Kemenkominfo Gelar Literasi Media


(Foto: Narasumber dari PHDI Pusat yaitu Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Komunikasi Publik KS Arsana, S.Psi (kiri) foto bersama dengan peserta Forum Dialog dan Literasi Media, di Neo Hotel Palangka Raya)

Palangka Raya - Penggunaan media sosial (medsos) saat ini, rawan disalahgunakan untuk menyebar ujaran kebencian (hate speech), mengunggah hal berbau SARA, hingga menyebarkan informasi hoax atau berita bohong.

Untuk membentengi dari hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI menggelar workshop literasi media bertema "Merawat Kebhinekaan dengan Bijak Bermedia Sosial, Sabtu (25/8/2018), di Ballroom Hotel Neo Palangka Raya.

Tangakal hoaks, Kemekominfo adakan literasi media yang datang dari berbagai lapisan masyatakat. Salah satu dampak buruk yang muncul adalah dengan banyaknya hoaks, ujaran kebencian dan lain-lain yang beredar di tengah-tengah masyarakat.

Untuk membentengi dari hal tersebut, sekaligus mencegah hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar workshop literasi media dengan tema "Merawat Kebhinekaan dengan Bijak Bermedia Sosial" di Hotel Neo Palangka Raya, Sabtu (25/8) pagi.

Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Anas Saidi mengatakan, menurut data terakhir, di mana pengguna media sosial aktif dan berdiskusi soal pilpres dan lain-lain, hanya berjumlah 8,5 persen dari total penduduk.

"Tapi kalau dilihat dari data yang lain, di mana orang Indonesia merupakan negara terbanyak pengguna smart phone hingga mencapai angka 364 juta. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk 260 juta, ini berarti lebih 100 juta, belum lagi Reading Habit atau tradisi membaca kita terendah dari 64 negara yang disurvei, kita berada di nomor 2 terendah," jelasnya.

Ia mengatakan, hal ini mengindikasikan para pengguna media sosial itu rata-rata tidak suka membaca. Ini menyebabkan pengetahuan mereka tidak sebanyak orang membaca. "Faktor inilah yang membuat hoaks menjadi kesukaan, karena tidak memiliki kebiasaan untuk cek and ricek, tanpa cek langsung diviralkan, tafsir kebencian mendahuli fakta, opini yang diulang-ulang meskipun salah akan menjadi pilihan fakta," tuturnya.

Sementara itu, Gun Gun Siswadi, selaku staff ahli Kemenkominfo menambahkan bahwa saat ini kita dibanjiri informasi, di mana informasi datang bertubi-tubi ke smart phone kita. "Dari bangun tidur sampai kita tidur kembali, itu tidak berhenti," jelasnya.

Ia mengatakan, kegiatan ini digelar agar masyarakat, khususnya masyarakat Kalteng, mampu memilah dan memilih informasi sebelum menyebarkan kepada orang lain. Sasarannya adalah mahasiswa sebagai generasi milenial yang usiannya produktif.

"Ini harus kita jaga, jangan sampai sosial media menjadi dipenuhi hal-hal yang negatif, kita harus lawan dengan informasi yang positif, sehingga informasi negatif tertutup dengan informasi positif dan bermanfaat," jelasnya.

Ia berharap masing-masing orang yang mengikuti kegiatan ini dapat membawa pulang kembali ilmu yang mereka dapatkan kepada kelompok-kelompoknya. "Intiya menjadi bijak bersosial media, jari kita jangan lebih cepat daripada otak kita, saring sebelum sharing," pungkasnya.

Selain tentang literasi media, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan semangat kebhinekaan kepada generasi muda.

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Komunikasi Publik Pengurus Harian PHDI Pusat, KS Arsana, S.Psi mengatakan, kebhinekaan itu diajarkan sebagai sesuatu yang niscaya alami.

"Esensinya kita membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup sendiri. Sedangkan orang lain punya perbedaan maka kita juga memiliki kewajiban untuk berempati dan menghargai orang lain. Apabila semua orang mengakui baik hanya miliknya sendiri, artinya setiap orang punya standar kebaikan masing-masing. Namun kita juga menghargai kebenaran orang lain, jangan perbedaan itu dipertentangkan, karena masing-masing miliki nilai yang berbeda," jelasnya.

Source: Koran Radar Kalteng