Deklarasi Roma untuk Indonesia


(Foto: para tokoh lintas agama dari Indonesia di Roma, Italia)

Vatikan - Digerakan dengan rasa cinta terhadap bangsa Indonesia ini, 45 perwakilan masyarakat Indonesia diaspora lintas agama dari 22 negara Eropa mengadakan seminar bertajuk "Masyarakat Diaspora Indonesia Berdialog Lintas Agama" di Roma, Italia, Sabtu-Selasa 30/6 - 3/7. Seminar ini diadakan atas prakarsa Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan dan beberapa wakil Ikatan Rohaniawan-Rohaniawati Indonesia se-Kota Abadi (IRRIKA).

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Nus Syam mengapresiasi dialog yang digelar Kedubes Tahta Suci Vatikan. Ia menilai, rumusan Deklarasi Roma yang dihasilkan menjadi sumbangan berarti bagi bangsa. Semangat kerukunan dan keharmonisan yang menjadi tema pertemuan ini dapat disampaikan kepada masyarakat Indonesia yang sedang menjalani kehidupan di luar negeri. "Saya kira ini dapat dilakukan di beberapa belahan dunia lainnya, misalnya Amerika, Australia, Afrika, dan di tempat lain," terangnya di Vatikan.

Nur mengharapkan, dialog antar agama jangan hanya menampilkan wajah depannya saja seperti pajangan produk di dalam butik. Dialog mesti diupayakan agar menyentuh masalah mendasar yang dihadapi bersama. "Dialog jangan hanya berada dalam tataran dialog butik atau boutique dialogs. Dari wilayah teologi dan ritual sudah selesai. Yang sama jangan dibedakan dan beda jangan disamakan."

Tujuan dialog antaragama adalah membangun kesepahaman, kebersamaan, dan kerjasama di antara umat beragama. Nur menjelaskan, untuk mewujudkan dialog ini, diperlukan co-eksistensi dan pro-eksistensi. Dialog tidak sekadar mengakui ada yang berbeda, tetapi yang perlu dilakukan juga adalah kerja sama antar-umat beragama. "Perkuat 'kita' bukan 'aku'."

Cara pikir, cara pandang, dan cara beriman ekslusif merupakan alasan terhadap pengkotak-kotakan di dalam masyarakat. Inilah yang melahirkan istilah "otherness" atau "pemberlainan". Dalam tanggapannya yang dikirimkan kepada HIDUP. Pastor Maskus Solo SVD menggungkapkan, ada kecenderungan segala yang tidak searah, tidak sepandang, dan tidak seiman dianggap "yang lain". "Sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk merubah cara berpikir, cara pandang, dan cara beriman dengan lebih menggunakan istilah 'kita' (we) dari pada 'kami' (golongan) atau 'anda'."

Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan, Agus Sriyanto dalam sambutan pembukaan mengharapkan dialog antaragama tidak hanya menyentuh tatanan elit. Dialog perlu melibatkan lapisan "akar rumput". "Dari dialog diharapkan tumbuh sikap saling pengertian di antara pemeluk agama yang berbeda, sehingga terwujud keharmonisan dalam masyarakat."

Setelah merefleksikan berbagai makalah dan diskusi mendalam, seminar bersejarah itu menghasilkan delapan butir "Deklarasi Roma". Butir pertama deklarasi ini menyerukan kemajemukan agama, suku, dan bahasa yang adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa bagi Indonesia. Hal ini adalah keniscayaan yang harus dipelihara, dijaga, dan dikembangkan bersama.

Hadir juga dalam seminar ini adalah Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Din Syamsuddin, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri Dewi Savitri Wahab, Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Rifqi Muna, serta enam Tokoh Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu dari Indonesia.

Setelah seminar itu, semua peserta mengunjungi Sekretarian Dewan Kepausan untuk Islam dan Dialog Antaragama. Mereka bertemu Mgr Khaled Akasheh. Dalam pertemuan ini, ditegaskan komitmen Gereja Katolik untuk dialog "berdasarkan ketulusan dan rasa hormat". "Kebenaran dan cinta adalah dua kaki di mana kita berjalan," kara Mgr Khaled.

Oleh: Antonius E. Sugiyanto
Felecia Permata Hanggu
Source: Majalah HIDUP, 15 Juli 2018