Artikel Terbaru

Upacara Otonan dan Penguatan Identitas Kehinduan

kategori: Upacara
Memperhatikan perkembangan masyarakat Bali dewasa ini terdapat gejala menarik yang perlu mendapatkan perhatian serius, yaitu terjadinya perubahan sikap dan perilaku orang Bali secara signifikan. Orang Bali kini cenderung menjadi sangat pragmatis sehingga mengarah pada human ekonomikus. Gejala lain adalah semakin memudarnya kebiasaan membuatkan upacara otonan (peringatan kelahiran yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali) dan digantikan dengan peringatan kelahiran berupa ulang tahun (dirayakan setahun sekali). selengkapnya

Mitos-Mitos Pendidikan Prenatal Menurut Hindu [3]

kategori: Artikel Baru
Semua langkah yang diambil bersumber dan keyakinan akan adanya Samsara atau Reinkarnasi sehingga Jiwatman yang baiklah akan turun untuk merestui kelahiran suputra. Ada kalanya karena bawaan bayi, ibu yang sedang mengandung sering berbuat yang tidak pada umumnya dilakukan. Misalnya, karena perubahan bentuk tubuh dan hawa panas dari dalam membuat si ibu sering "uring-uringan". Dalam keadaan seperti ini suami dituntut selalu bersabar dalam mendampingi istri yang sedang mengandung. Sentuhan-sentuhan langsung, baik dari ibu maupun suami sangat dibutuhkan bayi dikandung seperti dinyatakan dalam sebuah sumber sebagai berikut selengkapnya

Kong Kasmala Kuwong

kategori: Artikel Baru
Pertunjukan wayang menyimpan makna yang senantiasa berguna untuk direnungkan. Mpu Kanwa pun secara khusus menuliskan sebuah perumpamaan yang menarik tentang wayang. Sang kawi ingin menerangkan kepada kita suatu ajaran (lewat tokoh Hyang Indra yang menyamar sebagai pandita tua), bahwa duma yang nampak ini hanya sebuah pertunjukan yang dapat menyesatkan, tetapi tidak dapat menipu orang bijak, orang yang suci. selengkapnya

Dharma Paling Luhur Adalah Mengikuti Kebenaran

kategori: Artikel Baru
Suatu kali ketika Dharmaraja dan Draupadi sedang berada dalam pembuangan, mereka berjalan-jalan di hutan. Pada waktu itu Draupadi melihat suatu buah yang sangat besar di atas sebatang pohon. Ia ingin mendapatkan buah itu karena akan merupakan santapan yang mewah bagi Pandava bersaudara. Dharmaraja menanggapi keinginan Draupadi lalu memanah buah itu hingga jatuh. Kemudian ia berusaha mengangkatnya, tetapi tidak berhasil karena sangat berat. Sementara itu Arjuna datang dan mencoba mengangkat buah tersebut. Dharmaraja dan Draupadi berusaha membantunya, tetapi mereka bertiga tetap tidak mampu mengangkatnya. Sementara itu Bhima, Nakula, dan Sahadewa tiba. selengkapnya

Candi Jawi: Menelusuri Jejak Peninggalan Singhasari di Pasuruan

kategori: Artikel Baru
Candi Jawi terletak di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, sekitar 31 km dari kota Pasuruan. Bangunan candi dapat dikatakan masih utuh karena telah berkali-kali mengalami pemugaran. Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dari kondisinya yang sudah runtuh. Akan tetapi, pemugaran tidak dapat dituntaskan karena banyak batu yang hilang dan baru disempurnakan pada tahun 1975-1980. selengkapnya

Berikan Pendapat Tanpa Marah

kategori: Artikel Baru
Dalam kitab Sarasamuscaya sloka 108 ada petuah yang menyangkut soal kepada siapa kita tidak boleh marah. Sloka itu berbunyi: Devatasu vicesena raajasu brahmanesu ca, atyaantavya bhavet krodha balavrddhaturesu ca. Terjemahan bebasnya adalah: Maka dari itu, hendaknya manusia benar-benar berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, misalnya, terhadap para dewata, terhadap para raja, terhadap para brahmana, terhadap anak-anak, terhadap orang yang lanjut usia selengkapnya

