Yang Bertongkat Tanah

Tongkat bagi seorang pesilat adalah senjata, baik untuk melindungi diri maupun menyerang musuh. Tongkat bagi seseorang yang telah lanjut usia, yang telah renta, adalah sahabat yang membantu berdiri juga berjalan. Tongkat bagi seorang pendeta adalah ciri, entah ciri tua atau ciri yang lain. Sulit untuk menjelaskan arti tongkat bagi seorang pendeta. Ada pendeta yang masih muda usia, juga memakai tongkat, jelas itu bukan pertanda kerentaan. Mungkin tongkat menjadi semacam legitimasi atas ‘kelingsiran’ atau kemapanan spiritual. Tapi apa hubungan tongkat dengan tingkat spiritual?

Spiritual seperti gunung tinggi yang menjulang, dan seorang spiritualis adalah pendakinya. Untuk mendaki gunung tinggi itu, pendaki tidak boleh kehilangan tujuannya. Tidak boleh kehilangan dasar-dasarnya (sesana). Jurang-jurang yang dalam harus diseberanginya untuk sampai ke puncak. Lereng-lereng gunung yang terjal juga harus dilalui. Hutan lebat tempat adanya berbagai macam mahluk harus dimasuki. Tentu merupakan jalan yang sangat berbahaya. Kaki-kaki pendaki yang kelelahan dapat dibantu dengan tongkat. Tongkat adalah sahabat yang membantu menyeimbangkan kaki-kaki jika ia kelelahan agar tidak kehilangan tujuan. Bagi pendaki yang kehilangan tujuan, ia sedang terpeleset dan semoga tidak sampai jatuh ke dalam jurang. Sebab pendaki yang telah jatuh pada jurang yang dalam, terlampau sulit untuk mengulang pendakian dengan tubuh yang kesakitan.

Tongkat bagi seorang kawi adalah lambang. Lambang tidak hanya berarti simbol atau tanda-tanda tertentu. Lambang tersebut dapat berarti sastra. Jadi jelas seorang kawi bertongkat sastra. Selain bertongkat sastra, kawi juga bertongkat tanah. Tanah bukan hanya berarti tempat manusia bangun, tidur, jatuh bangun. Pada tanah manusia itu jatuh, lalu tertidur. Pada tanah pula manusia bertumpu untuk bangun dari tidurnya yang lelap. Tanah juga bukan hanya berarti bumi tempat menusia hidup, juga tempat adanya kematian. Tanah menjadi tempat manusia menikmati segala macam makanan dan minuman maka manusia itu dapat menjaga tubuhnya untuk tetap hidup. Tanah juga menjadi tempat menusia menghirup udara, itu juga berarti menusia hidup karena bernafas. Silahkan bayangkan manusia yang tidak bernafas, apakah ia masih hidup. Tanah memang tempat adanya kematian. Sebab tanah atau pertiwi adalah Sarwa Tattwa. Sebagai Sarwa Tattwa, maka pada pertiwi berkumpulnya segala macam ke-Itu-an.

Tanah bukan juga hanya berarti pertiwi yang menjadi unsur paling kompleks di alam semesta, atau juga unsur besar pembangunan tubuh manusia. Pada tanah inilah tumbuh berbagai macam mahluk hidup. Tumbuhan adalah salah satu contoh selain manusia. Pada tanah, tumbuhan itu bertumpu. Akar-akarnya menyerap air dari dalam tanah. Daun-daunnya berfotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Dengan kata lain, tumbuhan itu juga memerlukan matahari. Karen ada matahari, maka tumbuhan dapat tumbuh normal. Bagi tumbuhan yang tidak mendapatkan cahaya matahari secara berkala dan normal, ia akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya berada. Pada pagi hari, tumbuhan seperti melakukan puja kepada matahari. Apinya adalah api yang tersimpan di dalam batang juga ranting-ranting. Tirtanya adalah embun pagi yang suci dan bening dan matahari juga bercermin di dalamnya. Dupanya adalah asap yang muncul akibat daun-daun yang disinari cahaya matahari. Tumbuhan seperti pendeta yang melakukan puja surya.

