Yang Dikalahkan: Rahwana Bagian Dua

(Sebelum)

Pengarang berhasil menggambarkan betapa setianya Shita kepada suami, suami resminya dari upacara dewasaksi dan manusasaksi. Gempuran rayuan Rahwana, tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam, ia tampik. Teguh ia pada janji pernikahan.

Keberhasilan Shita bertahan dan mempertahankan kesuciannya adalah kegagalan Rahwana. Begitu yang nampak dari cerita. Tapi seorang pembaca yang berpikir akan segera tahu, ada keberhasilan lain yang tidak dimunculkan ke permukaan cerita. Yaitu keberhasilan Rahwana. Ia berhasil tidak memaksakan kehendak. Ia berhasil mencegah diri melakukan tindak kekerasan sesksual. Ia berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu, dan mengendalikan amarah. Karena beliau terbukti tidak memperkosa Shita. Begitu yang kita ketahui dari cerita.

Ada yang aneh. Perjalanan cerita seperti menuju antiklimaks. Rahwana pada mulanya menggunakan berbagai tipu muslihat untuk mengeluarkan Shita dari lingkaran mistis yang melindunginya. Tidak mempan satu jurus tipuan, ia ganti dengan jurus andalan lainnya. Dan jurus tipuan paling ampuh akhirnya meruntuhkan pertahanan Shita: yaitu jurus kepanditaan. Rahwana berhasil karena menyamar sebagai pendeta yang tahu sastra, keindahan, kebenaran, dan agama. Pada tahap pendakian ini pembaca diajak berpikir oleh pengarang bahwa Rahwana punya karakter buruk, penipu, licik, banyak akalnya.

Pendakian selanjutnya, ketika Rahwana berperang mati-matian mempertahankan perempuan tangkapannya dari serangan manusia-burung, bernama Jatayu yang hendak merebutnya. Nampak Rahwana seorang lelaki sejati, sakti, dan tidak begitu saja menyerahkan tangkapannnya pada soroh [turunan] burung yang mengaku kenal dengan suami korban. Dari pelukisan perang itu nampak betapa penting dan besarnya nilai perempuan-Shita bagi Rahwana. Ia mempertaruhkan nyawa, badan, dan hargadiri untuk itu.

Tapi, kenapa setelah berhasil menempatkan Shita di sebuah sangkar istananya sendiri, ia tidak menyentuhnya. Ia hanya mengunjungi dan merayunya dengan kata-kata manis dan hadiah ini itu. Gagal rayuan hari ini, tidak membuatnya berkecil hati. Ia ulangi esok harinya dengan rayuan yang ia pikir lebih bagus. Karena itu pun ternyata gagal, ia ulangi lagi pada kesempatan lain. Begitu seterusnya. Ia tidak lagi menggunakan tipu muslihat. Ia tidak berpikir untuk melakukan satu tindak kekerasan seksual. Ia menanti. Ia sabar. Pada bagian ini pembaca diajak berpikir bahwa Rahwana tidak main asal sikat, seperti umumnya raja-raja, seperti umumnya raksasa, seperti umumnya lelaki. Padahal sebagai maharaja ia bisa saja melakukan itu. Tapi, ia tidak.

Kenapa Rahwana sesabar dan sebaik itu? Usahanya menipu Shita dan perangnya melawan Jatayu ketika mempertahankan tawanan Shita, seperti menemui antiklimaks. Rahwana tidak menjelaskan sikap terpujinya itu. Pengarang juga tidak menyebut-nyebutnya sebagai kebaikan Rahwana. Kritikus sastra juga tidak menyinggungnya. Karena kebanyakan kritikus mengikuti pola pikir tradisi yang hitam putih. Kalah dan menang. Baik dan buruk. Oleh karena itu, pembaca kritis boleh menafsir barangkali Rahwana adalah pemuja cinta kelas berat. Tanpa dasar cinta, persenggamaan sepihak tidak dilakukannya. Sebagai pemuja cinta, Rahwana terus berusaha merebut hati Shita. Kata-kata yang manis, hadiah ini dan itu, bunga warna-warni, harum semerbak, keindahan taman, dan kenyamanan tempat tinggal dijadikannya sebagai sarana negosiasi cinta. Sepertinya Rahwana ingin mendapatkan cinta dengan jalan cinta. Ini sangat bertolakbelakang dengan tipu muslihat dan perang yang telah ia lakukan untuk mendapatkan Shita.