Mitos-Mitos Pendidikan Prenatal Menurut Hindu [2]

kategori: Artikel Baru
Semua langkah yang diambil bersumber dan keyakinan akan adanya Samsara atau Reinkarnasi sehingga Jiwatman yang baiklah akan turun untuk merestui kelahiran suputra. Ada kalanya karena bawaan bayi, ibu yang sedang mengandung sering berbuat yang tidak pada umumnya dilakukan. Misalnya, karena perubahan bentuk tubuh dan hawa panas dari dalam membuat si ibu sering "uring-uringan". Dalam keadaan seperti ini suami dituntut selalu bersabar dalam mendampingi istri yang sedang mengandung. Sentuhan-sentuhan langsung, baik dari ibu maupun suami sangat dibutuhkan bayi dikandung seperti dinyatakan dalam sebuah sumber sebagai berikut. selengkapnya

Mitos-Mitos Pendidikan Prenatal Menurut Hindu

kategori: Artikel Baru
"Air cucuran atap akan jatuh ke pelimbahan juga". "Pantaslah anak itu pintar karena bapaknya seorang Jenderal, sementara ibunya adalah orang yang mampu menduduki jabatan penting di sebuah lembaga yang bergengsi". "Yeh-e kija lakune membah". "Nakalnya anak itu bukan main seperti kelakuan ibunya waktu kecil". "Wah ... Anu pastilah cucu dari pekak atau kakiang Anu". "Yaning suba mula pianakan be jair, jeg suba dueg nyilem", dan sebagainya. Beberapa ungkapan dan pepatah di atas sering terdengar di masyarakat (dan masih banyak ungkapan lain) yang menunjukkan bahwa anak sesungguhnya cerminan dari generasinya terdahulu. Tidak hanya dari orang tuanya langsung, tetapi bisa juga dari generasi sebelumnya. selengkapnya

Dewi Saraswati dalam Kesenian Jepang

kategori: Artikel Baru
Sarasvati 'kekuatan bahasa yang mengalir', adalah Dewi Kebijaksanaan, ibu dari kata-kata yang mengungkapkan Dirinya dalam bentuk kreativitas. Dia adalah energi kata yang yang memberikan inspirasi. Dalam dunia mitos, Dewi Saraswati adalah permaisuri Dewa Vishnu bersama Dewi Laksmi. Di Jepang, Dewi Saraswati (disebut Benten atau Benzaiten) dan Dewi Laksmi menjadi tokoh pada abad ke VIII. Disebutkan di dalam catatan sejarah di Biara Todai-ji bahwa perayaan perdana Kichijo-gekka untuk memuja Dewi Laksmi dan Dewi Saraswati dilaksanakan untuk pertama kalinya pada tahun 722 Masehi. selengkapnya

Mengapa Hindu Indonesia Aneka Ragam?

kategori: Artikel Baru
Beberapa tahun paska Indonesia merdeka Bapak Jawaharlal Nehru Presiden India waktu itu yang sempat bertandang ke Indonesia, ketika kemudian melihat adanya Hindu versi Bali, beliau berkomentar: "I sew Hindu everywhere but lam not recognize it" (saya melihat Hindu ada dimana-mana tapi saya tidak mengenalinya). Maksud kata tidak mengenalinya ini adalah karena "praktek beracara" (meminjam bahasa hukum) dimana agama Hindu itu dalam mempraktekkan atau melaksanakan konsep-konsep ajarannya selalu membaur alias "menjelma" atau bermetamorphosis (muncul dalam bentuknya yang lain) kedalam tradisi, budaya suatu etnis dimana dia berkembang. selengkapnya