Yang Dikalahkan: Rahwana

RAHWANA! Seorang maharaja sakti yang tidak kekurangan perempuan di negerinya, melarikan isteri orang? Ya. Memang begitu di dalam cerita. Tidak lebih dan tidak kurang. Yang dilarikan bukan isteri sembarang orang, tapi istri titisan Dewa Wishnu, yang turun ke dunia untuk menyelamatkan Dharma, Rama. Seburuk itukah nasib titisan Dewa Wishnu yang dari jauh turun ke dunia, dan sampai di dunia isteri beliau dilarikan orang? Ya memang begitu di dalam cerita. Dewa juga manusia. Bermacam kejadian bisa menimpanya. Tak beda dengan kita.

Dalam sejarah Jawa, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung agar mendapatkan Ken Dedes, karena konon tak sengaja Ken Arok suatu hari melihat cahaya menyilaukan keluar dari belahan paha Ken Dedes yang tak sengaja terbuka. Apa yang dilihat oleh Rahwana pada isteri Rama yang ketika itu sedang ada di dalam hutan pengasingan? Entahlah. Rahwana tidak mengenal Ken Arok yang hidup pada zaman berbeda. Sehingga beliau tidak bisa mencocokkan apakah yang dilihatnya sama dengan yang dilihat Ken Arok.

Kenapa Rahwana melarikan isteri orang? Kalau beliau tidak sedang mengalami mental disorder, bisa jadi karena perempuan istri orang itu yang luar biasa. Diagnose mana yang benar? Beda tempat pijakan, maka berbedalah kenyataan yang nampak,  apalagi kalau beda kepentingan.

Pengarang Ramayana yang tiada lain adalah Tradisi yang panjang, secara tidak langsung menerima kedua diagnose itu, plus beberapa alasan lainnya. Ke-disorderan-an Rahwana selain karena kebelet asmara juga karena ia soroh [turunan] raksasa yang memang harus disorder. Sedangkan keluarbiasaan perempuan istri Rama itu, karena ia konon manusia setengah dewa. Jadi, ia memang harus istimewa.

Konflik asmara ini menjadi pas untuk sebuah cerita. Manusia-dewa Vs Manusia-raksasa. Pencitraan melawan pencitraan. Pembaca yang malas berpikir, dapat terlayani keingintahuannya. Karena sudah sangat jelas, siapa putih siapa hitam. Jauh sebelum membacanya, orang juga sudah dapat menebak, siapa menang siapa kalah dalam cerita. Siapa dimenangkan dan siapa dikalahkan di luar cerita. Yang menang dalam cerita bisa kalah dalam realita. Yang kalah dalam realita sering menang dalam cerita.

Tak diketahui berapa umur Rahwana ketika itu. Yang diketahui, ia ngebet pada kecantikan dan kemolekan isteri Rama yang ditemuinya di tengah hutan yang jauh dari rumah masing-masing. Perempuan istri Rama itu bernama Shita, atau sering diucap Shinta, yang sama-sama berarti tanah.

Jatuh asmara itulah awal tragedi karier Rahwana sebagai raja dan sebagai makluk hidup. Dari jatuh asmara itulah cerita mulai mendaki konflik menuju puncak. Dan setelah kisah asmara rumit itu berlalu yang tertinggal juga hanya cerita. Dan cerita itu, dalam tulisan ini, dibaca dengan cara berbeda. Karena figur Rahwana tidak bisa lagi dilihat terbatas sebagai pelaku atau korban. Ia dilihat dari sisi yang lain: sisi yang lupa diungkap bahwa ia juga seorang pemuja cinta yang ikhlas dengan kehendak Dewa Cinta.

Bukan karena kemauan sendiri Rahwana jatuh cinta. Bukan pilihannya bila cintanya jatuh pada perempuan sudah bersuami, sedangkan dirinya sudah beristeri dan beranak. Cinta itu ada dengan sendirinya begitu ia melihat Shita untuk pertama kalinya. Ketika itu Shita sedang berdiri dan entah disengaja entah tidak rambutnya yang panjang telepas dari gulungan dan jepitannya. Mata Rahwana yang menangkap momen indah itu mengirim sinyal ke dalam hatinya. Ia sadar dirinya telah jatuh cinta pada detik itu juga. Dan ketika cinta itu mengalir mencari muaranya sendiri, Rahwana tidak lagi berdaya mengendalikan alirannya. Cinta itu kuat, indah, dan lembut.

Rahwana hanyut, muncul tenggelam dalam deras gelombang. Maka ia pun menyediakan badan, pikiran, dan hatinya sebagai wahana cinta yang tidak biasa: cinta lelaki beristeri kepada perempuan bersuami. Hutan itu sendiri menjadi daerah konflik. Ketika itu tidak dikenal istilah selingkuh.

