Yang Dikalahkan: Ekalawya

Ekalawya nama seorang anak lelaki yang tidak tahu babad keluarganya. Tidak tahu babad artinya tidak tahu “siapa” dirinya. Lebih lanjut, berarti tidak punya identitas keleluhuran. Identitas yang satu itu pada masanya adalah sebuah harga mati. Maksudnya, banyak orang dinilai [dihargakan] seperti mati tanpa punya identitas yang satu itu.

Tapi Ekalwya sedikit berbeda. Ketidakjelasan identitas masa lalu tidak menghalanginya untuk memiliki sebuah keinginan. Sebagaimana anak pada masanya, ia ingin belajar memanah. Tidak sekadar untuk bisa membentangkan busur, menarik dan melepas anak panah dan mengenai sasaran. Lebih dari itu,  ia ingin menjadi pemanah yang ulung. Maka ia pun mencari guru.

Murid yang siap belajar akan menemukan guru di mana saja. Begitu kata pepatah. Perjalanan Ekalawya bukan untuk membuktikan kebenaran pepatah itu. Tapi ia ingin segera menemukan guru. Ia ingin langsung berlatih. Terus berlatih. Dan berlatih.

Ia tidak tahu, ketika itu yang namanya ilmu memanah diajarkan dalam sebuah sistem bernama perguruan. Ia tidak tahu, bahwa perguruan itu adalah sebuah lembaga yang dibangun dengan aturan-aturan yang kokoh. Setelah perguruan berdiri, aturan-aturan itu dijaga siang malam bergantian oleh para pengawal-ajaran. Mereka siap mempertaruhkan nyawa tujuh turunan untuk membela dan mempertahankan ajaran itu. Itu yang Ekalawya tidak ketahui.

Kehidupannya di hutan menyebabkan ia tak terhubungkan dengan informasi peradaban luhur. Kebudayaannya adalah puncak-puncak kebiasaan hutan. Justru karena ketidaktahuan itu pulalah maka langkahnya ringan menghadap Bhagawan Drona, guru memanah terkenal yang sedang dikontrak untuk mengajar tokoh masa depan bernama Arjuna. Anak hutan itu dengan kebudayaan hutannya menuturkan keinginannya berguru kepada Sang Bhagawan di Kotaraja.

Drona Sang Bhagawan tidak merasakan konflik apa pun di dalam sanubarinya, ketika dengan enteng menolak anak bernama Ekalawya yang datang berjalan kaki dari jauh itu. Sebab musabab penolakkannya melekat pada diri si anak, yaitu tidak memiliki kejelasan asal-usul. Sementara ilmu memanah itu harus diajarkan kepada orang yang jelas, terang, dan bisa dipertanggungjawabkan. Adalah kesalahan guru bila sampai ilmu membunuh itu jatuh ke tangan keturunan pembunuh yang tidak di jalan Dharma. Membunuh itu boleh, asal di jalan Dharma. Karena pembunuhan di jalan Dharma adalah pembebasan roh atau Atma dari kungkungan penjara badan. Yang dimatikan bukan roh atau Atma, tapi sifat-sifat buruk. Begitu penjelasannya lebih kurang dan kurang lebih.

Maka Drona katakan, tidak! Tidak boleh, tidak bisa, tidak pantas, tidak layak, tidak tahu diri. Dalam hatinya beliau tidak sedikit pun merasa kasihan pada anak itu. Pokoknya, keinginannya tidak selaras dengan ukurannya. Menurutnya, keinginan yang kelewatan adalah benih-benih kesombongan. Orang yang sombong adalah orang yang tidak tahu diri. Itulah masalah si anak Ekalawya, ia tidak tahu dirinya. Yang ia tahu hanya keinginannya. Maka, sekali lagi, Drona Sang Bhagawan tidak bergeming ketika mengatakan tidak. Tidak kuping melewati tanduk. Tidak besar pasak daripada tiang.

Selesai? Teryata juga tidak. Bagi orang yang ada di dalam sebuah sistem aturan, larangan seorang bhagawan tentu berarti harga mati yang harus ditaati. Setiap kata sang bhagawan adalah bhisama, fatwa, hukum, kebenaran, dan ikatan. Tapi karena Ekalawya merasa diri bukan siapa-siapa, dan lingkungan hutannya ternyata membenarkan ketidaksiapa-siapaan dirinya, maka ia sama sekali tidak merasa terikat oleh aturan yang ia tidak ikut merumuskannya. Ucapan Drona sudah sangat jelas baginya, beliau tidak mau. Masalah Drona tidak mau menjadi gurunya, itu masalah lain. Kecewa ya dengan sendirinya sudah pasti. Tapi dalam hidupnya, ia sudah jutaan kali mengalami kekecewaan. Jadi, satu kekecewaan tidak akan mengubah apa-apa di dalam samudera kekecewaan.

