Kunjungan Kerja PHDI Provinsi Maluku bersama Sekretaris Umum Parisada Pusat ke Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur


(Sekretaris Umum Parisada Pusat Bapak Ir. Ketut Parwata foto bersama dengan umat Hindu Suku Naulu, Maluku Tengah)

Maluku - Kota Masohi yang terletak di Maluku Tengah merupakan salah satu kota kabupaten di Provinsi Maluku. PHDI Provinsi Maluku Masa Bakti 2015-2020 dalam program kerja tahun pertama memprioritaskan pendataan umat dan tempat suci yang tersebar di masing masing kabupaten yang berada di Provinsi Maluku. Tanggal 9 September 2016 PHDI Provinsi Maluku mengundang Bapak Sekretaris Umum PHDI Pusat Bapak Ir I Ketut Parwata untuk meluangkan waktu berkenan turut serta berkunjung ke daerah dalam rangka pembinaan umat ke Provinsi Maluku khususnya di kabupaten Maluku Tengah dan peninjauan Pembangunan Pura Jagadnatha di atas hibah dari Bapak Abdulah Vanath (Mantan Bupati) Kabupaten Seram Bagian Timur sebesar Rp. 1.000.000.000,-.

Pada kesempatan ini PHDI Provinsi Maluku melaksanakan pembinaan kebeberapa tempat di Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur diantaranya Umat Hindu yang ada di Maluku tengah, Suku Naulu yang berada di kampung Nuanea, Umat yang ada di lokasi transmigrasi Desa Namto, dan Umat Hindu yang berada di Desa R Waikaran Baru (Trans Hindu di Kabupaten Seram Bagian Timur), kompleksnya permasalahan Umat yang diperoleh dilapangan antara lain:

A. Kabupaten Maluku Tengah

1. Pura Mandala Giri

a. Kondisi Pura Mandala Giri cukup baik pengempon pura berjumlah 18 KK sebagian besar berdinas di Polres Masohi, tidak memiliki Pinandita sehingga setiap piodalan mendatangkan Pinandita dari Desa Karlutu;

b. Wastra dan senjata dewata Nawasanga, buku-buku Agama tidak ada pasca kebakaran gedong penyimpanan Pura Mandala Giri;

c. Bantuan dari Dirjen Bimas Hindu sebesar Rp. 150.000.000,- dan swadaya umat yang berada di Maluku Tengah untuk merenovasi bangunan Gedong Pura Mandala Giri, dari Pemerintah daerah serta Panitia Pembangunan dan renovasi pura Provinsi Maluku nihil;

d. Pesraman yang mewadahi anak anak untuk memperoleh pendidikan ajaran Agama Hindu belum ada.


(Foto bersama Umat Hindu Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah)

2. Suku Naulu Desa Nuanea

a. Tempat Suci sebagai sarana pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa belum ada, setiap piodalan umat di naulu datang untuk melaksanakan persembahyangan ke Pura Mandala Giri Masohi;

b. Dari 116 KK yang sudah dikukuhkan oleh Bimas Hindu Kemenang Provinsi Maluku 24 KK belum memiliki Kartu keluarga terkendala di Pemda dikarenakan tidak ada surat pengantar dari pemuka Agama(Pemangku Agama) dan Pemangku Adat;

c. Penyerobotan dan Perambahan Hutan Adat yang dilakukan oleh PT. Bintang Lima Makmur sejak tahun 2015 membuat suku naulu merasa tidak nyaman akan kelangsungan Hidup karena kebanyakan Umat Suku Naulu bergantung pada Hutan;

d. Anak anak Suku Naulu yang sudah selesai mengenyam bangku pendidikan kesulitan bersaing dalam memperoleh  lapangan pekerjaan yang layak ( PNS,TNI,POLRI);

e. Tidak adanya guru Agama mengakibatkan banyak anak anak sekolah tidak memperoleh pelajaran agama Hindu di sekolah yang cendrung membuka peluang untuk pindah keyakinan.

f. Adanya bukti lisan tetang tata cara upakara lokal besar harapan Suku Naulu untuk menyusun menjadikan sebuah Kitab seperti Hindu Dayak menyusun Kitab Panuturan.


(Pemasangan ikat kepala oleh Raja Nuanea kepada Bapak Ir. Ketut Parwata)

3. Desa Namto Maluku Tengah

a. Tempat suci Pura Siwa Stana Giri Desa Namto dalam kondisi baik memiliki 1 pinandita, Konflik horizontal bernuansa SARA pada tahun 1999 di Maluku membawa dampak yang signifikan sehingga banyak Umat Hindu pulang ke daerah asal (Bali) hengkang dari daerah transmigrasi sampai dengan saat ini pengempon Pura sebanyak 86 KK sebagian besar bergerak dibidang pertanian;

b. Tidak adanya Bimbingan dan buku petunjuk sehingga Pemahaman umat yang minim terhadap Agama dan Upakara;

c. Tata Upakara yang tidak bisa lepas dari tradisi dan budaya dari umat desa Namto a.n. Bapak Nengah Winaya menyarankan untuk sedianya mendapat dukungan busana Tari Wali (Topeng Sidakarya) dan Buku-buku Geguritan;

d. Kurangnya Buku-buku Agama di Desa Namto baik buku pelajaran untuk anak anak sekolah dan buku-buku Kitab Suci Hindu.


(Simakrama bersama Umat Hindu Desa Namto)

B. Kabupaten Seram Bagian Timur

1. Desa R (Trans Hindu) Kabupaten Seram Bagian Timur

a. Pura Wanagiri (Pura Jagadnatha) yang sementara proses Pembangunan bantuan dari Bapak Abdulah Vanath (Mantan Bupati Seram Bagian Timur) sebesar Rp. 1.000.000.000,- sementara proses pembangunan, memiliki pemangku 1 a.n. Mangku Ketut Seken dengan pengempon Pura sebanyak 60 KK;

b. Pura Siwa Stana Giri kondisi baik dengan pengempon pura sebnayak 30 KK, pemangku a.n. Mangku Nyoman Dapet.

C. Tatap Muka dengan Ketua Lembaga, Sesepuh Umat Hindu Provinsi Maluku

Senin pagi sekira pukul 08.00 Wit Bapak Ir. Ketut Parwata dan Bapak I Gusti Ngurah Putu Artha menyempatkan diri untuk mengunjungi Kantor sekretraiat Parisada Hindu Dharma Indonesia provinsi Maluku dengan didampingi oleh Bapak Ketua PHDI Provinsi Maluku, selesai melaksanakan persembahyangan di Pura Siwa Stana Giri Beliau melihat proses pembangunan Hindu Center yang merupakan Ibah bantuan berupa Bangunan dari Pemerintah Provinsi Maluku sebesar Rp 5.700.000.000,- dengan rencana pembangunan Multi Years.

Selesai melihat dan meninjau Bangunan Hindu Center Bapak Ir I Ketut Parwata beserta Bapak I Gusti Ngurah Putu Artha juga menyempatkan waktunya untuk bertatap muka dengan para ketua lembaga, Sesepuh Umat Hindu di Kota Ambon. Pukul 10.30 Rombongan menuju Bandara Pattimura Kegiatan Pembinaan Umat di Provinsi Maluku selesai.

Source: PHDI Provinsi Maluku