Etnis Tamil Pertahankan Tradisi

Aceh - Etnis Tamil sebagai pemeluk Hindu Tamil merupakan salah satu kelompok minoritas di Aceh. Jumlah mereka diperkirakan 150 orang dari total sekitar 5 juta penduduk Aceh. Namun, walaupun jumlah mereka sedikit, etnis Tamil pemeluk Hindu Tamil memiliki semangat yang besar untuk mempertahankan tradisi nenek moyang, salah satunya perayaan Pangguni Uthiram.

Etnis Tamil pemeluk Hindu Tamil itu berasal dari daratan India. Mereka diperkirakan datang ke Nusantara, terutama Aceh, pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Kedatangan mereka dengan maksud beragam, antara lain berdagang. Banyak dari etnis Tamil yang merantau ke Aceh itu tidak kembali ke tanah kelahiran mereka.

Jejak etnis Tamil pemeluk Hindu Tamil itu masih dapat dilihat di Banda Aceh. Di ibu kota Provinsi Aceh itu masih berdiri kokoh tempat ibadah Hindu Tamil, Kuil Maha Kumbha Abhisegam Palani Andawer, di Gampong (Kampung) Keudah, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Kuil itu berdiri sejak 1934. Sempat hancur ketika tsunami 2004, kuil itu dibangun dan dibuka lagi pada 2012.

Kuil itu memiliki 30-an anggota jemaat Hindu Tamil. Mereka merupakan keturunan langsung etnis Tamil pemeluk Hindu Tamil pertama yang datang ke Aceh. Mereka hidup membaur dengan masyarakat setempat dengan sejumlah profesi, antara lain pedagang dan pemilik bengkel sepeda motor. Melalui 30-an orang itulah sejumlah tradisi nenek moyang etnis Tamil pemeluk Hindu Tamil masih terpelihara di Bumi Serambi Mekkah, Aceh. Salah satu tradisi khas mereka adalah ketika melaksanakan perayaan Pangguni Uthiram.

Pendeta Hindu Tamil, Swathi Jayabharathi Merkel, saat ditemui sebelum memimpin perayaan Pangguni Uthiram, di Banda Aceh, Minggu (17/4), mengatakan, Pangguni Uthiram merupakan ritual bersyukur etnis Tamil pemeluk Hindu Tamil kepada Dewa Murugan. Pangguni Uthiram jatuh pada bulan ke-12 kalender matahari Tamil atau setiap 15 Maret-15 April.

"Perayaan ini diselenggarakan di seluruh kuil Hindu Tamil setiap tahun di seluruh dunia, termasuk di Aceh dan daerah lain di Indonesia. Ini merupakan salah satu tradisi asli etnis Tamil pemeluk Hindu Tamil, yang masih dan wajib dipertahankan sebagai identitas diri," ujarnya.

Bagi masyarakat non-Hindu Tamil, perayaan Pangguni Uthiram menjadi acara yang ditunggu tiap tahun. Ada atraksi unik dalam perayaan ketika umat Hindu Tamil melakukan pengorbanan diri, seperti menusuk lidah, mulut, dan tubuh dengan sejumlah tombak besi dan mata pancing. Pengorbanan itu dilakukan sebagai nazar, misalnya karena usaha sukses dan sakit dari sembuh.

Harmonisasi

Warga Banda Aceh, Poppy (53), menuturkan, kendati berbeda keyakinan, ia penasaran menyaksikan ritual itu. Hal itu menjadi kekayaan budaya dan bukti keberagaman di Banda Aceh dan Aceh. Perbedaan itu pun tidak pernah mengalami gesekan.

Menurut warga Banda Aceh keturunan Tamil pemeluk Hindu Tamil, Prada Krishna (54), toleransi antarumat beragama di Banda Aceh dan Aceh umumnya berjalan dengan baik. Ia dan keturunan Tamil pemeluk Hindu Tamil lain tak pernah mengalami diskriminasi. Mereka bisa menjalani aktivitas sehari-hari dan menjalankan ibadah dengan nyaman dan aman. "Saya berharap harmonisasi kehidupan beragama terus terjalin di Aceh," kata laki-laki yang lahir dan besar di Banda Aceh ini.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Banda Aceh Tarmizi Yahya mengutarakan, kendati menerapkan syariat Islam dan berpenduduk mayoritas Islam, pemerintah kota dan pemerintah provinsi tetap memberikan kebebasan dan menghormati pemeluk agama lain. Bahkan, ia melanjutkan, keberadaan pemeluk agama lain bersama segenap tradisinya merupakan bukti toleransi antarpemeluk agama sangat dijunjung tinggi di Aceh.

Keberadaan mereka pun menjadi kekayaan di tengah perbedaan. "Hal ini sudah terjaga jauh sebelum syariat Islam diterapkan di Aceh. Buktinya, saat konflik politik di Aceh, tidak pernah ada gesekan antaragama di Aceh. Kondisi itu terawat dan akan terus dirawat," tuturnya.

Dosen sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sekaligus Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah Husaini Ibrahim mengatakan, kebudayaan Aceh saat ini tidak terlepas dari pengaruh budaya pra-Islam. Sekitar abad ke-8 dan ke-9 Masehi, jauh sebelum Islam tiba, Hindu menjadi agama utama di Aceh.

Hindu dibawa pendatang dari India. Sebagian besar jejak kebudayaan pra-Islam itu pun masih diterapkan hingga sekarang, seperti budaya peusijuk. Jejak pra-Islam dari India terlihat dari berbagai resep makanan Aceh yang terbuat dari kari, seperti kuah beulangong. Bukti fisik terlihat dari keberadaan benteng-benteng bernama Sansekerta, yakni Benteng Indrapatra, Indrapuri, dan Indrapurwa.

Source: kompas.com