Yoga Bagi Masyarakat Modern

Gejala yang nampak dalam masyarakat modern dewasa ini adalah perhatian yang begitu besar terhadap ajaran Yoga. Masyarakat modern mencari kedamaian di tengah-tengan ketergesaan dan otomatisasi. Mereka ingin mendapatkan inti hakekat manusia dalam suasana yang serba pragmatis dan praktis. Sesungguhnya persoalan besar manusia bukanlah masalah-masalah ekonomi, politik atau tekhnologi, tetapi justru tetap suatu pertanyaan yang ada di kedalaman hati manusia itu sendiri, yaitu bagaimana mengerti keberadaan manusia yang terbatas ini, tentang tujuan hidup dan nilai hidup, serta cara untuk mendapatkannya.

Dalam masyarakat modern seseorang disebut mencapai tingkat kesempurnaan dalam hidupnya adalah apabila ia telah mencapai:

1. Aktif bekerja, giat dalam berkarya, dan melakukan pengabdian sosial.

2. Memiliki integritas diri dan kebijaksanaan, serta kematangan jiwa.

3. Memiliki perilaku suci dalam kehidupan.

Kalau diperhatikan dengan seksama ketiga keutamaan tersebut akan sama nadanya dalam petunjuk-petunjuk yoga yang diberikan di dalam kitab suci Hindu seperti Bhagawadgita. Dalam kitab suci tersebut dinyatakan bahwa Karma Yoga dimaksudkan agar orang bisa memahami hakekat kerja di dunia ini yang akan menjamin rasa bahagia. Kerja tidaklah dianggap sebagai beban berat yang terpaksa harus dilakukan. "Laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa mengharapkan keuntungan, sebab kerja tanpa keuntungan pribadi membawa orang ke kebahagiaan tertinggi" (Bhagawadgita, bab III sloka 9 ).

Melalui Jnana Yoga, pengetahuan akan kebenaran yang sejati menyebabkan orang menjadi bijaksana. Orang yang bijaksana tak diragukan lagi akan berbahagia dalam perjalanan hidupnya. "Dimana dijumpai kebahagiaan tertinggi dengan akal budi (intelek) di luar panca indra, di sana ia mencapai tujuan dan tiada lagi jatuh dari kebenaran". (Bhagawadgitha bab VI, Sloka 21).

Sedangkan melalui Bhakti Yoga, orang dipastikan menemui kebahagiaan bukan untuk dirinya sendiri, tetapi akan dirasakan oleh sesamanya. Hal ini tiada lain karena cinta kasih yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai sumber cinta kasih yang melimpah bagi manusia dan seluruh mahkluk. "Dia yang mempunyai itikad kebajikan, sikap bersahabat, bebas dari rasa egoisme dan keangkuhan, sama dalam suka duka, rela memaafkan" (Bhagawadgita bab. XII, sloka. 13).

Sat Cit Ananda

Ajaran Yoga tertuang di dalam kitab suci Bhagawadgita. Bhagawadgita berarti "Nyayian Tuhan". Bhagawadgita berisi petunjuk-petunjuk bagaimana manusia dengan hati yang tulus harus menjalani hidup ini hingga akhirnya bisa menemui Sat Cit Ananda, yang tiada lain berarti persatuan dengan Sang Pencipta. dengan memberikan petujuk disiplin diri atau yoga. Bhagawadgita mengajarkan kepada manusia agar hidup diisi dengan aktifitas kerja, berbakti kepada Sang Pencipta sekaligus melakukan renungan-renungan suci dalam proses persatuan dengan-Nya.

Ajaran Bhagawadgita dituangkan dalam bentuk dialog antara Arjuna dengan Krishna. Arjuna Merupakan lambang dari diri kita sendiri, sedang Krishna adalah penjelmaan Tuhan yang membawa ajaran yoga bagi kebahagiaan hidup manusia. Dialog tersebut berlangsung dalam suasana menghadapi pertempuran besar Bharata Yudha di medan perang Kurukshetra. Bagian awal kitab ini mengisahkan bagaimana Arjuna sebagai ksatria utama Pandawa merasa ragu-ragu akan tugas dan kewajibannya menumpas musuh yaitu Kaurawa. Arjuna merasa khawatir karena keluarga Kaurawa yang meskipun menjadi musuh tetapi toh juga sesamanya sendiri, bahkan masih saudara seketurunan.

Sebenarnya pertempuran di dalam Bharata Yudha sesungguhnya adalah pertempuran dalam diri manusia sendiri, Pertempuran antara keinginan manusia untuk berbuat baik, dan di sisi lain selalu munculnya keingingan untuk berbuat jahat. Namun demikian pada hakekatnya manusia ingin menemui kebahagiaan dan Bhagawadgita menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati adalah persatuan antara manusia dengan Sang Pencipta yang disebut sebagai menemui Sat Cit Ananda. Sat berarti Tuhan Yang Maha Kuasa adalah kebenaran tertinggi, Cit berarti Tuhan Yang maha Kuasa adalah pengetahuan tertinggi, dan Ananda berarti Tuhan Yang Maha Kuasa adalah kebahagiaan yang tertinggi atau abadi.

Mari kita perhatikan dengan seksama ajaran yoga yang tertuang dalam kitab suci ini yang dapat dibagi menjadi Karma Yoga, Jnana Yoga dan Bhakti Yoga.

