Yang Dikalahkan: Rahwana Bagian Tiga

(Sebelum)

Rahwana lelaki kompleks. Psikiater mungkin sepakat menyebutnya mengalami mental disorder. Wajah memang raksasa banget, tapi seleranya tinggi, selera dewa-dewa. Ketinggian selera itu ia tunjukkan dengan menyendera isteri titisan dewa Wishnu untuk dijadikan pelayan asmaranya. Dari segi ini saja sudah kelihatan ia kontroversial.

Dalam banyak hal, ia sejatinya seorang pengagum keindahan dan kecantikan. Hanya sayangnya, orang-orang sudah terlanjur mendiskriditkannya selama berabad-abad, tanpa sedikit pun pernah berpikir positif tentang dirinya. Dari lahirnya Rahwana sudah menerima ketidakadilan ini. Dan lama setelah ia dikabarkan mati dalam cerita, sampai sekarang, orang masih memandangnya dengan sebelah mata. Sejumlah kelebihan dan kebaikan hatinya total hilang, seakan ia adalah kumpulan yang buruk-buruk.

Menurut babadnya, beliau keturunan bangsawan raksasa. Beliau bukan saja tercatat sebagai pemilik ribuan hektar tanah, baik warisan maupun rampasan, ratusan bangunan mewah di dalam dan di luar kotaraja, koleksi berbagai kendaraan emas kencana manikam, ia juga dikenal sebagai lelaki pemegang hak mengatur hidup orang banyak, mengendalikan pikiran orang banyak, dan termasuk hak membasmi orang banyak. Ia lelaki sejati yang dicemburui. Di istananya ada perpustakaan khusus tentang ajaran kebijaksanaan dan ajaran kepintaran. Di istananya juga banyak dan sering berkumpul orang-orang bijaksana dan orang-orang pintar.

Karena hak istimewa itu ada di ujung lidah dan di ujung jari telunjuknya, ia pun punya banyak pengikut, penggemar, pencinta, dan simpatisan, yang duapuluh empat jam sehari siap mengorbankan nyawa dan harta baginya. Karena itu pula, dengan sendirinya ia punya banyak kelompok pembenci, pendendam, musuh yang siang malam mendoakan kejatuhan dan kematiannya. Kelompok pengikut dan kelompok pembenci, dengan caranya masing-masing terus berpikir tentang Rahwana. Itulah sebabnya, Rahwana terus ada di pusat. Pengikut dan pembenci bekerja keras membuat beliau selalu ada. Sejarah bergerak karena tokoh seperti ini. Kebudayaan menjadi dinamis oleh orang-orang seperti ini. Orang seperti ini seperti WC, tidak disenangi tapi dibutuhkan. Kisah Ramayana berputar karena tokoh seperti dirinya.

Pengikut setia menyebut beliau seorang maharaja, pelindung, pemimpin kebanggaan, berwibawa, cerdas, dan sakti. Pembenci setia menyebutnya pemimpin gerombolan raksasa, kelompok raksasa pengacau keamanan, tokoh anti Dharma, anti sosial, dan nirsastra. Kita sebagai pembaca tidak mau dipengaruhi oleh kedua kelompok itu, yang masing-masing berkomentar sesuai dengan kepentingannya. Pembaca pun harus berani mengedepankan kepentingannya. Apalah kepentingan seorang pembaca kalau bukan menemukan sisi-sisi lain yang tidak pernah diungkapkan oleh bahasa, sehingga teks menjadi selalu baru. Dalam kasus seperti ini, pembacalah yang menciptakan teks, bukan pengarang.

