Artikel Terbaru

(A) musti Muspa

kategori: Artikel Baru
Kehadiran puspa nas harum begitu penting dalam ritus-ritus Hindu. Beberapa jenis bunga menjadi terpilih sebagai sarana maupun symbol Bhatara-Bhatari dilihat dari bentuk, warna, baud an tempat tumbuhnya. Bhagawad Gita IX.26 menjelaskan puspa menjadi salah satu benda alam terpilih sebagai sarana persembahan utama, selain patram ‘daun’ phalam ‘buah’, dan toyam ‘air’. selengkapnya

Kebangkitan dari Ranah Weda

kategori: Artikel Baru
Ranah Weda ialah universum di mana manusia Hindu menjelajah semesta raya ini. Cahaya Weda yang memendar menyinari semesta alam ini menjadi tuntunan subha karma untuk menyirnakan asubha karma. Bila tujuan hidup sesungguhnya adalah moksartham jagadhita ya ca iti dharma (hidup bahagia di dunia maya ini dan di sunya nirbana kelak), maka sesungguhnya kebangkitan imanen dalam ranah weda merupakan esensinya. Dimana esensi kehidupan manusia ialah doktrin subha karma dalam arti hidup dengan segala tingkah laku baik dan mulia sesuai ajaran dharma selengkapnya

Majapahit: Catatan Emas Hindu Nusantara

kategori: Artikel Baru
Kerinduan pada masa lalu seringkali mengemuka tatkala masa kini terasa gamang, rancu tidak beres. Keinginan untuk berada dalam ruang memori boleh jadi terobati oleh fragmen-fragmen kisah-kisah zaman kerajaan. Kita dibawa kealam impresionistik wacana tentang situasi dan kondisi kerajaan, terutama kisah tokoh-tokoh istana atau punggawa kerajaan-kerajaan masa lalu yang jumawa menghadapi segala tantangan hidup. selengkapnya

Pelangkiran

kategori: Artikel Baru
Sri Rsi Anandakusuma dalam Kamus Bahasa Bali, mengartikan kata plangkiran sebagai tempat sajen yang ditempatkan pada kamar (1986). Sejatinya plangkiran telah lama menjadi pilihan untuk menstanakan Ida Sang Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya yang paling praktis, mudah dibuat, didapat, atau ditempatkan, dan memenuhi fleksibilitas fungsi dalam kesederhanaan bentuknya. selengkapnya

Kebangkitan Yoga

kategori: Artikel Pilihan
Banyak orang yang mengira bahwa ajaran Yoga sedang bangkit. Asumsinya dapat dilihat dari semakin banyaknya orang berlatih Yoga. Mereka tentu benar jika kebangkitan yang dimaksud ditentukan dari indikasi bertambahnya orang yang mempraktikkannya, khususnya Yoga asana. Hanya masalahnya adalah apakah kebangkitan Yoga ini bisa berbanding lurus dengan kebangkitan bathin umat manusia? Apakah ada kemungkinan kebangkitan ini nasibnya sama dengan lahirnya masyarakat modern? Modernism dianggap akan mampu membalikkan keadaan masyarakat secara makro dimana masyarakatnya disinyalir akan semakin bahagia. selengkapnya

‘The Golden Management’ Hindu

kategori: Artikel Baru
Manajemen adalah suatu fenomena yang telah ada sejak adanya seseorang menggunakan orang lain untuk memenuhi keinginannya. Dalam hal seni, manajemen merupakan suatu keterampilan seseorang untuk mencapai hasil nyata sesuai dengan yang diharapkan. Jadi hakekat seni dalam menajemen adalah suatu keberhasilan yang nyata dan baik walaupun sifatnya relative (tergantung pada orang, waktu, tempat, dan keadaan). selengkapnya

Mendulang Generasi Emas di Jaman Selaka, Mungkinkah?

kategori: Artikel Baru
Terminologi generasi emas, boleh jadi hanya otopia belaka jika belum terumuskan dengan indicator yang terukur. Dan masalah ini bukan ‘barang baru’ karena diskusi tentangnya sudah lama berlangsung. Menjadi bias ketika batasan waktu untuk memetakannya juga samar. Pembabakan sejarah dengan hanya bertumpu pada angka tahun belumlah tepat, apalagi memakai periode putaran Catur Yuga. selengkapnya

'Nunas Ajengan' Dalam Tradisi Leluhur

kategori: Upacara
Tradisi “melakukan sesuatu” sebelum makan merupakan peradaban sangat kuna. Ia telah eksis pada zaman Yajur Veda paling tidak, yang berarti zaman yang sudah tidak bisa diperkirakan entah oleh ketajaman kecerdasan manusia ataupun oleh mesin paling modern sekalipun. selengkapnya

Banten Sebagai Bahasa Simbol

kategori: Upacara
BANTEN dalam lontar Yajna Prakrti memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sakral. Dalam lontar tersebut banten disebutkan: "Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi, Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara, Pinaka anda Bhuvana". Dalam lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh banten yaitu: "Pinaka Raganta Tuwi" artinya banten itu merupakan perwujudan dari kita sebagai manusia. "Pinaka Warna Rupaning Ida Bhatara" artinya banten merupakan perwujudan dari manifestasi (prabhawa) Ida Hyang Widhi. Dan "Pinaka Andha Bhuvana" artinya banten merupakan refleksi dari wujud alam semesta atau Bhuvana Agung. selengkapnya