Rahwana sangat sabar menanti turunnya anugerah Dewa Cinta berupa penyerahan diri Shita kepadanya. Kesabaran Rahwana patut diacungkan jempol. Karena bukankah jarang ada manusia bisa seperti Rahwana, apalagi ia telah secara resmi diklasifikasikan dalam soroh raksasa.

Setiap saat ia membujuk Shita agar keluar dari telaga Rama, dan berenang menjadi ikan bebas di telaga Rahwana. Gagal dengan rayuannya, ia tak putus asa. Dicobanya lagi keesokan harinya. Gagal lagi dan dicobanya lagi. Rahwana memperjuangkan cintanya tidak dengan tindak kekerasan. Rahwana mencari cinta dengan cinta. Rahwana memancing cinta dengan umpan cinta. Rahwana menghormati perempuan. Ia rupanya sedang menuju apa yang ribuan tahun kemudian di masa depan disebut kesetaraan gender.

Dengan kesaktiannya, kalau mau, Rahwana bisa saja memperkosa Shinta. Tapi kenyataannya sampai cerita berakhir, tidak ada satu adegan perkosaan pun yang terbaca. Rahwana sabar dan mampu mengendalikan nafsu birahi. Ini adalah juga kelebihan Rahwana yang jarang diapresiasi orang. Manakala ribuan pertapa dikisahkan selalu jatuh bangun mengendalikan nafsu seks, Rahwana dalam kasus Shita, entah bagaimana caranya, berhasil mengendalikannya.

Rahwana lelaki yang kompleks. Apa yang disebutkan di atas, barulah beberapa sisi. Ia masih memiliki banyak sisi lain. Sisi-sisi itu masih harus dibaca ulang. Disimak. Ia bukan tokoh sederhana. Setiap penyederhanaan pasti akan gagal untuk memahaminya.

Bahwa Rahwana tidak memperkosa Shita, itulah kehebatan Rahwana. Sebagai maharaja raksasa, ia tentu bisa dan “boleh” memaksakan kehendak, karena setiap ucapannya adalah undang-undang bagi orang banyak. Tapi ternyata sepanjang cerita, dan dari banyak versi cerita yang ada, tak pernah diberitakan Rahwana memperkosa tawanan cintanya.

Bisakah kita membayangkan, apa yang terjadi seandainya Rahwana memperkosa Shita? Bisa. Dan kita tentu memiliki banyak bayangan kejadian yang akan menyusulnya. Salah satunya, perkosaan itu akan menjadi ujian berat bagi cinta Rama, sang suami. Bisakah ia akan menerima kembali isterinya?

Dari cerita kita mengetahui, baru dilarikan dan disandera saja Rama sudah tidak percaya lagi akan kesucian Shita. Sesudah ia berhasil mematikan Rahwana, ia masih harus mengintrogasi isterinya tentang apakah Rahwana sudah pernah menidurinya. Tidak percaya, ia malah mengasingkannya, dan menggelar sebuah upacara bumisaksi. Seandainya Shita sudah ditiduri Rahwana, apa pula kemungkinan reaksinya?

Pengarang tidak berani menguji Rama dengan kasus “kesucian” seperti itu. Pengarang tidak mau mengambil resiko beratnya penceritaan. Jalan “terbaik” adalah mengalahkan Rahwana, dan dalam kekalahannya ia belum sempat menyentuh tubuh Shita. Dan, Rama lulus tanpa diuji. Kepada Rama cukup diuji dengan kesungguhannya mengumpulkan relawan monyet dan strategi perang menggempur Alengka.

Rama menang terhadap musuh dan menang di hadapan cinta. Ia menang dalam pertarungan memahami ajaran, menang dalam mengungkap misteri hidup, dan menang di hadapan dewa-dewa. Tidakkah ia merasa bosan dengan kemenangan-kemenangan itu? Seorang pembaca modern, seperti Anda, bisa jadi cemas bila anak Anda hanya tahu cerita-cerita kemenangan, dan tidak pernah merenungkan arti kekalahan. (Lanjutan)

Source: Ibm Dharma Palguna