Jalan Kerja

Sesuai dengan keadaan manusia yang tercipta akibat adanya hukum alam maka menurut Bhagawadgita tiada seorangpun dapat tidak bekerja walaupun untuk sesaat karena dengan tiada berdaya manusia dibuat bertindak oleh hukum alam. Persoalannya kemudian bagaimanana manusia harus melakukan kerja itu secara benar sehingga akhirnya manusia sampai pada tujuan utama hidupnya.

Karma Yoga lebih menunjuk pada sifat Sat dari Tuhan. Tuhan sebagai Pencipta adalah maha adil, tidak pamrih, karena beliau adalah segalanya. 'Manusia juga diharapkan bersikap seperti itu, yaitu tidak pamrih dalam segala tindak kerjanya. Hanya dengan demikian manusia dapat menemui kebahagiaan sejati. Pedoman pentin bagi seoran Karma Yogin adalah ucapan di dalam Bhagawadgita bab IV sloka 18 sebagai berikut: Dia yang melihat tidak kerja dalam kerja, dan kerja dalam tidak kerja, dialah orang bijaksana atau yogi, walaupun ia terus bekerja. Bekerja dalam tak kerja berarti bahwa kerjanya itu tidak disertai ikatan atau mengharapkan hasil, tak ada pamrih atas hasil kerjanya. Bila orang bekerja dengan pamrih, dan hasilnya gagal, maka oang akan bersedih dan semakin jauh dari rasa bahagia. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa manusia tidak perlu bekerja saja, atau bermalas-malas saja. Orang yang bermalas-malas irupun bisa kita sebut bekerja, karena dia juga mengharapkan hasil dari bermalas-malas. Orang yang bekerja tanpa pamrih bagi kepentingan pribadi merasa bahwa kerjanya bukan suatu paksaan , bukan sebagai suatu beban yang harus ditanggung. Itulah, maksudnya kalimat "Tak kerja dalam kerja". Bhagawadgita menyuratkan: tanpa mengharapkan hasil kerja, selalu bahagia, bebas dari segala ikatan, orang akan menemui kebahagiaan.

Jalan Pengetahuan

Bhagawadgitha menegaskan bahwa persembahan berupa ilmu pengetahuan lebih berkualitas daripada persembahan materi, semua kerja berpusat pada ilmu pengetahuan. Di sini ditekankan sifat Cit dari Tuhan yang Maha Kuasa yang menjadi tujuan manusia. Karena dengan memiliki kesadaran dan pengetahuan yang benar orang akan mencapai tujuan sejatinya. Dengan bekal pengetahuannya orang mampu bekerja dengan lebih tepat, dan dapat mempersembahkan seluru aktivitas kehidupannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ilmu pengetahuan sejati tiada lain adalah cahaya yang bersinar dalam kesadaran manusia yang menyatakan bahwa inti dari hakekat diri manusia sama dengan Tuhan Yang Maha Cahaya. Oleh karena itu sudah selayaknya manusia memiliki pengetahuan sebagaimana ditunjukkan dalam ajaran Jnana Yoga dalam Bhagawadgita :Walaupun seandainya engakau paling berdosa di antara manusia yang memiliki dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan lautan dosa akan kau seberangi. (Bhagawadgita. Bab. IV. Sloka 36).

Selanjutnya kita dalami makna Bhakti yoga. Seorang bhakta atau dia yang telah melaksanakan bhakti Yoga adalah orang yan telah merasakan kehadiran Sang Pencipta dalam hidupnya. Kata kuci bagi seorang bhakta adalah kata Ananda, yang berarti kebahagiaan sejati. Seorang Bhakta menempatkan Sang Pencipta sebagai penganugrah kebahagiaan bagi manusia karena Beliau mengalirkan cinta kasih kepada semua mahkluk. Oleh karena itu bilamana seseorang ingin menjadi seorang Bhakta maka dia hendaknya selalu mencintai, berbakti secara total kepada Sang Pencipta. Bhagawadgita menyuratkan : Dengan jalan mengabdi ia mengetahui Aku, betapa agung dan siapa Aku sebenarnya dan setelah mengetahui siapa Aku yang sesungguhya ia kemudian masuk kedalamKu. (Bab. XVIII, Sloka. 55).

Ksatria dan Mahayogi

Dengan demikian ketiga jalan disiplin atau jalan yoga yaitu Karma, Bhakti, dan Jnana Yoga, ternyata ketiganya terkait satu sama yang lain. Oleh karena itu seorang Arjuna sebagai sorang kesatria senantiasa mendekatkan dirinya dengan Krishna sebagai Yogiswara atau Maha Yogi. Sloka terakhir dari Bhagawadgita menyuratkan sebagai berikut: yatra yogesvarah kresno, yatra partho dhanurdharah, dhruva nitir matir mama, tatra srir vijayo bhutir. Artinya: Dimana Krishna yogiswara itu berada dan dimana Arjuna perwira panah itu ada, disana hamba yakin terdapat kemakmuran, kemenangan kebahagiaan dan moral yang tinggi.

Jadi ajaran yoga yang telah ditulis ribuan tahun sebelum masehi ternyata tetap relevan dewasa ini. Yoga mengarahkan manusia untuk hidup dalam kedisiplinan, menegakkan ajaran moral, mengajak manusia untuk giat bekerja tanpa pamrih, mendorong manusia menguasai ilmu pengetahuan. Dan meyakinkan manusia bahwa dengan jalan yoga manusia akan mendapatkan tujuan hidupnya yang tertinggi yaitu Sat Cit Ananda, kebenaran yang tertinggi, pengetahuan yang tertinggi dan kebahagiaan yang tertinggi.

 

Source: Diah l Warta Hindu Dharma NO. 533 Mei 2011