Yoga dan Pengendalian Pikiran

YOGA: PIKIRAN

Ajaran yoga yang paling penting adalah citta wrtti nirodha artinya pengendalian gerak pikiran. Pikiran memegang peranan penting dalam melaksanakan yoga karena ia sebagai rajanya indriya (rajendriya). Dalam melaksanakan yoga seseorang akan mengalami lima perubahan bentuk pikiran yaitu : Pramana yakni pengamatan yang benar, wiparyaya yakni pengamatan yang salah, wikalpa yakni pengamatan yang ada hanya dalam kata-kata, nidra pengamatan dalam tidur atau mimpi, smrti yakni pengamatan terhadap apa yang diingat dari sesuatu yang dialami. Dari perubahan bentuk pikiran inilah Sang Jiwa memandang dirinya lahir, mati, tidur, salah, benar dan sebagainya.

Dari perubahan pikiran ini muncul klesa-klesa (kesulitan) yang merintangi yang menimbulkan kesusahan dan kesedihan hidup ini. Adapun klesa itu : awidya (ketidaktahuan), asmita (kesombongan), raga (keterikatan), dwesa (kemarahan), abhinhvesa (ketakutan). Klesa ini selalu menyertai sulit untuk melepaskan kita harus menghilangkan dengan seksama melalui jalan yoga dengan memusatkan pikiran atau pengendalian gerak pikiran. Dalam memusatkan pikiran pada umumnya seseorang dapat diganggu oleh gerakan tri guna yang menyebabkan kegoncangan dalam pikiran.

Adapun kegoncangan pikiran akibat intensitas tri guna yang sering disebut fluktuasi pikiran yaitu : ksipta yakni pikiran itu tidak diam-diam, mudha yakni pikiran lamban malas, zviksipta yakni pikiran bingung, kacau, ekagra yakni pikiran itu terpusat pada satu objek, nirudha yakni pikiran itu tenang terkendali. Dari sudut pandang fungsi pikiran dapat dibedakan sebagai berikut : manas yakni pikiran yang fungsinya sebagai penerima informasi atau pengalaman dari dasendriya, ahamkara yakni pikiran yang fungsinya mengakui disebut juga ego serba milikku, buddhi yakni inteleks fungsinya menganalisis atau memberi penilaian terhadap informasi atau pengalaman yang disampaikan oleh manas, citta yakni hati nurani disebut juga perasaan batin atau pikiran yang menyebabkan orang dapat merasakan secara halus, menikmati pengalaman hidup secara murni.

Sesungguhnya gelombang pikiran atau gerak pikiran itu dapat dihentikan sehingga ia tenang dan terkendali melalui tahapan-tahapan yoga. Adapun tahapan-tahapan yang menurut Patanjali ada delapan tahapan yang disebut astangga yoga yaitu : yama (pengendalian diri tahap pertama), niyama (pengendalian diri lebih lanjut), asana (sikap duduk), pranayama (pengaturan nafas), pratyahara (penarikan pikiran dari obyeknya), dharana (memegang pikiran), dhyana (memusatkan pikiran), samadhi (luluhnya pikiran dengan atma).

ASTANGGAYOGA

1. Yama = (Ahimsa satyateya brahmacary aparigraha yamah) Yama merupakan pengekangan diri yang terdiri dari ahimsa (tanpa kekerasan), satya (kebenaran), asteya (tiada mencuri), brahmacari (kesucian diri), aparigraha (ketiadaan keserakahan).

2. Niyama = (Saoca santosa tapah swadhayayi-swarapranidhanani niyamah) Sauca (pemurnian eternal dan eksternal), Santosa (kesejahteraan), Tapa (Tahan uji terhadap gangguan), Swadaya (belajar), Iswara-pranidhana (penyerahan diri pada Tuhan).

3. Asana = Sthira sukham asanam (sikap badan hendaknya mantap dan nyaman). Maharsi Patanjali berpendapat bahwa sikap manapun untuk menguasai budhi, tidak terlalu memaksa anggota badan dan yang dapat dipertahankan cukup lama oleh seorang yogi adalah baik baginya. Sikap itu dapat dipilih sesukanya sendiri.

4. Pranayama = Tasmin sati svasa prasvasayor gatiwiccedahpranayamah (pengendalian gerakan nafas masuk dan nafas keluar) : Pranayama artinya pengaturan nafas yaitu puraka, kumbhaka, recaka berguna untuk mengawasi pemusatan pikiran dan penguatan badan.

5. Pratyahara = Svavisaya asamprayoge cittasya svarupa anukara iva indriyanam pratyaharah (pratyahara adalah penarikan indriya oleh pikiran dari objek-objeknya) Pratyahara adalah menarik indriya dari wilayah sasarannya dan menempatkan dibawah pengawas¬an pikiran, bila indriya dapat diawasi oleh pikiran ia tidak akan berkeliaran pada objek yang disenanginya.

6. Dharana = Desa bandhas cittasya dharana (pemusatan pikiran dan satu wilayah mental yang dibatasi) Dharana adalah memegang dan memusatkan pikiran pada sasaran yang diinginkan. Kemampuan untuk memegang pikiran hendak¬lah tetap terpusatkan pada suatu objek.

7. Dhyana = Tatra pratyaya ekatanata dhyanam (aliran pikiran yang terus-menerus menuju tujuan itulah dhyana) Dhyana berarti pikiran tenang pada suatu objek tanpa tergoyahkan oleh gangguan sekelilingnya.

8. Samadhi = Tadeva artha matra nirbhasam svarupa sunyam iva Samadhi (Kontemplasi yang sama bila terdapat hanya kesadaran terhadap obyek meditasi itu sendiri dan bukan pikiran adalah Samadhi) Samadhi adalah persatuan sempurna dari yang dicintai, pencinta dan kecintaan, suatu keadaan kelupaan segalanya, suatu keadaan peresapan yang lengkap.

Demikian sepintas mengenai keadaan pikiran dan bagaimana mengatasi fluktasi atau gelombang pikiran melalui tahapan-tahapan yang disebut astangga yoga. Yang amat penting dalam ajaran yoga adalah pengendalian gerak pikiran dan wiweka jnana  yaitu   pengetahuan   untuk membedakan yang salah dengan yang benar.

Source: I Nyoman Dayuh l Warta Hindu Dharma NO. 481 Februari 2007