Dalam hatinya justru mulai tumbuh kesadaran, bahwa seorang Drona tidak boleh membendung sesuatu yang sifatnya mengalir, seperti ilmu pengetahuan. Yang mengalir pasti akan menemukan jalannya sendiri. Itu yang diajarkan oleh alam kepada dirinya ketika sering sedang sendirian di tengah hutan. Walau seandainya batu sebesar bukit menghalangi, aliran itu niscaya akan menemukan jalannya. Mungkin aliran itu akan menyusup ke dalam tanah, dan di bawah tanah sana mencari-cari kemungkinannya. Jutaan kemungkinan ada bagi air di bawah tanah untuk sampai ke samudera. Jika tidak menyusup ke dalam tanah, aliran itu bisa menguap ke dalam udara. Di dalam udara yang tanpa bentuk itu, ia mencari-cari kemungkinannya. Di sana pun ada jutaan kemungkinan bagi air untuk kembali turun menuju samudera.

Ekalawya sadar, sesungguhnya Drona tidak berdaya membendung apa yang ia pikir ia ketahui. Selain tidak berdaya karena keterbatasannya sebagai manusia, Drona juga tidak boleh melawan kehendak alam. Tapi siapa Ekalawya untuk menasehati seorang bhagawan Drona?

Kasihan! Drona sudah ada pada posisi tidak mungkin lagi diberitahu. Karena itu, ia sesungguhnya sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa dikembangkan dari sesuatu yang dianggap sudah selesai. Apalagi yang menyatakan selesai itu adalah dirinya sendiri, lewat sifat bengkung [‘keras kepala’] karena otoritas duniawi.

Si anak Ekalawya meninggalkan guru Drona tanpa kemarahan. Ia memutar arah, sebagaimana ia juga sedang memutar kesadarannya. Arus balik ke gunung. Ke hutan. Penolakan Drona hanya membuatnya semakin cepat dewasa. Membuatnya semakin kuat. Dan membuatnya semakin yakin bahwa ilmu memanah telah memilihnya sebagai murid yang segera akan mempelajarinya.

Dengan kesadaran baru yang tumbuh di dalam ladang hatinya, ia tak lama kemudian menemukan guru lain. Guru itu bernama Tekad, bernama Kesungguhan Hati, bernama Pemusatan Pikiran, dan bernama Penyerahan Diri Pada Segala Tiba. Sebagai monumen kenang-kenangan, sambil terus berlatih ia membuat patung berwajah Drona. Sebelum dan sesudah berlatih memanah, ia memberi salam kepada patung itu. Dan semua itu dilakukannya sendiri di tengah hutan. Ia masih muda. Tidak diketahui berapa umurnya ketika itu.

Apakah pepatah di atas benar, murid yang siap belajar seperti Ekalawya akan menemukan guru, atau akan didatangi guru, atau akan mengadakan guru? Entahlah. Pepatah itu sendiri dibuat jauh kemudian, mungkin ribuan tahun setelah Ekalawya menyelesaikan pelajaran memanahnya di sebuah universitas sepi bernama hutan.

Ekalawya menjadi seorang sarjana memanah. Ia diwisuda oleh hutan tempatnya berguru. Nyanyian burung menjadi musik, ketika ia dipasangi toga oleh rektor bernama Kesenyapan. Toga itu ajaib. Begitu dikenakan, pandangan matanya tidak lagi memandang ke luar. Tapi ke dalam diri. Entah apa yang dilihatnya di kedalaman sana.

Ia yang lahir tanpa babad, belajar di universitas tidak terdaftar, menjadi sarjana tanpa ijasah, kembali pada pekerjaannya sehari-hari membulak-balikkan tanah menanam benih, memetik daun, bunga dan buah. Seperti pohon itu, begitulah hidupnya.

Sedangkan di seberang kehidupan di sana, Arjuna yang lahir berbekal babad yang jelas, belajar di universitas negeri, menjadi sarjana dengan ijasah berstempel resmi, menjadi calon pahlawan yang dielu-elukan oleh kerumunan manusia.

Source: Ibm Dharma Palguna