Artikel Terbaru

Benar dan Salah

kategori: Artikel Baru
Benar dan salah atau Dharma dan Adharma adalah istilah yang sifatnya relatif. Amat sulit untuk mendefenisikan istilah ini secara tepat. Bahkan orang-orang yang bijak pun dalam keadaan tertentu kadang-kadang kebingungan dalam mendapatkan makna apakah benar dan salah itu. Itulah sebabnya mangapa Sri Krsna menyabdakan dalam Gita sebagai berikut: selengkapnya

Yoga Ilmu Batiniah

kategori: Artikel Baru
Setiap jiwa mengandung daya keillahian.Tujuannya ialah untuk memperlihatkan keillahian yang ada di dalam batin kita,dengan jalan mengontrol sifat-sifat kita, jasmaniah dan batiniah. Praktekkanlah ini melalui kerja, atau bakti, atau latihan-latihan batin, mempelajari filsafat-filsafat, dengan jalan satu, atau lebih dari praktek-praktek tersebut di atas-dan capailah kebebasan. Ini adalah keseluruhan dari agama. Doktrin atau dogma,atau upacara-upacara, buku-buku, tempat-tempat pemujaan, bentuk-bentuk lainnya, hanyalah soal-soal detail dan mengambil tempat nomor dua. selengkapnya

Pentingnya Kekayaan Ilmu Pengetahuan

kategori: Artikel Baru
Sepi, sunyi........., demikian digambarkan jika ada yang terasa kurang. Bagaikan kecanduan menguyah sirih, akan terasa ada yang kurang jika belum mendapatkanya. Demikian pula dalam kehidupan berumah tangga, jika tidak memiliki keturunan terasa kurang lengkap. Lebih-lebih hidup bermasyarakat, jika tidak ada yang memimpin maka masyarakat akan kacau tanpa arah, tanpa tujuan. Lebih berat lagi adalah jika tidak memiliki artha (kekayaan) maka terasa ketiga kesunyian di atas berkumpul pada dirinya. selengkapnya

Bima Tokoh Jujur

kategori: Artikel Baru
Bima adalah anak kedua dari Kunti dengan Pandu, tapi Bima lahir dari peyatuan Kunti dengan Dewa Bayu atau Dewa Angin. Nama lai dari tokoh Bima adalah Raden Werkodara, Bhimasena, Bayusuta dan dalam konteks pewayangan di Bali sering disebut Anak Agung Made. Bima yang lahir dari jelmaan Dewa Bayu (Dewa tenaga nafas) ini indentik dengan simbol dari kekuatan yang dimiliki oleh tokoh Bima. Bayu atau Angin mempunyai Kekuatan untuk menghancurkan dunia mungkin hanya beberapa detik. selengkapnya

Ilmu Tak Diterapkan Menjadi Racun

kategori: Hari Suci
Perayaan Hari Raya Saraswati pada hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung adalah sebagai perayaan untuk mengingatkan umat Hindu agar selalu mencari ilmu pengetahuan sebagai sahabat yang paling utama dalam hidup ini. Artinya, terus belajar mencari ilmu pengetahuan selama hidup di dunia ini. Sedangkan hari Banyu Pinaruh pada hari Redite Paing Wuku Sinta untuk mengingatkan agar umat Hindu mendayagunakan ilmu pengetahuan suci itu sebagai dasar menyelenggarakan kehidupan. selengkapnya

Ayurveda Sebagai Ilmu Kedokteran Hindu

kategori:
Belum banyak orang yang mengetahui bahwa Ayurweda merupakan kitab kedokteran Hindu. Ayurveda diakui para ahli kedokteran modern sebagai suatu sistem pengobatan, dalam pengertian bahwa sistematisasi dan penerapan pengetahuannya khusus mengenai kesehatan dan penyakit, terutama yang menyangkut keadaan keseimbangan dan ketidakseimbangan yang terjadi di dalam tubuh, serta bagaimana cara untuk memperbaiki dan mengen¬dalikan keadaan tidak seimbang itu agar pulih kemballi menjadi seimbang. Di dalam kitab ini ditekankan bahwa prinsip pengo-batannya adalah preventif atau pencegahan, bukan pengobatan atau terapi. selengkapnya