Rahwana bukannya tidak tahu dirinya disebut soroh raksasa. Instingnya yang tajam, menyerap hampir semua rumor tentang diri, keluarga, dan soroh-nya. Tapi ia tidak sudi berbuat apa pun, atau mengeluarkan pernyataan apa pun untuk sekadar membuktikan rumor itu benar atau salah. Tidak pula ia melawan pencitraan negatif dengan membuat citra baru. Ia cuma tidak perduli! Juga tidak perduli dengan pembunuhan karakter yang dilakukan pihak musuh, para pembaca, bahkan kelompok pengarang atas dirinya. Ia percaya diri. Berbagai black campaign [kampanye sesat] tentang dirinya tidak akan menggoyahkan keyakinan-keyakinan hidup yang ia pegang.

Ketidakperdulian itu merupakan salah satu kehebatan di antara banyak kelebihannya. Ketika di lingkungannya banyak bermunculan kelompok perduli ini dan perduli itu, ia tetap konsisten dengan ketidakperduliannya. Banyak orang mengatakan ketidakperdulian Rahwana karena ia seorang raksasa. Perkataan itu tentu saja terlalu sederhana untuk jiwa Rahwana yang kompleks. Terlalu menggampangkan sesuatu yang pasti tidak segampang itu. Ia bisa bersikap cuek dalam keadaan segenting apa pun. Justru karena ia punya pandangan tentang mana esensi dan mana kulit pembungkus. Pandangannya khas, dan tidak mampu dikonsumsi orang kebanyakan.

Pembunuhan karakter hanyalah perbuatan para pengecut yang pasti itu bukan dirinya. Pembunuhan karakter adalah gerakan permukaan yang tidak menyentuh akar. Pembunuhan karakter tentang sekuntum bunga mawar, entah mawar itu dikatakan berduri, entah dikatakan bunga dari gunung, tidak membatalkannya menyebar bau harum dan menampakkan aura warna-warna. Tapi Rahwana menjadi terkenal di seluruh dunia bukan karena ke-cuek-an dan kekhasan pandangannya. Sebaliknya, justru karena hal sepele menurut kelas maharaja, melarikan isteri orang. Kontroversial! Kisah pelarian dan penyanderaan isteri orang itulah yang kemudian dikembangkan oleh pengarang menjadi batang cerita Ramayana. Orang-orang dari jaman ke jaman ternyata senang dengan cerita model ini. Oleh karena itu, isu melarikan isteri orang yang sejatinya terjadi tiap hari dalam segala tingkatan kehidupan, menjadi isu yang heroik, sakral, kolosal, fenomenal dan laku dijual.

Apakah Rahwana menjadi jatuh derajat, karena melarikan isteri orang? Tidak mudah menilainya. Ia memang menjadi mati. Tapi ia mati sebagai seorang ksatria yang kalah berperang. Kalah dan menang bukan ukuran. Tapi berperang tidaknya, itulah ukuran seorang ksatria pada jamannya. Apakah Rama menjadi naik derajat karena berhasil merebut kembali isteri yang kemudian ia sangsikan kesuciannya? Tidak gampang. Karena Rama adalah tokoh yang sudah jadi. Ia tidak bisa lagi jatuh. Banyak pembenaran membela kelahiran dan keberadaannya di dunia. Dalam banyak hal, ia sudah tidak tersentuh. Yang masih dalam proses pergolakan adalah Rahwana dan Shita. Karena itu, keduanya menarik ditonton naik turun dan maju mundur emosinya.

Shita tertutup matanya oleh berbagai ajaran dan keyakinan. Sehingga ia tidak bisa melihat Rahwana dari sisi lain. Ia hanya tahu Rahwana orang jahat dan suaminya orang baik. Kejelasan pandangan ini membuatnya tegas. Sedangkan Rahwana matanya masih terbuka. Ia melihat banyak kemungkinan. Ia tidak selalu melihat dirinya baik, tidak juga sebaliknya merasa diri jelek. Ia mengembara ke dunia manusia dan dunia dewa-dewa. Tapi dunia raksasa tidak dibuangnya. Rahwana jauh lebih kompleks daripada Shita dan Rama. Karena ia belum jadi. (Lanjutan)

Source: Ibm Dharma Palguna