Tanah tidak hanya berarti sebagai tempat adanya aroma (baca: gandha). Sifat paling esensi dari tanah memang adalah aroma. Dekatkan pada hidung yang normal dan sehat, bagaimana aromanya tanah sawah. Cium-cium pula bagaimana aroma tanah yang telah menjadi lumpur got. Hirup-hirup aroma yang keluar dari tubuh manusia, baik yang telah ditinggalkan ruhnya atupun yang masih senang jalan-jalan. Semua itu ada aromanya masing-masing. Ada yang apek, wangi, anyir, dan masih banyak lagi aroma yang mungkin dikeluarkan oleh pertiwi. Terutama tubuh manusia yang dikatakan sebagai pertiwi di dunia kecil. Ketika atma masih menunggu tubuh, tubuh itu berkeringat dan mengeluarkan aroma yang khas. Setelah atma itu lenyap dari tubuh, berganti aroma tidak sedap mengarah kepada busuk. Ternyata tubuh manusia itu memang busuk. Kebusukan aroma tubuh dapat pula dicium oleh si empunya tubuh. Barangkali, aroma tubuh busuk inilah yang telah mempengaruhi cara pikir manusia.

Tanah juga dapat berarti semacam alat tulis yang dapat patah dan dapat pula diruncingkan dengan kuku (lih. Zoetmulder dalam Kalangwan). Tanah jika dipikir-pikirkan kembali menjadi mirip seperti kapur tulis. Entah apa warnanya itu belum sama sekali dapat diperjelas. Tetapi dalam hal ini, tanah adalah alat tulis. Alat tulis bagi seorang kawi adalah sebuah tongkat. Karas aresik tanah teken ira n mahas-ahas ikala ning masa kapat; Karas yang bersih dan Tanah sebagai tongkat dalam pengembaraan pada masa Kartika (Agastia, 2008 Kutipan tersebut adalah bagian dari Bahasa Sangupati Salukat. Itu artinya, Tanah sebagai tongkat bagi seorang pengembara yang dalam hal ini adalah kawi. Sebagai tongkat, maka Tanah itu menjadi teman dalam perjalanan. Barangkali inilah yang dimaksudkan bahwa Kawi adalah juga seorang Wiku. Keduanya sama-sama membawa tongkat.

Tongkat adalah sahabat dalam pendakian spiritual, juga pencarian keindahan. Sebagai seorang kawi, Tanah adalah tongkat dalam pencarian keindahan. Penyatuan dengan keindahan itu adalah tujuan seorang Kawi. Maka tidak mengherankan jika seorang Kawi dalam karya sastranya menunjukkan bahwa karya sastra adalah semacam candi. Candi itu menjadi tempat bersthananya Dewa yang dipujanya. Dewa yang dipandangnya berada dalam alam niskala berusaha ‘diturunkan’ ke alam sekala. Jika Dewa tersebut telah berada di alam sekala, maka para kawi merasa dapat lebih mudah melukiskan keberadaannya. Sudah barang tentu, Tanah menjadi bekal penting bagi seorang Kawi.

Kawi yang juga bertindak sebagai Wiku, juga patut memperhatikan pentingnya tongkat. Tongkat yang menjadi bekal dalam menuju kelepasan. Istilah yang digunakan ialah dari rasatattwa ke bhagatattwa. Rasatattwa adalah dunia para kawi yang dicapai dengan mempertemukan keindahan dalam diri dengan keindahan alam, akibatnya mengalami ekstasi estetik, yang sering diistilahkan dengan kalangwan. Bagi seorang wiku yang hendak mencapai kasunyatan, maka kalangwan haruslah dilewati terelebih dahulu. Kasunyatan atau Kalepasan itulah yang diistilahkan dengan bhagatattwa. Maka tongkat Tanah dalam hal ini adalah bekal menuju rasatattwa kemudian mencapai bhagatattwa, singkatnya dari alam keindahan menuju kelepasan.

Oleh: IGA Darma Putra
Source: Majalah Wartam, Edisi 29, Juli 2017