Demokrasi dalam Arthasastra

kategori: Artikel Baru
Atas dasar pengertian, unsur-unsur dan nilai-nilai demokrasi tersebut tulisan ini mencoba menelusuri unsur-unsur negara dalam'buku Arthasastra yang mengandung (benih) aspek atau nilai demokrasi dalam Arthasastra. Untuk itu penelusuran diawali dari pengertian negara yang didefinisikan oleh kautilya Kautnya merumuskan negara sebagai suatu kumpulan dari bermacam-macam masyarakat yang diwujudkan atas dasar prinsip-prinsip militer dan dharma negara melam-bangkan dharma yang universal, yaitu suatu perlambang yang berisikan kebebasan individu. Bagi Kautilya, dharma adalah konsep yang bersifat etis. Dalam konteks individu dharma adalah swadharma atau kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab; dalam konteks kemasyarakatan ia adalah solidaritas sosial; dalam konteks agama yang dipeluk masyarakat ia adalah realisasi diri yang disebut moksa; dan dalam konteks vyavahara, charitra dan peraturan yang diundangkan dharma adalah keadilan. Kautilya meng-anjurkaan agar negara dibangun berdasarkan empat kaki hukum: dharmasastra atau hukum suci, vyavahava atau kesaksian, caritra atau sejarah atau tradisi, dan sasana atau maklumat raja-raja. selengkapnya

Okestra Kasih Sayang Dewi Gangga

kategori: Artikel Baru
Interval kehidupan manusia amat pendek (kadi kedapning kilat). Jika^oleh dibandingkan dengan umur alam semesta, maka umur manusia tidak lebih besar dari waktu yang dibutuhkan elektron untuk mengelilingi inti atom, sebuah satuan waktu yang teramat singkat. Namun dalam jeda itu kehidupan manusia sering hadir dengan warna yang khas untuk mengkonstruksi pelangi peradaban dunia, yang kadang cerah, indah dan mempesona, namun sering juga hadir dengan warna kelabu. selengkapnya

Konsep Taksu dalam Berkesenian dan Kreativitas Seni

kategori: Artikel Pilihan
Jika ditanya apa yang menjadi penentu keberhasilan sebuah pergelaran atau penciptaan seni, hampir dapat dipastikan warga masyarakat Hindu-Bali akan menjawabnya dengan taksu. Masyarakat Bali pada umumnya memandang taksu sebagai kekuatan yang dapat memberi kecerdasan dan kewibawaan kepada pemiliknya Jiwa dan daya pikat bagi karya seni' Pergelaran atau ciptaan seni yang kemasukan taksu akan menjadi hidup dan berjiwa sehingga dapat menggetarkan perasaan para penikmatnya. Sebaliknya, tanpa taksu semuanya itu akan menjadi hampa dan hambar sehingga sulit untuk dinikmati. selengkapnya

Perselingkuhan Kekuasaan dalam Itihasa

kategori: Artikel Pilihan
Ramayana sejatinya banyak memberikan makna khususnya perilaku Rahwana berkuasa sebagai raja. Melalui kekuasaannya Rahwana menculik Sita untuk dijadikan istri, perbuatan ini tentu sangat bertentangan dengan ajaran Dharma. Persistiwa ini sebagai cikal bakal pecahnya perang di Alengka. Sebelum perang dimulai Rahwana berusaha menyeling Sugriwa melalui utusannya. Sang utusan menyampaikan; bahwa Rahwana akan memberikan jabatan yang bagus dan berbagai jenis kekayaan asal mau bergabung dengan Rahwana. Walaupun dengan bermacam jenis siasat liciknya, Sugriwa tetap bertahan kepada pendirian yaitu berpihak kepada Rama. Sugriwa dalam wujud jasmaniah berupa kera mampu berpikir cerdas spiritual, ia begitu setia kepada sahabat yang sangat memegang teguh ajaran Dharma, sehingga ia tidak mudah untuk disogok, mengorbankan kehormatan untuk mendapatkan berbagai macam kekuasaan maupun harta benda. selengkapnya