Artikel Terbaru

Merawat dan Meruwat Pikiran

kategori: Artikel Pilihan
Cogito ergosum, demikian kata filsuf Rene Descartes yang artinya 'aku berpikir maka aku ada'. Jadi keberadaan, tepatnya kehidupan manusia ditandai dengan berfungsinya kemampuan berpikir. Tanpa berpikir, manusia dianggap "tiada", sering dianalogikan seperti "bangke majalan", tampak hidup, tetapi sebenarnya "tidak hidup", lantaran pikirannya tidak diolahfungsikan. Dikaitkan konsep Tri Pramana, itu artinya elemen pikiran (idep) yang menjadi penciri eksistensi manusia telah kehilangan daya fungsinya, sehingga yang menggerakkan aktivitas manusia lebih banyak karena unsur tenaga (bayu), lalu diwacanakan lewat suara/kata-kata (sabda), baru kemudian dilaksanakan selengkapnya

Ibu dan Tahun Baru

kategori: Artikel Baru
Ibu secara biologis ialah perempuan yang mampu melahirkan anak. Karena ibu memiliki rahim kuat menampung benih kehidupan. Pada ruang rahim yang nyaman benih kehidupan bersemayam menunggu waktu lahir untuk menunaikan tugas kelahiran di dunia yang diterangi mentari. Tergantung harapan seorang ibu agar kelak anaknya menjadi suputra 'anak yang berbudi dan beperilaku luhur'. Itulah keistimewaan ibu dibanding ayah yang menyemai benih di dalam rahim ibu. selengkapnya

Merespon Satyam Siwam Sundaram

kategori: Artikel Baru
Satya (kebenaran), rta (tertib semesta), diksa (kesucian), tapa (pengendalian diri), brahma (pemujaan), dan yajna (persembahan, pelayanan) adalah enam prinsip ajaran Hindu yang harus dilaksanakan demi tegaknya dunia. Keenam prinsip tersebut menurut hemat saya dapat disederhanakan menjadi tiga, yakni kebenaran (satyam, sat), kesucian (siwam, cit), dan keindahan atau kebahagiaan (sundaram, ananda). Satyam di dalamnya mencakup prinsip satya dan rta, siwam mencakup prinsip diksa dan tapa, sedangkan sundaram mencakup prinsip brahma dan yadnya. selengkapnya

Retrospeksi Pendidikan Hindu

kategori: Artikel Pilihan
Sebagaimana dipahami bersama bahwa pendidikan agama dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada dalam agama-agama, sehingga dapat dijadikan acuan dalam berpikir, berkata, dan berperilaku (bertindak). Namun, dalam praktiknya pendidikan agama sering hanya memberikan pemahaman agama yang ekslusif dan dogmatis kepada para peserta didiknya, sehingga sedikit banyak telah menyumbang dan mengabadikan konflik, baik ekternal maupun internal umat beragama. selengkapnya

Resonansi Tattwa Susila Acara

kategori: Artikel Pilihan
Rangkaian tattwa-susila-acara merupakan satu kesatuan yang utuh dalam ajaran agama Hindu. Orang menyebut tiga rangkaian itu sebagai tiga kerangka dasar agama Hindu. Maksudnya ketiga kerangka dasar itu harus dikuasai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. selengkapnya

Menyoal Pilar Keagamaan, Seperti Menerima Pilar Kebangsaan

kategori: Artikel Baru
Hindu, pada akhirnya harus mau melengkapi seperangkat syarat, seperti telah memiliki nama untuk agama, Tuhan, kitab suci, nabi, hari suci dan peranti administrasi lainnya. Andaikan saja sejumlah prasyarat ini dibuka lagi, mungkin Konghucu bukan agama terakhir yang akan diakui dan diterima resmi. Sebabnya, masih banyak "agama lokal" yang masih hidup subur, bahkan ada di tiap daerah seantero nusantara. selengkapnya

Berlindung pada Kebenaran "Satyam"

kategori: Artikel Baru
Kalimat "Satyam eva jayate" yang terdapat dalam kitab Mundaka Upanisad sudah menjadi sedemikian terkenal. Bahkan, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Ashar ketika keluar lapas menikmati kebebasan, di hadapan media menyampaikan Satyam Eva Jayate, tapi ketika ada wartawan menanyakan sambil mengulang kalimat tersebut dengan kata "Jayante", Antasari juga ikut mengucapkan kalimat kurang tepat "Satyam Eva Jayante". Antasari sudah benar menguĀ­capkan jayate akhirnya ikut-ikutan mengucapkan yang kurang tepat secara tata bahasa Sanskerta. selengkapnya

Pemujaan Tri Murti untuk Mengendalikan Perubahan

kategori: Artikel Baru
Menurut keyakinan Hindu, hanya Tuhan yang kekal abadi tidak kena hukum perubahan. Semua ciptaan Tuhan tidak ada yang langgeng di alam semesta ini. Semua ciptaan Tuhan kena hukum Tri Kona yaitu utpati, sthiti dan pralina yaitu tercipta atau lahir, hidup dan lenyap tanpa bentuk. Menurut Bhuwana Kosa IV.33 yang dikutip di atas yang menciptakan hukum Tri Kona; utpati, sthiti, dan pralina itu adalah Tuhan sendiri. Ini artinya tidak ada ciptaan Tuhan yang luput dari proses utpati, sthiti, dan pralina. selengkapnya

Renungkanlah Enam Hal dalam Hidup

kategori: Artikel Baru
Untuk meningkatkan kualitas kehidupan di bumi ini ada dinyatakan dalam Bhagawad Gita XIII, 8 agar setiap saat merenungkan enam hal yang disebut sad anu dharsanam. Enam kelemahan itu kalau tidak direnungkan dapat menimbulkan penderitaan. Tapi kalau direnungkan baik-baik maka dampak negatifnya dapat diperkecil. selengkapnya

Bahaya Bermusuhan dengan Ibu

kategori: Artikel Baru
Dalam suatu kehidupan bersama seperti dalam kehidupan suatu rumah tangga ada saja masalah yang muncul. Kadang-kadang masalah tersebut dapat menguras pikiran dan mental. Misalnya, ada anak yang demikian memusuhi ibu kandungnya, sampai ibunya menjauhinya karena tidak tahan dimusuhi oleh anaknya. Sesungguhnya anak yang demikian itu menurut Sarasamuscaya yang dikutif di atas akan mendapat pahala buruk. Seperti miskin, senantiasa dirundung derita, seolah-olah dunia memusuhinya. selengkapnya