Ketika melihat Shita sendirian di hutan, Rahwana tidak serta merta menangkap dan melarikannya. Kalau mau, ia pasti bisa dan mampu melakukan itu. Ia ternyata tidak seperti kebanyakan pahlawan yang menangkap perempuan di jalan untuk dijadikan selir. Rahwana menempuh jalan cinta secara alamiah.  Jalan cinta itu penuh dengan spekulasi dan manipulasi. Karena memang seperti itu jadinya perasasan-hati, bila logika telah diracuni oleh gagasan tentang perasaan paling halus bernama Asmara. Karena memang seperti itu jadinya, bila panah Bhatara Kama telah menancap di jantung hati. Maka mulailah Cinta mengendalikan kesadaran Rahwana. Ia mungkin mengalami halusinasi, kepribadian terbelah, dan depresi berat karena tidak mendapatkan pendampingan. Lacurnya, di tengah daerah konflik hutan itu tidak ada yang memberikan nasihat pada Rahwana. Sehingga ia merasa dirinya benar dan hebat.

Rahwana pun mengadakan pendekatan. Ia pancing perhatian Shita dengan mainan kijang emas yang bisa bergerak, bersuara, berlari dan menari. Sebagai seorang ibu rumah tangga, Shita tergoda ingin memiliki umpan mainan  itu, karena ia juga manusia yang ingin punya barang kesayangan, selain mainan yang sudah dimiliki bernama Pikiran dan Perasaan. Sudah lama dan sudah bosan ia bermain dengan Pikiran dan Perasaan selama menjalani hari-hari di hutan. Ia pun ingin mendapatkan selingan. Ia tugaskan Laksamana, adik iparnya, mengejar mainan baru itu. Maka tinggallah ia sendirian.

Kepada hati yang sedang sendirian, hutan berbicara dengan bahasa lain. Namanya bahasa Senyap, bahasa Kesepian, bahasa Sentimental, bahasa Merindu, bahasa Menanti, bahasa Tangis, hasrat ingin diisi, mau dipenuhi. Bahasa itu disebut Sasambatan dalam sastra Bali, Rintihan Kalbu dalam sastra Melayu, Pralampita dalam sastra Kawi, Bhasa dalam sastra Sansekerta. Dalam sastra tanpa aksara dan dalam lontar tanpa tulis, perasaa itu disebut nyapnyap.

Dalam kesendiriannya, Shita memang tidak menulis puisi. Ia juga tidak bernyanyi seperti gadis-gadis India dalam film ala Bombay. Ia tidak mencucurkan air mata seperti dalam fragmen TV Indonesia. Ia sadar, ia sedang merindukan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu bagaimana mengatakannya. Ia tidak sedang merindukan dirinya. Tidak juga ia sedang merindukan pelukan damai suami dewasaksinya. Bukan anxietas, bukan trauma, bukan sedang mengalami kelainan mental. Ia tidak tahu. Ia tidak mau tahu. Ia mau dimasuki, dipenuhi, dibuat merasa berarti.

Kekosongan batin itu seperti berseberangan jauh dengan kepenuhan ajaran [pawarah]. Pada bulan Phalguna [Januari-Februari] ketika angin kencang dan hujan deras, perasaan sentimental para Kawi akan merindukan kehadiran seorang Wiku. Karena Wiku adalah representasi ajaran, simbul kepenuhan atas yang kosong, kestabilan emosi, kemantapan batin, kemenangan atas perasaan, dan janji pengentasan kemeranaan hati. Apalah Pandita Wiku kalau bukan otoritas, kebijaksanaan, kematangan emosi, ketinggian ajaran, kesucian, kepercayaan, perlindungan batin, pencerahan spiritual. Dalam kesendirian, dalam penantian, dan dalam pencarian itu, Shita ternyata akhirnya memang tergoda oleh pandita penyamaran Rahwana.

Ternyata itulah kesalahan besarnya: ia tergoda oleh bayangan seorang Pandita Wiku yang kemudian terbukti palsu. Dengan kesalahan tingkat dasar itu, Shita termanipulasi, dan ia jatuh ke dalam rangkulan Rahwana yang kemudian menerbangkannya ke negeri Alengka. Memasukkannya ke dalam sebuah sangkar rumah maya yang terbuat dari tali-tali ikatan [tresna] Cinta, yang tidak sembarang orang bisa memasukinya bila tidak memegang password-nya.

Rahwana jatuh hatinya oleh cinta. Shita jatuh oleh bayangannya sendiri tentang figur Pandita Wiku. Rahwana dan Shita sama-sama korban. Rahwana dan Shita pasti juga sama-sama pelaku. Shita pelaku yang menyebabkan Rahwana jatuh cinta. Rahwana pelaku yang menyebabkan Shita menanti ada pahlawan yang akan membebaskannya. Kedua korban dan pelaku memerlukan pendampingan mental. Shita didampingi oleh ajaran Kesetiaan. Rahwana didampingi oleh hasrat penyerahan Shita.

Nun jauh di sana, di seberang lautan, di pulau lain, Rama dkk. mengumpulkan relawan para monyet untuk segera diberangkatkan ke Alengka untuk menolong korban pelaku. Maka, dalam kesenyapan hati waspadailah kehadiran Pandita. Itu pesan Shita kepada para Shita muda yang terbelah keyakinannnya antara kebenaran dan pembenaran. (Lanjutan)

Source: Ibm Dharma Palguna