pun berharap agar dapat kembali dikunjungi di kemudian hari.

Ada banyak kesan yang membuat kami bangga akan saudara sedharma di Tanimbar Kei. Mereka begitu bangga dengan identitas Hindunya, anak-anak tidak pernah merasa minder meskipun di Tanimbar Kei mereka mayoritas dari segi jumlah tetapi kecil begitu keluar dari komunitasnya. Para tetua (sesepuh) sangat kuat memegang adat dan budayanya dan secara telaten mengajarkan dan merawatnya ke setiap generasi.

Begitu banyak harapan kami untuk memperkuat umat sedharma di Tanimbar Kei, begitu banyak kemudian ide-ide yang muncul, salah satunya Pasraman yang lebih presentatif untuk generasi penerus Hindu Tanimbar Kei meskipun kami menyadari keterbatasan kami di Maluku.

Pada kesempatan ini juga kepada saudara se Dharma dimanapun berada yang kebetulan membaca ulasan ini, bila mungkin ada yang tergerak hatinya memberikan Dharma Punia untuk membangun dan memperkuat Hindu di tanah Tanimbar Kei.


Oleh: admin
Source: Ketua PHDI Provinsi Maluku, I Nyoman Sukadana, S.Kp.G