Buka Rakornas KMHDI, Wiranto: Indonesia Menghadapi Ancaman Total

Denpasar - Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kini tak hanya sebatas menghadapi kemungkinan ancaman invasi militer semata, melainkan sejumlah ancaman yang lebih fatal. Ancaman saat ini sudah multi dimensi. Oleh karena itu, bisa dibilang Indonesia menghadapi ancaman secara total.

Demikian salah satu poin yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Jenderal TNI (Purn) Wiranto saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) XIII Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) sekaligus menjadi keynote speaker pada kuliah umum bertema Teguhkan Ideologi Bangsa untuk Indonesia Berdaulat di Gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar, Kamis (31/8) kemarin.

Hadir dalam kegiatan tersebut, perwakilan Kemenpar RI, Kabarhakam Polri, Komjen Pol Drs. Putut Eko Bayu Seno, Ketua PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta, DPD RI, Gede Pasek Suardika, Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta, Ketua Forum Alumni KMHDI, I Ketut Udi Prayudi, Polda Bali, PPTP Kemhan, Danrem 163/Wira Satya, organisasi kepemudaan nasional Cipayung Plus, KPU Bali, Bawaslu Bali, Kanwil Kemenag Provinsi Bali, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bali.

Wiranto menyatakan, pada zaman dulu ancaman terhadap negara hanya sebatas ancaman konvensional, khususnya invasi militer. Sedangkan sekarang ancaman yang lebih fatal, seperti terorisme, narkoba, human trafficking, radikalisme, separatisme, pornografi, illegal logging, illegal fishing, serangan cyber, mafia perdagangan, sehingga multi dimensi. "Pendek kata, kita menghadapi ancaman yang total dan semesta," ujarnya.

Perubahan ancaman tersebut, kata dia, tidak terlepas dari arus globalisasi dan perkembangan kehidupan manusia itu sendiri. Salah satu contoh, kata dia, saat menjabat sebagai Menkopolkam tahun 2000 lalu, pengguna internet di Indonesia baru sebatas1,9 juta dengan jumlah handphone hanya 20 juta.  "Tapi sekarang, 17 tahun kemudian, pengguna internet sudah mencapai angka 132 juta dengan jumlah handphone mencapai 300 juta. Padahal jumlah penduduk kita hanya 156 juta. Satu orang bisa memiliki lebih dari satu handphone," jelasnya.

Sehubungan dengan hal itu, lanjut dia, penyebaran informasi sangat cepat. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang atau kelompok yang menyalahgunakan pemanfaat teknologi informasi tersebut. Khususnya adalah penyebaran informasi SARA, radikalisme, dan sebagainya. Dengan demikian, mahasiswa sebagai central of excelent atau pusat kecerdasan bangsa, khususnya KMHDI diharapkannya mampu menyaring segala macam informasi yang bermanfaat, lanjut menyebarkan ke masyarakat.

"Ada tiga hal yang penting bagi kita sebagai bangsa Indonesia, yakni ada rasa memiliki Indonesia, wajib membela negeri yang kita cintai, dan berani mengintrospesi diri serta memberikan koreksi positif dan konstruktif jika ada kesalahan dalam negeri," tegasnya.

Senada dengan hal itu, Wagub Sudikerta juga menekankan agar generasi muda, khususnya mahasiswa tidak terpancing fanatisme sempit hingga isu SARA. "Generasi muda berkewajiban mengisi diri dan kemerdekaan. Generasi muda Hindu harus berada dalam garda terdepan dalam membangun peradaban," ungkapnya saat membacakan sambutan Gubernur Made Mangku Pastika.

Bali dikatakannya sangat heterogen, karena hampir semua suku bangsa di dunia ada di Bali. Apalagi Bali merupakan pusat kajian Hindu dunia. Oleh karena itu toleransi dan keterbukaan umat Hindu sangat penting dengan tidak meninggalkan akar budaya Bali yang harus tetap dikuatkan.

"Ada konsep wasudewa kutumbhakam, kita semua bersaudara untuk menjaga Bali aman maju dan sejahtera," tegasnya. Ia pun berharap, Rakornas KMHDI XIII mampu menghasilkan butir-butir pendalaman agama Hindu guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia Hindu di Indonesia.

Presidium KMHDI, Putu Wiratnaya, mendukung pemerintah dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap bangsa dan negara Indonesia. Ia juga sepakat, isu SARA sangat berbahaya bagi kesatuan bangsa. Dengan demikian, ia mengajak seluruh generasi muda, khususnya mahasiswa untuk lebih bijak dalam menelaah informasi di media sosial. "Isu SARA sangat berbahaya, apalagi diekspos di media sosial. Oleh karena itu, saya mengajak saudara-saudara generasi muda untuk memilih dan memilah info yang benar dan tidak," tegasnya seraya mendukung Perppu nomor 2/2017 tentang ormas.

Sementara itu, Ketua Panitia Rakornas XIII KMHDI, Wayan Suartika menyampaikan, tujuan Rakornas tersebut untuk koordinasi dan konsolidasi internal terkait masalah terkini bangsa Indonesia dari sudut pandang mahasiswa Hindu, termasuk penentuan rumah Mahasabha XI. Kegiatan dihadiri oleh 15 Pimpinan Daerah, 27 Pimpinan Cabang, dan 6 Komisariat KMHDI dari 20 provinsi di Indonesia. "Kegiatan akan berlangsung selama lima hari, yakni hingga 3 September 2017 mendatang," terangnya.

Source: jawapos.com